PENGARUH SELF EFFICACY (KEYAKINA DIRI) DAN DISIPLIN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR PAI SISWA KELAS X DI SMK PGRI 2 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017



PENGARUH SELF EFFICACY (KEYAKINA DIRI) DAN DISIPLIN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR PAI SISWA KELAS X DI SMK PGRI 2 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Ponorogo (STAIN)
Dalam Rangka Penyusunan Skripsi


OLEH:

      FIDA LAILA RAHMAYANTI
                  NIM: 210313299

JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH  TINGGI  AGAMA  ISLAM  NEGERI
(STAIN) PONOROGO
JANUARI 2016


       I.            JUDUL PENELITIAN
PENGARUH SELF EFFICACY (KEYAKINAN DIRI) DAN DISIPLIN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN PAI SISWA KELAS X DI SMK PGRI 2 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017
    II.            LATAR BELAKANG MASALAH
Dewasa ini pendidikan adalah suatu yang bukan asing lagi di dengar oleh masyarakat. Pendidikan juga merupakan satu- satunya cara untuk membentuk manusia seutuhnya. Bahkan dapat dikatakan penddidikan sangatlah berperan penting dalam membentuk negara dan yang menentukan maju mundurnya suatu negara. Sasaran utama yang di butuhkan untuk mengembangkan kehidupan manusia tidak lain adalah pendidikan.
Menurut Undang-Undang RI 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 ayat (1): pendidian adalah usaha sadar yang terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaraan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual mengembangkan potensi diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia  serta keterampilan yang diperlukan dirinya, kecerdasan, akhlaq mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[1]
Pendidikan juga merupakan suatu proses yang berkeseninambung yang bertujuan untuk membentuk kedewasaan pada diri anak. Pendidikan dapat mencakup seluruh proses hidup dan segenap bentuk interaksi individu dengan lingkungannya. Baik secara formal, non formal, maupun informal, dalam rangka mewujudkan dirinya sesuai dengan tahapan tugas perkembangannya secara optimal  sehingga ia mencapai sesuatu  taraf kedewasaan tertentu.[2] Pendidikan juga merupakan usaha sadar yang terencana yang dilakukan oleh pendidik untuk mengubah tingkah laku manusia, baik secara individual maupun kelompok untuk mendewasakan manusia tersebut melalui proses pengajaran dan pelatihan.[3]
Pendidikan berfungsi membantu peserta didik dalam pengembagan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan atau nilai- nilai atau melatihkan keterampilan. Pendidikan berfungsi mengembangkan apa yang secara potensial dan aktual telah dimiliki peserta didik.[4]
Kini pendidikan sudah tak seperti dulu ketika zaman penjajahan, dimana yang bisa menikmati  pendidikan hanya orang-orang bangsawan atau menengah ke atas, dan mereka yang pribumi tak dapat menikmati pendidikan karena kelas ekonomi mereka rendah. Namun kini semua orang sudah bisa menikmati pendidikan, karena banyak bantuan dari pihak pemerintah dalam usaha mencerdaskan anak bangsa dengan memberikan banyak subsidi kepada sekolah-sekolah dan universitas-universitas.
Kenapa belajar  sangatlah penting bagi kita generasi muda, bahkan yang tua sekalipun. Ilmu tidak akan pernah ada habisnya untuk digali semakin kita menggali ilmu dengan belajar semakin banyak pengetahuan yang kita dapatkan. Selain belajar kita juga harus memiliki rasa yakin akan kemampuan yang kita miliki. Percuma saja kita belajar, sekolah namun kita tidak pernah yakin bahwa kita bisa menyelesaikan tantangan dan tugas yang telah dihadapkan pada kita. Keyakinan akan kemampuan kita sendiri akan membawa kita pada keberhasilan belajar. Keyakinan dan disiplin  yang baik akan membawa kita pada kebaikan dan keberhsilan belajar, namun jika keyakinan kita tidak baik, makan yang kita yakini itu akan membawa kita pada kegagalan hasil belajar, dan secara tidak langsung dampanya pun akan kita rasakan sendiri. Baik dampak psikologi hingga dampak sosial. Untuk kesempatan kali ini peneliti akan membahas mengenai hubungan self efficacy (Keyakinan diri) dan disiplin belajarsiswa terhadap prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI SMK PGRI  2 Ponorogo . Selain belajar ada hal penting yang mempengaruhi kesuksesan hasil belajar peserta didik, yaitu self efficacy (Keyakinan diri) dan disiplin belajar.
Keberhasilan Pendidikan disekolah dapat diliat dari sejauh mana tujuan pembelajaran itu dapat terealisasikan. Secara umum, hal ini dapat diliat dari dari hasil belajar yang diperoleh peserta didik  dari sekolah itu sendiri dalam setiap preodenya. Hasil belajar merupakan tolak ukur yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa  dalam mengetahui suatu pembelajaran. Dari proses belajar mengajar, diharapkan siswa memoeroleh hasil belajar yang baik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah di tetapkan.  Hasil belajar merupakan penguasaan yang diperoleh siswa setelah belajar mengajar, baik dalam segi pengetahuan, sikap, maupun keterampilan.[5]
Dalam dunia pendidikan, untuk menciptakan manusia yang berkualitas tinggi, siswa harus memiliki hasil pembelajaran yang baik. Hasil yang dicapai oleh setiap peserta didik merupakan gambaran tinggkat pencapaian tujuan pendidikan yang merupakan komponen penting untuk menentukan arah proses pendidikan.
