PENGARUH SELF EFFICACY (KEYAKINA DIRI) DAN DISIPLIN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR PAI SISWA KELAS X DI SMK PGRI 2 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017
PENGARUH SELF EFFICACY (KEYAKINA DIRI) DAN DISIPLIN BELAJAR
TERHADAP HASIL BELAJAR PAI SISWA KELAS X DI SMK PGRI 2 PONOROGO TAHUN PELAJARAN
2016/2017
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Ponorogo (STAIN)
Dalam Rangka Penyusunan Skripsi
OLEH:
FIDA LAILA RAHMAYANTI
NIM: 210313299
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
JANUARI 2016
I.
JUDUL
PENELITIAN
PENGARUH SELF EFFICACY (KEYAKINAN DIRI) DAN DISIPLIN BELAJAR
TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN PAI SISWA KELAS X DI SMK PGRI 2 PONOROGO
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
II.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Dewasa ini
pendidikan adalah suatu yang bukan asing lagi di dengar oleh masyarakat.
Pendidikan juga merupakan satu- satunya cara untuk membentuk manusia seutuhnya.
Bahkan dapat dikatakan penddidikan sangatlah berperan penting dalam membentuk
negara dan yang menentukan maju mundurnya suatu negara. Sasaran utama yang di
butuhkan untuk mengembangkan kehidupan manusia tidak lain adalah pendidikan.
Menurut
Undang-Undang RI 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 ayat (1): pendidian adalah usaha
sadar yang terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaraan
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual mengembangkan potensi diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq
mulia serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, kecerdasan, akhlaq mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.[1]
Pendidikan juga
merupakan suatu proses yang berkeseninambung yang bertujuan untuk membentuk
kedewasaan pada diri anak. Pendidikan dapat mencakup seluruh proses hidup dan
segenap bentuk interaksi individu dengan lingkungannya. Baik secara formal, non
formal, maupun informal, dalam rangka mewujudkan dirinya sesuai dengan tahapan
tugas perkembangannya secara optimal
sehingga ia mencapai sesuatu
taraf kedewasaan tertentu.[2]
Pendidikan juga merupakan usaha sadar yang terencana yang dilakukan oleh
pendidik untuk mengubah tingkah laku manusia, baik secara individual maupun
kelompok untuk mendewasakan manusia tersebut melalui proses pengajaran dan
pelatihan.[3]
Pendidikan berfungsi membantu peserta didik dalam pengembagan
dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, baik bagi dirinya maupun
lingkungannya. Pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan atau nilai-
nilai atau melatihkan keterampilan. Pendidikan berfungsi mengembangkan apa yang
secara potensial dan aktual telah dimiliki peserta didik.[4]
Kini pendidikan sudah tak seperti dulu ketika zaman penjajahan,
dimana yang bisa menikmati pendidikan
hanya orang-orang bangsawan atau menengah ke atas, dan mereka yang pribumi tak
dapat menikmati pendidikan karena kelas ekonomi mereka rendah. Namun kini semua
orang sudah bisa menikmati pendidikan, karena banyak bantuan dari pihak
pemerintah dalam usaha mencerdaskan anak bangsa dengan memberikan banyak
subsidi kepada sekolah-sekolah dan universitas-universitas.
Kenapa belajar sangatlah
penting bagi kita generasi muda, bahkan yang tua sekalipun. Ilmu tidak akan
pernah ada habisnya untuk digali semakin kita menggali ilmu dengan belajar
semakin banyak pengetahuan yang kita dapatkan. Selain belajar kita juga harus
memiliki rasa yakin akan kemampuan yang kita miliki. Percuma saja kita belajar,
sekolah namun kita tidak pernah yakin bahwa kita bisa menyelesaikan tantangan
dan tugas yang telah dihadapkan pada kita. Keyakinan akan kemampuan kita
sendiri akan membawa kita pada keberhasilan belajar. Keyakinan dan disiplin yang baik akan membawa kita pada kebaikan dan
keberhsilan belajar, namun jika keyakinan kita tidak baik, makan yang kita
yakini itu akan membawa kita pada kegagalan hasil belajar, dan secara tidak
langsung dampanya pun akan kita rasakan sendiri. Baik dampak psikologi hingga
dampak sosial. Untuk kesempatan kali ini peneliti akan membahas mengenai
hubungan self efficacy (Keyakinan diri) dan disiplin belajarsiswa
terhadap prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI SMK PGRI 2 Ponorogo . Selain belajar ada hal penting
yang mempengaruhi kesuksesan hasil belajar peserta didik, yaitu self
efficacy (Keyakinan diri) dan disiplin belajar.