Hasil belajar bukan hanya berupa penguasaan pengetahuan, tetapi juga kecakapan dan keterampilan dalam meliat, menganalisis dan memecahkan masalah, membuwat rencana dan mengadakan pembagian kerja; demikian aktivitas dan produk yang dihasilkan dari aktivitas belajar ini mendapatkan penilaian. Penilaian tidak hanya dilakukan secara tertulis, tetapi juga secara lisan  dan perbuwatan.[6]
hasil belajar yaitu perubahann-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang meyagkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Pengertian tentang hasil belajar sebagaimana diuraikan di atas di pertegas oleh Nawawi dalam K. Brahim (2007.39) yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pembelajaran tertentu.
Dalam  pembelajaran hasil belajar dapat dipengarui oleh beberapa faktor baik dari dalam diri atau luar diri. Faktor Internal mencakup Fisiologi ( kondisi fisik, kondisi panca indra, Psikologi ( bakat, minat, kecerdasan, motivasi dan kemampuan kognitif). Sedangkan faktor eksternal Lingkungan ( alam, sosial). Intrumental ( Kurikulum atau bahan ajar. Guru, sarana dan fasilitas. Manajemen).[7]
Bandura meyakini bahwa self efficacy  merupakan elemen kepribadian yang krusial. Self efficacy ini merupakan keyakinan diri (sikap percaya diri ) terhadap kemampuan sendiri untuk menampilkan tingkah laku yang akan mengggarahkannya kepada hasil yang diharapkan. Ketika self efficacy  tinggi, kita merasa percaya diri bahwa kita dapat melakukan respon tertentu untuk memperoleh reinforment. Sebaliknya apabila rendah. Maka kita tidak mampu melakukan respon tersebut.[8]
Menurut Bandura, dari semua pemikiran yang mempengarui fungsi manusia, dan merupakan bagian paling inti dariteori kognitif sosial adalah efikasi diri ( self efficacy). Efikasi diri adalah “penilaian diri terdapat kemampuan diri untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang ditetapkan”. Efikasi diri memberikan dasar bagi motivasi manusia, kesejahteraan, dan prestasi pribadi. Hal ini terjadi karena mereka percaya bahwa tindakan yang dilakukan dapat mencapai hasil yang diinginkan, meskipun memiliki sedikit insentif untuk bertindak atau untuk bertahan dalam menghadapi kesulitan.[9]
  Jadi  self efficacy (Keyakinan diri) sendiri merupakan sebuah bentuk  kepercayaan diri seseorang dalam melakukan berbagai hal salah satunya yaitu ketika seorang siswa mengerjakan tugas di kelas maka seorang siswa tersebut harus memiliki kepercayaan diri agar dapat mengerjakan tugas dengan baik di kelas.   Namun  jika peserta didik memiliki rasa self efficacy (Keyakinan diri) yang rendah dia kan cenderung memilih tugas yang biasa dan kurang menantang, sehingga peserta didik kurang memiliki wawasan yang luas. Selain itu peserta didik yang memiliki self efficacy (Keyakinan diri) rendah dia akan lebih memilih untuk tidak mengerjakan tugasnya karena memiliki rasa mood yang buruk karena dia tidak yakin akan kemampuan ya dalam dirinya. 
Dalam pembelajran disiplin belajar juga sangat mempengarui hasil belajar. Dimana disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang meharuskan orang tunduk kepada keputusan, perintah, dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain disiplin adalah sikap mentaati peraturan dan ketentuan yang telah diterapkan tanpa pamrih. [10].Dalam konteks belajar di sekolah, ada beberapa bentuk kedisiplinan. Pertama, hadir di ruangan tepatbpada waktunya, Kedua tata pergaulan disekolah, ketiga mengikuti kegiatan ektrakulikuler, Keempat belajar dirumah.[11]
Disiplin membantu anak menyadari apa yang diharpkan dan apa yang tidak diharapkan dan membantu bagaimana mencapai apa yang diharapkan. disiplin akan terbentuk apabila disiplin  itu diberikan oleh seseorang yang memberikan rasa amam  dan tumbuh dari pribai yang berwibawa serta dicintai, bukan dar orang yang yang ditakuti dan berkuasa.
Jadi sudah jelas bahwa self efficacy (Keyakinan diri) dan disiplin  sangatlah penting dalam perkembangan peserta didik khususnya dalam segi hasil belajarnya di sekolah.  Kemampuan seorang anak tidak hanya di tentukan  oleh keterampilan yang dimilikinya akan tetapi prestasi akademik juga sangantlah penting.
            Disini peneliti akan mengupas tentang Hubungan self efficacy (Keyakinan diri) dan disiplin belajar Terhadap hasil belajar PAI di SMK PGRI 2 Ponorogo.
 III.            BATASAN MASALAH
Banyakfaktor atau variabel yang dapat di tindak lanjut dalam pembahasan ini. Untuk itu agar tidak melebar, penelitian ini  dibatasi oleh permasalahan yang berkaitan dengan efikasi diri siswa, dan disiplin belajar dan hasil belajar UAS Mata pelajaran PAI semester Gasal siswa kelas X  di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun ajaran 2016?2017.
 IV.            RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana tingkat efikasi diri siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun Pelajaran 2016/2017?
2.    Bagiamana disiplin belajar sekolah di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun Pelajaran 2016/2017?
3.    Bagaimana tingkat hasil belajar mata pelajaran PAI  siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo Tahun Pelajaran 2016/2017?
4.    Apakah efikasi dan disiplin belajar sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran PAI siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo TahunPelajaran 2016/2017?

    V.            TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka Tujuan penelitian yang ingin dicapai:
1.    Untuk mengetahui tingkat efakasi diri siswa kelas X SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017
2.    Untuk mengetahui disiplin belajar di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017
3.    Untuk mengetahui tingkat hasil belajar mata pelajaran PAI siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017
4.    Untuk mengetahui pengaruh efikasi dan disiplin belajar sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran PAI siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo TahunPelajaran 2016/2017

 VI.            MANFAAT PENELITIAN
            Dalam melakukan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik teoritis maupun manfaat praktis. Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1.    Manfaat teoritis
Akan memberikan lebih banyak kesempatan mengembangkan penelitian tentang efikasi diri siswa dan disiplin belajar yang lebih baik guna meningkatkan hasil belajar siswa dalam mencapai target belajar yang diinginkan, dan sebagai latihan penelitian dalam menerapkan teori-teori yang dadapatkan di bangku kuliah untuk diaplikasikan dalam menjawab permasalahan yang aktual, sekaligus memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan.
2.      Manfaat praktis
a.         Bagi sekolah
            Pengoptimalan lingkungan sekolah yang baik sehingga siswa dapat meninggkatkan hasil belajar, khususnya pada mata pelajaran PAI.
b.         Bagi Guru
     Dapat memberikan masukan bagi guru agar lebih meberikan perhatian terkait dengan pengembangan potensi siswa dari segi efikasi diri.
c.         Bagi Siswa
     Mendapatkan informasi mengenai pentingnya mengembangkan efikasi diri dan disiplin belajar sehingga siswa dapat beljar dengan efektif dan efisien dan menjadi siswa yang berprestasi dalam bidang akademik.
VII.            LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. LANDASAN TEOR
1.    Hasil Belajar
a.       Pengertian hasil Belajar
            Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yag berulang-ulang dalam situsi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan- keadaan sesaat seseoran. Jadi yang dimaksud belajar menurut Good dan Brophy bukan tingkah laku yang nampak, tetapi terutama adalah prosesnya yang terjadi secara internal di dalam diri individu  dalam usahanya memperoleh hubungan- hubungan  baru.[12]
Belajar merupakan suatu poses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Seperti dikemukakan oleh Mouly, belajar pada hakikatnya  adalah proses perubahan tingkah laku seorang berkat adanya pengalaman.[13]
Hasil Belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar sendiri itu merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan prilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan intruksional, tujuan belajar telah telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan intruksional.[14]
Menurut Suprijono, hasil belajar adalah pola-pola perbuwatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Selain itu menurut Lindgred hasil belajar meliputi kecakapan informasi, pengertian, sikap.[15]
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan prilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusian saja.
b.      Klafikasi atau pengelompokan Hasil Belajar
            Menurut Bloom, hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. [16]
1)      Domain kognitif mencakup:
a)      Pengetahuan (Knowledge), yaitu kemampuan untuk menginggat atau menggali kembali yang pernah dipelajari.
b)      Pemahaman (comprehension), yaitu kemampuan untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah diketahui.
c)      Penerapan (application), yaitu kemampuan menggunakan bahan yang dipelajari dalam situasi nyata dan nyata.
d)     Analisis (analysis),  yaitu kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian dan mampu memahaminya diantaranya.
e)      Sintesis (synthesis), yaitu kemampuan membentuk satu kesatuan dengan mebuwat rencana, yang menuntut adanya kriteria untuk menemukan struktur yang dimaksud.
f)       Evalusi (evaluation), yaitu kemampua untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu hal.
2)      DomainPsikomotor mencakup:
a)      Initiatory
b)      Pre-routines
c)      Rountinized
d)     Keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual
3)      Domain Afektif mencakup:
a)      Sikap menerima ( receiving), yaitu kepekaan akan adanya suatu rangsangan dan kesedian untuk memperhatikan sesuatu.
b)      Memperikan respon ( Responding),  yaitu kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan turut berpatisipasi dalam suatu kegiatan.
c)      Nilai ( valuing),  yaitu kemampuan untuk memberikan penilaain terhadap suatu dan memposisikan diri sesuai dengan penilaian itu.
d)     Organisasi (Organization),  yaitu kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman.
e)      Characterization (karekterisasi), yaitu kemampuan untuk menghayati nilai nilai kehidupan dan dapat menginternalisasikannya dalam diri.[17]
c.       Faktor-faktor yang Mempengarui Hasil Belajar
Hasil belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor ekternal) individu. Dibawah ini dikemukakan faktor-faktor yang mempengarui hasil belajar:
a)             Faktor fisiologi
               Secara umum kondisi fisiologi, seperti kesehatan yang prim, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidal da;am keadaan cacat jasmani, dan sebagainya, semua akan membantu dalam proses dan hasil belajar.Selain kondisi di atas, merupakan hal yang penting juga memperhatikan pancaindra. Bahkan dikatakan Aminuddin Rasyad pancaindra merupakan pintu gerbang ilmu pengetahuan (five sense are the golden gate of knowledge). Artinya, kondisi pancaindra tersebut akan memberikan pengaruh pada proses  dan hasil belajar.[18]
b)            Faktor Psikologis
               Banyak faktor psikologis yang dapat mempengarui kuantitas perolehan pembelajaran siswa, diantaranya:
(1)   Inelegensi
         C.P Caplin mengartikan intelegensi sebagai, a) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat efektif, b) kemampuan menggunakan konsep abtrak  secara efektif, c) kemampuan memahami pertalian-perta;ian dan belajar dengan cepat sekali. Proses belajar merupakan proses yang kompleks, maka aspek intelegensi ini tidak menjamin hasil belajar seseorang. Intelegensi hanya sebuah potensi, artinya seseorang yang memiliki intelegensi tinggi mempunyai peluang besar untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik.
(2)   Perhatian 
            Perhatian keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa semata-mata tertuju kepada suatu objek ataupun sekumpulan objek . Untuk dapat mejamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus diharapkan pada objek-objek yang dapat menarik perhatian siswa.
(3)   Minat dan Bakat
         Minat diartikan oleh Hilgard sebagai kecenderungan yang tetap untuk memperhatika dan mengenag beberapa kegiatan. Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan ini baru akan tereliasasikan menjadi kecakapan yang nyata setelah  melalui belajar dan berlatih.[19]
(4)   Motivasi
         Motivasi berarti seni mendorong siswa untuk terdorong melakukan kegiatan belajarn sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Dengan demikian, motivasi merupakan usaha dari pihak luar dalam hal ini adalah guru untuk mendorong, mengaktifkan dan mengerakkan siswanya secara sadar untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.[20]
c)                  Faktor Ekternal
(1)   Lingkungan  terdiri dari: lingkungan (alam dan sosial)
(2)   Intrumental terdiri dari : kurikulum atau bahan ajar, guru atau pengajar, sasarana dan fasilitas, Adminitrasi atau manajemen.[21]
2.      Pendidikan Agama Islam di Sekolah
a.       Pengertian Pendidikan Agama Islam
         Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta diditunan untuk menghortunan untuk menghork untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga menggimani, ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.[22]
         Menurut Zakiyah Derajad Pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menadikan Islam sebagai pandangan hidup.[23]
          Menurut A. Tafsir pendidikan agama Islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai ajaran Islam. Jadi, pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidk dalam mempersiapkan peserta didik untuk menyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[24]
b.    Tujuan Pendidikan Agama Islam
         Pendidikan disekolah atau madrasah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan elalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusi muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, yang yang  ketakwaan, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi ( Kurikulum PAI:2002).
         Dari tujuan diatas,,Berbicara pendidikan agama Islam, baik makna maupun tujuanya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial.  Penanamann nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi anak didikyang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) di akhirat kelak.[25]
c.    Fungsi Kurikulum PAI
1)      Bagi Sekolah/ Madrasah yang bersangkutan:
a)Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam yang diinginkan atau dalam istilah KBK disebut standart kompetensi PAI, meliputi fingsi dan tujuan pendidikan nasional, kompetensi lintas kurikulum, kompetensi bahan kajian PAI, kompetensi tamatan/lulusan, kompetensi bahan kajian PAI, kompetensi mata pelajaran PAI (TK, SD/MI, SMP/Mys, SMA/MA), kompetensi mata pelajaran kelas (Kelas  I. II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, XII).
b)       Pedoaman untuk mengatur kegiatan-kegiatan pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah.

2)      Bagi Sekolah/Madrasah  di atasnya:
a) Melakukan penyesuaian
b)Menghindari keterulangan sehingga boros waktu
c) Menjaga kesinambungan
3)      Bagi masyarakat
a) Masyarakat sebagai pengguna lulusan (user), sehingga sekolah/madrasah harus mengetahui hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam konteks pengembangan PAI.
b)       Adanya kerjasama yang harmonis dalam pembenahan dan pengembangan kurikulum PAI.[26]
a.       Kompetensi Mata Pelajaran PAI Jenjang Pendidikan SMU/ SMK
1)      Mampu membaca dan mengetahui hukum bacaanya, menulis, dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
2)      Beriman kepada Allah SWT, Maliakat-malaikat- Nya, kitab-kitab- Nya, Rasul- rasul- Nya, dan qadla dan qadar dengan megetahui fungsi dan hikmahnya serta terefleksi dalam sikap, prilaku, dan akhlaq peserta didikpada dimensi kehidupan sehari-hari.
3)      Terbiasa berprilaku dengan sifat-sifat terpuji, menghindari sifat-sifat tercela, dan bertatakrama dalam kehidupan sehari-hari.
4)      Memahami sumber hukum dan ketentuan hukum Islam tentang ibadah, muamalah, mawaris, munakahat, jenazah, dan mampu egamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
5)      Memahami dan mampu mengambil manfaat dan jikmah perkembangan Islam di Indonesia dan dunia serta mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.[27]
      Mata pelajaran agama Islam itu secara keseluruhannya dalam lingkup Al-Qur’an dan al-hadis, keimanan,akhlaq, fiqih/ibadah, dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendir, sesama manusia, mahkluk lainnya maupun lingkungannya (Hablun minallah wa hablun minannas).[28]
3.      Efikasi Diri
a.       Pengertian Efikasi diri
            Menurut Alwilso, efikasi diri diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu. Efikasi diri berhubungan dengan keyakinan bahwa diri mrmiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan.[29]
             Efikasi adalah penilain diri apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan.  Efikasi ini berbeda dengan apirasi (cita-cita), karena cita-cita mengambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya (dapat dicapai), sedang efikasi mengambarkan penilaian kemampuan diri.[30]
      Bandura menyakini bahwa “self-efficacy” merupakan elemen kepribadian yang krusial. Self efficacy ini merupakan keyakinan diri (sikap percaya diri) terhadap kemampuan keyakinan diri (sikap percaya diri) terhadap kemampuan sendiri untuk menampilkan tingkah laku yang akan mengarahkannya kepada hasil yang diharapkan. [31]
            Efikasi diri tidak boleh dikacaukan dengan penilaian tentang konsekuwensi yang akan dihasilkan dari sebuah prilaku, tetapi akan membantu mencapai keberhasilan. Orang yang percaya diri terhadap kemampuan akademisnya akan mengharapkan nilai tinggi pada ujian dan mengharapkan mendapatkan pekerjaan yang baik, sehingga mencapai kesejahteraan secara pribadi maupun profesional. Sebaliknya orang yang kurang percaya diri terhadap kemampuan akademik-nya akan membayangkan mendapatkan nilai rendah sebelum mereka mulai ujian.[32]
b.   Sumber Efikasi Diri
1)   Pengalaman Performasi
              Adalah prestasi yang pernah dicapai pada masa yang telah lalu. Sebagai sumber, peformasi masalalu menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya. Prestasi masalalu yang bagus meningkatkan ekspektasi efikasi sedang kegagalan akan menurunkan efikasi. Mencapai keberhasilan akan memberi dampak efikasi yang berbeda beda, tergantung proses pencapaiannya.
2)   Pengalaman Virkulasi
              Diperoleh melalui model sosial. Efikasi akan meningkat ketika megamati keberhasian orang lain, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang yang kemampuannya kira-kira sama dengan dirinya ternyata gagal.  Kalu figur yang diamati bereda dengan diri sipengamat, pengaruh virkulasi tidak besar. Sebaliknya ketika mengamati kegagalan figur yang setara dengan dirinya, bisa jadi orang tidak mau mengerjakan apa yang pernah gagal dikerjakan figur yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama.
3)   Persuasi Sosial
                    Efikasi diri juga dapat diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalui persuasi sosial. Dapak dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang lain dapat mempengarui efikasi diri. Kondisi itu rasa percaya pada pemberi persuasi, dan sifat realistik dari apa yang dipersuasikan.
4)   Keadaan Emosi
              Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengarui efikasi dibidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas, stress, dapat menguragi efikasi diri. Namun bisa terjadi peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) dapat meningkatkan efikasi diri.
c.         Dimensi Efikasi Diri
                    Menurut Bandura (1997), efikasi diri pada tiap individu akan berbeda antara satu individu dengan yang lainnya berdasarkan tiga dimensi. Berikut ini adalah tiga dimensi tersebut:[33]
1.    Dimensi tingkat level
          Berkaitan dengan derajat kesulitan tugas ketika individu merasa mampu untuk melakukannya.
2.    Dimensi Kekuatan
          Dimensi ini berkiatan dengan tingkat kekuatan dari keyakinan atau pengharapan individu mengenai kemampuannya.
3.    Dimensi Generelisasi
          Dimensi ini berkaitan dengan luas bidang tingkah laku yang mana individu merasa yakin akan kemampuannya.
d.        Ciri- ciri Efikasi Diri Rendah dan Tinggi
4.    Disiplin
a.       Pengertian Disiplin
       Kata disiplin berasal dari kata yang sama dengan “disciple” , yakni seseorang yang belajar dari atau sukarela mengikuti seseorang pemimpin. [34]
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, disiplin  diartikan dengan tata tertib dan ketaatan atau kepatuhan terhadap peraturan atau tata tertib. Kata disiplin  sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Latin, yaitu discciplina dan discipulus yang berarti perintah dan peserta didik. Jadi, disiplin dapat diartikan sebagai perintah seorang guru kepada peserta didiknya. Kemudia dalam New World Dictionary, disiplin diartikan sebagai latihan untuk mengendalikan diri, karakter,, atau keadaan tertib dan efisien.[35]
Sementara itu, The Liang Gie mengartikan disiplin sebagai suatu keadaan tertib yang mana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan senang hati. Sementara Good’s dalam Dictionary of Education mengartikan disiplin sebagai beriku.
1)        Proses atau hasil pengamatan atau pengendalian keinginan, motivasi, atau kepentingan guna mencapai maksud atau untuk mencapai tindakan yang lebih efektif.
2)        Mencari tindakan terpilih dengan ulet, aktif, dan diarahkan sendiri walaupun menghadapi hambatan.
3)        Pengendalian prilaku secara langsung dan otoriter  dengan hukuman atau hadiah.
4)        Pengekang dorongan dengan cara yang tidak nyaman bahkan menyakitkan.
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan, bahwa disiplin adalah suatu keadaan di mana sesuatuitu berada dalam keadaan tertib, teratur dan semestinya, serta adasuatu pelanggaran-pelanggaran baik secara langsung maupun tidaklangsung.
Dalam ilmu pendidikan, dikenal dua istilah yaitu disiplin dan ketertiban. Menurut Suharsimi Arikunto(1993:114): ketertiban menunjukan pada kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong atau disebabkan oleh sesuatu yang datang dari luar, misalnya karena ingin mendapatkan pujian dari atasan.  Disiplin menunjuk pada kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada kata hatinya. Biasanya ketertiban terjadi lebih dahulu barukemudian berkembang menjadi disiplin.[36]
                 Dalam arti luas disiplin mencakup setiap macam pengaruh yang ditunjukkan untuk membantu pesera didik agar dia dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan juga penting tentang cara menyelesaikan tuntutan yang mungkin ingin ditunjukkan peserta didik terhadap lingkungannya.[37]
b.      Membangun Tradisi Disiplin yang Kuat
Untuk membangun tradisi disiplin yang baik, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya adalah:
1)   Mengingat manfaat dan Kerugiannya Selalu mengingat manfaat besar disiplin akan mendorong seseorang untuk disiplin. Sebagai seorang guru dan murid, disiplin manfaatnya sangat besar, antara lain pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan baik.
2)      Mengingat Cita-cita
Cita-cita yang besar selalu membutuhkan kerja keras, semangat pantang menyerah, dan prinsip maju tanpa mengenalmundur. Sekali maju, sebesar apa pun halangan dan rintanganyang menghadang, harus dihadapi dengan sikap kesatria, penuhkeberanian. Namun, untuk menggapai semua itu perlukedisiplinan. Cita-cita besar tidak akan terwujud kalau seseorang tidak disiplin melakukan pekerjaan yang berpengaruh besar dalam hidupnya jangka panjang. Sebelum mendisiplinkan muridnya, seorang guru harus disiplin terlebih dahulu, sehingga murid-muridnya segan dan mengikuti perintahnya


3)      Memiliki Tanggung Jawab
Tanggung jawab besar yang ada di pundak guru harus dilaksanakan sebagai amanat dari negara, masyarakat, dannurani sendiri. Tanggung jawab mendidik dan mempersiapkanmasa  depan anak bangsa membutuhkan keseriusan dan kerjakeras seorang guru dan serang siswa harus belajar dengan rajinuntuk masa depan.
4)      Pandai Mengatur Waktu
Disiplin melaksanakan kegiatan membutuhkan kemampuan mengatur waktu dengan baik. Dari manajemen waktu tersebutbisa diketahui mana yang menjadi prioritas. Istilahnya, manayang masuk kategori pekerjaan wajib (harus dilaksanakan),sunah (baik dilakukan), makruh (banyak negatifnya), dan haram(larangan) dilakukan.
5)      Meninggalkan Sesuatu yang tidak bermanfaat
Hal-hal yang tidak manfaat, misalnya begadang malam, nonton televisi sampai malam, ngobrol larut malam, dansejenisnya, seharusnya ditinggalkan. Seorang guru haru memberikan contoh yang baik dan konstruktif kepada anak didik dan masyarakatnya.[38]
c.    Macam-macam Disiplin
Di dalam bukunya Jamal Ma‟mur Asmani yang berjudul “tips menjadi guru inspiratif, kreatif, inovatif”, macam-macam disiplindibedakan menjadi tiga, yaitu:[39]

1.      Disiplin Waktu
2.      Disiplin Menegakkan Aturan
3.      Disiplin Sikap
     Menurut Singgih Gunarsa (2002:136) bahwa fungsi utama disiplin adalah untuk mengajarkan bagaimana mengendalikan diri dengan mudah, menghormati dan mematuhi otoritas atau peraturan yang ada. Pemberian sanksi terhadap mereka yang telah melakukan pelanggaran harus ditetapkan berdasarkan dan atau sesuai dengan peraturan yang berlaku. Rumusan sanksi berat-ringannya hukuman harus terlebih dahulu mendapat pertimbangan logis dan adil.
            Dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah ketaatan peserta didik terhadap peraturan yang ditetapkan selama kegiatan belajar mengajar di sekolah. Indikator yang diukur adalah: (1) ketepatan masuk dan pulang sekolah, (2) ketaatan dalam menggunakan pakaian dan atribut sekolah, (3) ketepatan dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah, dan (4) kepatuhan terhadap perintah guru.[40]

B.     TELAAH HASIL PENELITIAN TERDAHULU
Studi Komparasi Antara Siswa Kelas X Program Bina Prestasi Dengan Program Reguler Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlaq Di MAN 2 Ponorogo Tahun Pelajaran 2012/2013. Dalam Penelitiannya Ayuni ( 2103309201), dengan hasil 1) tingkat hasil beljar kelas X Program BINA Prestasi pada mata Pelajaran Aqidah Akhlaq di MAN2 Ponorogo masuk dalam katagori cukup, 2) Tingkat hasil belajar siswa kelas X Program Reguler pada mata Pelajaran Aqidah Akhlaq di MAN 2 Ponorogo masuk dalam katagori cukup, 3) Ada perbedaan tingkat hasil beljar siswa kelas X Program Binpres dengan siswa kelas X Program Reguler pada mata Pelajaran Aqidah Akhlaq di MAN 2 Ponorogo.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Ayuni terdapat persaman dengan penelitian ini diantarannya pada variabel hasil belajar sama-sama merupakan variabel dependen dan mengunakan metode penelitian kuantitatif. Perbedaanya adalah program bina prestasi dan program reguler, terdiri dari tiga rumusan masalah, dan mengunakan teknik analisa komparasional.
Pengaruh Efikasi Diri dan Lingkungan Sekolah Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran PAI Siswa Kelas XI di SMKN Slahung Ponorogo Tahun Pelajaran 2014/2015. Dalam Penelitianya Ditha (210311091) dengan hasil 1) Tingkat Efikasi diri siswa kelas XI SMKN Slahung Ponorogo Tahun pelajaran 2014/2015 dalam katagori cukup, 2) Tingkat hasil belajar mata pelajaran PAI  XI SMKN Slahung Ponorogo Tahun pelajaran 2014/2015 dalam katagori cukup, 3) Variabel efikasi diri dan lingkungan sekolah secara signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran PAI diri siswa kelas XI SMKN Slahung Ponorogo Tahun pelajaran 2014/2015.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Ditha terdapat persamaan dengan penelitian ini diantaranya pada variabel efikasi diri sama-sama merupakan variabel independen, dan pada variabel hasil  beljar sama-sama merupakan variabel dependen. Perbedaanya adalah lingkungan sekolah, terdiri dari empat rumusan masalah, dan mengunakan teknik analisa Pengaruh.
Korelasi Antra Kondisi Lingkungan Keluarga Dengan Disiplin Belajar Siswa Kelas X MA Al- Mu’karrom Sumoroto Ponorogo.Dalam penelitianya Yusrin Nor Azmi (210310068) dengan hasil 1) Berdasarkan hasil data tentang disiplin belajar siswa kelas X MA Al- Mu’karrom Sumoroto Ponorogo sebanyak 16 Responden  (65,39 %) Menyatakan katagori cukup, dan 11 responden  (14,1%) menyatakan katagori kurang. Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa disiplin belajar siswa kelas Siswa Kelas X MA Al- Mu’karrom Sumoroto Ponorogo adalah cukup. Hal ini terbukti dalam katagorisasi menunjukkan prosentasinya 65,39%.

C.     KERANGKA BERFIKIR
1.      Jika efikasi diri siswa tinggi, maka hasil belajar siswa baik.
2.      Jika efikasi diri siswa rendah,  maka hasil belajar siswa buruk.
3.      Jika disiplin belajar siswa tinggi, maka hasil belajar tinggi.
4.      Jika disiplin belajar siswarendah, maka hasil belajar rendah
D.    HIPOTESIS PENELITIAN
Hipptesis merupakan jawaban semelam plam pntara terhadap rumusan masalah penelitian. [41]Hipotesis statistika dalam penelitian ini adalah:
1.    Hipotesis Nihilnya (Ho)     : Efikasi diri dan disiplin belajar tidak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran PAI siswa kelas X SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaraN 2016/2017.
2.    Hipotesis Alternatif (Ha)    : Efikasi diri dan disiplin belajar Berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran PAI siswa kelas X SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017.
3.     
VIII.            METODE PENELITIAN
A.    Rancangan Penelitian
 Dalam rencana penelitian ini, peneliti mengunakan jenis penelitian kuantitatif, yaitu enelitian yang digunakan untuk meneliti pada populasi dan sempel tertentu. Teknik pengambilan sempel dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan intrumen penelitian, analisis dan bersifat kuantitatif statistik  dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapka.[42]Variabel dalam penelitian ini yaitu:
1.         Variabel independen (variabel bebas) variabel yang mempengarui atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).  Dalam penelitian ini, variabel independen adalah efikasi diri siswa (x1) dan disiplin belajar (x2).
2.         Variabel Dependen (variabel terikat) adalah variabel yang dipengarui atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.[43] Variabel dependen adalah hasil belajar mata pelajaran PAI siswa SMK PGRI Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017.
B.     Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.[44] Dalam penelitian ini populasinya adalah s siswa kelas  X  SMK PGRI 2 Ponorogo Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 70 siswa  yang terdiri dari dua kelas dengan jurusan Rekayasa Perangkat Lunak yang masing-masing kelas terdiri dari 35 siswa.


2.         Sampel
 Sampel adalah bagian jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajarinya semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti  dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi.
Dalam pengambilan sampel ini, penelitian menggunakan teknik probelity sampling, yaitu teknik sampling yang memberikan peluang yang sama kepada anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Cara demikian disebut juga random sampling atau pengambilan sampel secara acak.[45] Untuk itu, ukuran sampel didasarkan atas kesalah 5% dengan melihat tabel penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu yang dikembangkan Issac dan Michael. Jadi, sampel yang diperoleh dengan tingkat kesalahan 5% dari jumlah populasi  dalam penelitia 70.jumlah sampelnya adalah 60 . [46] Untuk perhitungan sampel masing-masing kelas dapat dihitung menggunakan  rumus:
                                = n x
                        Keterangan :
                                : Sample kelas
                        n          : Sample Keseluruhan
                        N         : Populasi keseluruhan
                                : Populasi Kelas


C.    Intrumen Pengumpulan Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:
1.    Data  tentang efikasi diri siswa kelas X.
2.    Data tentang disiplin belajar di SMK PGRI 2 Ponorogo.
3.    Data tentang hasil belajar mata pelajaran PAI siswa kelas X SMK PGRI 2 Ponorogo.
Gambar 1.1
Intrumen Pengumpulan Data
Judul Peneliian
Variabel Penelitian
Indikator
Teknik
PENGARUH  SELF EFFICACY (KEYAKINAN DIRI) DAN DISIPLINBELAJAR TERHADAPHASIL BELAJAR PAI  SISWA KELAS X DI  SMK PGRI PONOROGO TAHUN AJARAN 2016/2017
a.    Variabel Independen
X1    : Self Efficacy



X2    : disiplin belajar

















b.    Variabel Dependen

Y  : Hasil belajar siswa
a.    Self efficacy
1.    Keyakinan
2.    Percaya diri
3.    Motivasi
4.    Kemampuan diri

b.      Disiplin belajar
1.      Ketaanterhadapwaktubelajar
2.      Ketaanterhadaptugas-tugaspelajaran
3.      Ketaanterhadappenggunaanfasilitasbelajar
4.      Ketaatanmenggunakanwaktudatangdanpulangsekolah



c.       hasil belajar
Nilai ujian akhir semester 1 mata pelajaran PAI siswa kelas XSMK PGRI  2 Ponorogo tahun Pelajaran 2016/2017

Angket









Angket





















Angket

D.    Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan cara yang peniliti gunakan untuk mengumpulkan data. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini  adalah:

1.        Angket
          Angket merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan bagi responden. Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara meberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.[47] Teknik ini digunakan untuk mengetahui bagaimana efikasi diri dan disiplin belajar siswa SMK PGRI 2 Ponorogo.
          Skala yang digunakan adalah skala Likert yaitu digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan presepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item intrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. [48]
          Jawaban setiap item intrumen yang mengunakan Skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif, smapai sangat negatif. Untuk keperluan analisis kuantitatif, jawaban itu dapat dapat diberi skor sebagai berikut:[49]
          Gradasi Positif:
                      Selalu                          (SL)     = 4
                      Sering                          (S)       = 3
                      Kadang-kadang          (KK)    = 2
                      Tidak pernah               (TP)     = 1
2.      Dokumentasi
Metode ini digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa cactan, transkip, buku, notulen rapat dan sebagainya.[50] Metode dokumentasi ini akan peneliti lakukan untuk mencari informasi tentang SMK PGRI Ponorogo, struktur Organisasi sekolah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan sekolah yang sudah dalam bentuk dokumen, terutama untuk mencari informasi hasil belajar berupa Ujian Akhir Semester Gasal tahun pelajaran 2016/2017 mata pelajaran PAI siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo.
E.     Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.[51]
Teknik analisis ini menggunakan statistika. Teknik analis data untuk menjawab rumusan masalah 1,2 dan 3 yang digunakan adalah dengan menghitung mean  dan standart deviasi dengan rumus sebagai berikut:[52]
Rumus Mean : Mx
                        My=

            Keterangan      : Mean (rata-rata) yang dicari)
            Mx dan My     : Jumlah dari skor-skor (nilai-nilai) yang ada
            n                      : Jumlah observasi
Sedangkan rumus Standart Deviasi  yang digunakan yaitu:
 =
SDy   =
Keterangan  :
SDx   da SDy                        : Standart Deviasi
         dan            : Jumlah skor x dan y setelah terlebih dahulu dikuadratkan
          Mx dan My               : Nilai rata-rata (Mean) skor x dan y
          N                               : Jumlah Observasi
                   Dari hasil diatas dapat diketahui Mean dan SD. Untuk menentukan tingkat efikasi diri, disiplin belajar, dan hasil belajar siswa apakah cukup, kurang, dibuwat pengelompokan dengan rumus sebagai berikut: [53]
1.   Skor lebih dari mean + 1.SD adalah tingkat baik
2.   Skor kurang dari mean – 1.SD adalah tingkat kurang
3.   Skor antara mean – 1.SD sampai mean + 1.SD adalah tingkat cukup
Setelah dibuwat pengelompokan kemudian dicari frekuensinya dan hasilnya diprosentasikan dengan rumus: [54]
P =  x 100%
Keterangan :
P          : Angka Prosentase
Fi         : Frekuensi
n          : Number Of Cases
Sedangkan teknik analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan no 4 yaitu untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh efikasi diri dan disiplin belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran PAI siswa, dalam penelitian ini menggunakan teknik analis berupa analisis regresi linier berganda, yaitu sebagai berikut: [55]     
 =  +  +
 =
=
 =
       Keterangan :
       y          : Variabel dependen
       ŷ          : Hasil prediksi nilai y
       x          : Variabel independen
                : Intercept populasi (nilai y jika x = 0)
       b 1       : Slope (angka /arah koefisien regresi) X1
                : Slope (angka /arah koefisien regresi) X2
        : Mean dari penjumlahan variable x
       ȳ          : Mean dari penjumlahan variabel y
       n          : Jumlah observasi
          Untuk uji signifikan model dalam analisis regresi linier berganda dapat dilakukan dengan menggunakan tabel Anova (Analysis or Varians).
Hipotesis :
Ho       : 0 (efikasi diri dan disiplin belajar tidak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran PAI siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajara 2016/2017.
Ha       :  ( Efikasi diri dan disiplin belajar berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran PAI siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajara 2016/2017.



Sumber Variasi
Degree
Frendom (df)
Sum Square
Mean Square
Regresi
P
SSR=(
MSR =
Eror
n- P-1
SSE=( _( +
MSE =
Total
n-1
SST = SSR +  SSE, atau
SST = _ 

                        Dari perolehan hasil tabel Anova, kemudian di Statistik ujikan dengan rumus:
 Ftabel  = F α (P ; n-P-1)
Tolak  jika F hitung  F tabel
Adapun untuk mengetahui tingkat pengaruh/ koefisien determinasinya yaitu dapat dihitung dengan rumus:
Dimana :
 Koefisien determinasi / proposi keragaman /variabilitas total di sekitar nilai tenggah ȳ yang dapat dijelaskan oleh model regresi (biasanya dinyatakan dalam persen).
F.      Validitas dan Reabilitas Intrumen
1.      Uji Validitas Intrumen
Merupakan suatu ukuran yang menunjukkan alat ukur tersebut benar-benar mengukur indikator dari objek penelitian (Santoso, 2015). Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah kuisioner yang disusun tersebut itu valid atau sahih.
Rumus yang digunakan untuk mengukur instrumen tes dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi product moment.[56]
Dengan rumus:
Keterangan:
: koefisien korelasi antara variabel X dan Y
N    : jumlah responden
X    :nilai hasil uji coba
Y    : nilai rata-rata harian
XY : jumlah hasil perkalian antara X dan Y
Apabila rxy  rtabel, maka kesimpulannya item kusioner tersebut valid. Apabila rxy  rtabel, maka kesimpulannya item kusioner tersebut tidak valid.
2.      Uji Reliabilitas Intrumen
Pengujian alat pengumpulan data  yang kedua adalah pengujian realibilitas intrumen. Gagasan pokok dalam konsep reabilitas adalah sejauh mana hasil suatu proses pengukuran dapat dipercaya. Hasil suatu pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap suatu intrumen pengukuran dikatakan reliabel jika pengukuran konsisten, sermat dan akurat.[57] Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
                        Rumus Varian masing-masing item ( ²)
 =  - (
                        Rumus  Varian total  ( )
 =  – (
Setelah itu untuk mendapatkan informasi reliabilitasnya, nilai koefisien alpa crounbch (  )  dibandingkan dengan . Apabila , maka intrumen penelitian dinyatakan reliabel. Berikut adalah rumus koefisien alpa crounbch:[58]
 =
Keterangan:
             = koefisien reliabilitas tes
K              = banyaknya butir item
         = jumlah varian skor dari tiap-tiap buutir item
= varian total
1                              = bilangan konstanta
 IX.            SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Sistematika penyususnan laporan hasil penelitian kuantitatif ini nantinya akan dibagi bagian utama, yaitu awal, inti dan akhir.Untuk memudahkan dalam penulisan, maka pembahasan dalam laporan penelitian penulis kelompokkan menjadi lima bab yang masing-masing bab terdiri dari sub bab yang berkaitan.
Sistematika pembahasan ini adalah:
Bab pertama, adalah pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab dua, berisi landasan teori dan atau telaah penelitian terdahulu, kerangka berfikir, dan pengajuan hipotesis.
Bab ketiga adalah metode penelitian yang berisi rancangan penelitian, populasi, sampel, intrumen pengumpulan data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data.
Bab keempat adalah hasil penelitian yang berisi gambaran umum lokasi penelitian, deskripsi data, analisis data ( pengajuan hipotesis), interprestasi dan pembahasan.
Bab kelima adalah penutupan yang berisi kesimpulan dan penelitian dan saran.

    X.            OUTLINEDAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
ABTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
PEDOMAN TRANSLITERASI
BAB I             : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Batasan Masalah
C.       Masalah
D.    Tujuan Penelitian
E.     Manfaat Penelitian
F.      Sistematika Pembahasan
BAB II              : LANDASAN TEORI DAN ATAU TELAAH HASIL PENELITIAN TERDAHULU, KERANGKA BERFIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS..
A.    Landasan Teori
B.     Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
C.     Kerangka berfikir
D.    Pengajuan Hipotesis
BAB III          : METODE PENELITIAN
A.    Rancangan Penelitian
B.     Populasi dan Sampel
C.     Intrumen Pengumpulan Data
D.    Teknik Pengumpulan Data
E.     Teknik Analis Data
BAB IV          : HASIL PENELITIAN
A.    Gambaran Umum Lokasi Penelitian
B.     Deskripsi Data
C.     Analisi Data ( Pengujian Data)
D.    Interprestasi dan Pembahasan
BAB V            : PENUTUP
                        A. Kesimpulan
B. Penutup
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN- LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
SURAT IZIN PENELITIAN
SURAT TELAH MELKUKAN PENELITIAN
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
 XI.            DAFTAR RUJUKAN
Abdul Majid &Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi .
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004.
Abdurrahman, Mulyono Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar.  Jakarta: PT
Renika Cipta, 2003.
Ali Muhidin, Sambas. Analisis Korelasi, regresi, Dalam Jalur Penelitian.
Bandung: Pustaka Setia, 2011.
Alwilso,  Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press, 2009.
Ardi Wiyani, Novan. Menajemen Kelas.  Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2013. 159.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta, 2006.
Dessy Wulansari, Andhita. Penelitian Pendidikan: Suatu Pendidikan Praktik
dengan Menggunakan SPSS. 2012.
Hidayat, Syarif .  Pengaruh Kerjasama Orang Tua Dan Guru Terhadap Disiplin
Peserta Didik Di Sekolah Menengah Pertama (Smp) Negeri Kecamatan Jagakarsa - Jakarta Selatan (Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013
Komsiyah, Indah. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Teras, 2012.
Ma’mur Asmani, Jamal Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, Inovatif.
Yogyakarta: DIVA Press, 2010.
Majid,Abdul Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2012.
Muhaimin, H. Pengembangan Kurikulum  Pendidikan Agama Islam di Sekolah,
Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012.
Muhammad Irham, Novan Ardi Wijaya,  Psikologi Pendidikan. Jogjakarta,
Ar- Ruzz Media, 2013.
Muhammad Thobrani & Arif Mustafa, Belajar dan Pembelajaran . Jogjakarta:
Ar- Ruzz Media, 2013.
Naim, Ngainun. Charater Building. Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2012.
Purwanto, M. Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung: PTrEMAJA Rosdakarya.
Rahmat Hidayat, Dede. Psikologi Kepribadian dalam Konseling. Bogor: Ghalia
Indonesia, 2011.
Rohani, Ahmad. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: PT Renika Cipta, 2010.
Sudijono, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2012.
Sudjana, Nana. Cara belajar siswa aktif . Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996.
Sugiyono,  Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan
R&D. Bandung: Alfabeta, 2013.
Syamsuddin Makmun, Abin Psikologi Kependidikan. Jakarta : PT. Remaja
Rosdakarya, 2007.
Syamsul Yusuf & Achmad Jutika Nurihsan Teori Kribadian. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2007.
Syaodih Sukmadinata,Nana  Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2011.
Tjandarasa, Meitasari. Child Development. PT Gelora Aksara Pratama, 1999. 82.

Undang- Undang dan peraturan Pemerintah RI TENTANG PENDIDIKAN,
Direktorat jendral Pendidikan Islam Depatermen Agama RI, TAHUN 2006
Widyaningrum, Retno. Statistika. Yogyakarta:Pustaka Felicha, 2013.

Nur Ghufron M. & Risnawati S,  Rini. Teori—Teori Psikologi . Jogjakarta: AR-
RUZZ MEDIA, 2014.

N0
 Kegitan
November
Desember
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
1.
Pembekalan Skripsi
ü   







2.
Pengajuan Judul
ü  e
ü   






3.
Penyusunan Proposal

ü   






4.
Pengumpulan Proposal


ü   





5.
Seminar proposal


ü   





6.
Ujian Proposal


ü   





7.
Penulisan Skripsi


ü   
ü   
ü   



8.
Ujian Munaqasah





ü   


















XII.            JADWAL PENELITIAN
XIII.            LEMBAR PENGESAHAN JUDUL, KATA KUNCI DAN RUMUSAN MASALAH/ MATRIK PENELITIAN.




[1] Undang- Undang dan peraturan Pemerintah RI TENTANG PENDIDIKAN, Direktorat jendral Pendidikan Islam Depatermen Agama RI, TAHUN 2006
[2] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, ( Jakarta : PT. Remaja Rosdakarya, 2007), 22.
[3] Muhammad Irham, Novan Ardi Wijaya,  Psikologi Pendidikan (Jogjakarta, Ar- Ruzz Media, 20130, 19
[4] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), 4.
[5]Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), 158-160.
[6]Nana  Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), 179.
[7] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), 107.
[8]Syamsul Yusuf LN, Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008),  135. 
[9]Dede Rahmat Hidayat, Psikologi Kepribadian dalam Konseling ( Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), 156.
[10] Ngainun Naim,  Charater Building (Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2012), 142- 143.
[11]Ibid,. 146
[12] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan ( Bnadung: Remadja Karya CV, 1984), 80
[13] Nana Sudjana, Cara belajar siswa aktif (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996), 5
[14] Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar (Jakarta: PT Renika Cipta, 2003), 37-38
[15] Muhammad Thobrani & Arif Mustafa, Belajar dan Pembelajaran ( Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2013), 22.
[16] Ibid., 24
[17] Muhammad Thobrani & Arif Mustafa, Belajar dan Pembelajaran ( Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2013),23-24.
[18] Indah Komsiyah, Belajar dan Pembelajaran ( Yogyakarta: Teras, 2012), 90.
[19]Ibid.,90-92.
[20]Ibid., 94.
[21] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan ( Bandung: PTrEMAJA Rosdakarya, 2007), 107.
[22] Abdul Majid &Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), 130. ( Bnadung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 11-13.
[23]Ibid., 130.
[24] Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012),11-13.
[25] Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran ( Bnadung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 16-18.
[26] H. Muhaimin,  Pengembangan Kurikulum  Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 11-12.
[27] Abdul Majid &Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), 130. ( Bnadung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 153-154.
[28]Ibid., 131.
[29] Alwilso,  Psikologi Kepribadian ( Malang: UMM Press, 2009), 287.
[30]Ibid., 287.
[31] Syamsul Yusuf & Achmad Jutika Nurihsan Teori Kribadian ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), 135.
[32] Dede Rahmat Hidayat, Ppsikologi Kepribadian dalam Konseling ( Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), 156.
[33] M. Nur Ghufron & Rini Risnawati S, Teori—Teori Psikologi ( Jogjakarta: AR- RUZZ MEDIA, 2014), 80.
[34] Meitasari Tjandarasa, Child Development (PT Gelora Aksara Pratama, 1999), 82.
[35] Novan ArdI Wiyani, Menajemen Kelas ( Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2013), 159.
[36]Syarif Hidayat, Pengaruh Kerjasama Orang Tua Dan GuruTerhadap Disiplin Peserta Didik Di SekolahMenengah Pertama (Smp) NegeriKecamatan Jagakarsa - Jakarta Selatan (Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013), 95.
[37]  Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran (Jakarta: PT Renika Cipta, 2010), 155.
[38] Jamal Ma’mur Asmani, Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, Inovatif, (Yogyakarta: DIVA Press, 2010), hlm. 88-93.
[39] Asmani, Tips menjadi Guru Inspiratif..., hlm. 94-95.
[40]Syarif Hidayat, Pengaruh Kerjasama Orang Tua Dan GuruTerhadap Disiplin Peserta Didik Di SekolahMenengah Pertama (Smp) NegeriKecamatan Jagakarsa - Jakarta Selatan (Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013), 95.

[41]Sugiyono,  Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R& D( Bandung: Alfabeta, 2013), 64.
[42] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan ( Bandung: Alfabeta, 2015), 14
[43]Ibid.,60.
[44] Sugiyono, Metode Penelitian, 117.
[45]Ibid., 118-120.
[46]Ibid., 128.
[47]Ibid., 199.
[48]Ibid., 93.
[49] Sugiyono, Metode Penelitian, 94.
[50] Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktik ( Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 231.
[51] Sugiyono,  Metode Penelitian,  147.
[52] Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan ( Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), 81.
[53]Ibid., 175
[54] Retno Widyaningrum, Statistika ( Yogyakarta:Pustaka Felicha, 3013), 20.
[55] Andita Dessy, Penelitian Pendidikan : Suatu Pendidikan Praktik dengan Menggunakan SPSS, ( Ponorogo: STAIN Po PRESS), 125-128.
[56] Andita Dessy, Penelitian Pendidikan : Suatu Pendidikan Praktik dengan Menggunakan SPSS, 84.
[57] Sambas Ali Muhidin, Analisis Korelasi, regresi, Dalam Jalur Penelitian (Bandung: Pustaka Setia, 2011), 37.
[58] Andhita Dessy Wulansari, Penelitian Pendidikan: Suatu Pendidikan Praktik dengan Menggunakan SPSS, 90.

Komentar

  1. Borgata to make $20 million in casino renovation project
    ATLANTIC 충청남도 출장마사지 CITY (AP) — 문경 출장안마 ATLANTIC CITY, N.J. 보령 출장샵 (AP) — Borgata will make 인천광역 출장샵 $20 million in casino renovation work this summer. 상주 출장샵

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE EFFECTIVENESS OF STUDENTS TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TOWARD STUDENTS’ MOTIVATION IN READING COMPREHENSION AT THE SEVENTH GRADE SMPN 2 PONOROGO IN ACADEMIC YEAR 2016/2017 THESIS PROPOSAL

INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017