Keberhasilan Pendidikan disekolah dapat diliat dari sejauh mana
tujuan pembelajaran itu dapat terealisasikan. Secara umum, hal ini dapat diliat
dari dari hasil belajar yang diperoleh peserta didik dari sekolah itu sendiri dalam setiap
preodenya. Hasil belajar merupakan tolak ukur yang digunakan untuk menentukan
tingkat keberhasilan siswa dalam
mengetahui suatu pembelajaran. Dari proses belajar mengajar, diharapkan siswa
memoeroleh hasil belajar yang baik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah
di tetapkan. Hasil belajar merupakan
penguasaan yang diperoleh siswa setelah belajar mengajar, baik dalam segi
pengetahuan, sikap, maupun keterampilan.[5]
Dalam dunia pendidikan, untuk menciptakan manusia yang berkualitas
tinggi, siswa harus memiliki hasil pembelajaran yang baik. Hasil yang dicapai
oleh setiap peserta didik merupakan gambaran tinggkat pencapaian tujuan
pendidikan yang merupakan komponen penting untuk menentukan arah proses
pendidikan.
Hasil belajar bukan hanya berupa penguasaan pengetahuan, tetapi
juga kecakapan dan keterampilan dalam meliat, menganalisis dan memecahkan
masalah, membuwat rencana dan mengadakan pembagian kerja; demikian aktivitas
dan produk yang dihasilkan dari aktivitas belajar ini mendapatkan penilaian.
Penilaian tidak hanya dilakukan secara tertulis, tetapi juga secara lisan dan perbuwatan.[6]
hasil belajar
yaitu perubahann-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang meyagkut
aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar.
Pengertian tentang hasil belajar sebagaimana diuraikan di atas di pertegas oleh
Nawawi dalam K. Brahim (2007.39) yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan
sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran di
sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal
sejumlah materi pembelajaran tertentu.
Dalam pembelajaran hasil belajar dapat dipengarui
oleh beberapa faktor baik dari dalam diri atau luar diri. Faktor Internal
mencakup Fisiologi ( kondisi fisik, kondisi panca indra, Psikologi ( bakat,
minat, kecerdasan, motivasi dan kemampuan kognitif). Sedangkan faktor eksternal
Lingkungan ( alam, sosial). Intrumental ( Kurikulum atau bahan ajar. Guru,
sarana dan fasilitas. Manajemen).[7]
Bandura
meyakini bahwa self efficacy merupakan elemen kepribadian yang krusial. Self
efficacy ini merupakan keyakinan diri (sikap percaya diri ) terhadap
kemampuan sendiri untuk menampilkan tingkah laku yang akan mengggarahkannya
kepada hasil yang diharapkan. Ketika self efficacy tinggi, kita merasa percaya diri bahwa kita
dapat melakukan respon tertentu untuk memperoleh reinforment. Sebaliknya
apabila rendah. Maka kita tidak mampu melakukan respon tersebut.[8]
Menurut
Bandura, dari semua pemikiran yang mempengarui fungsi manusia, dan merupakan
bagian paling inti dariteori kognitif sosial adalah efikasi diri ( self
efficacy). Efikasi diri adalah “penilaian diri terdapat kemampuan diri
untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai kinerja
yang ditetapkan”. Efikasi diri memberikan dasar bagi motivasi manusia,
kesejahteraan, dan prestasi pribadi. Hal ini terjadi karena mereka percaya
bahwa tindakan yang dilakukan dapat mencapai hasil yang diinginkan, meskipun
memiliki sedikit insentif untuk bertindak atau untuk bertahan dalam menghadapi
kesulitan.[9]
Jadi self
efficacy (Keyakinan diri) sendiri merupakan sebuah bentuk kepercayaan diri seseorang dalam melakukan
berbagai hal salah satunya yaitu ketika seorang siswa mengerjakan tugas di
kelas maka seorang siswa tersebut harus memiliki kepercayaan diri agar dapat
mengerjakan tugas dengan baik di kelas.
Namun jika peserta didik memiliki
rasa self efficacy (Keyakinan diri) yang rendah dia kan cenderung
memilih tugas yang biasa dan kurang menantang, sehingga peserta didik kurang
memiliki wawasan yang luas. Selain itu peserta didik yang memiliki self
efficacy (Keyakinan diri) rendah dia akan lebih memilih untuk tidak
mengerjakan tugasnya karena memiliki rasa mood yang buruk karena dia tidak
yakin akan kemampuan ya dalam dirinya.
Dalam
pembelajran disiplin belajar juga sangat mempengarui hasil belajar. Dimana disiplin
adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang
meharuskan orang tunduk kepada keputusan, perintah, dan peraturan yang berlaku.
Dengan kata lain disiplin adalah sikap mentaati peraturan dan ketentuan yang
telah diterapkan tanpa pamrih. [10].Dalam
konteks belajar di sekolah, ada beberapa bentuk kedisiplinan. Pertama, hadir di
ruangan tepatbpada waktunya, Kedua tata pergaulan disekolah, ketiga mengikuti
kegiatan ektrakulikuler, Keempat belajar dirumah.[11]
Disiplin
membantu anak menyadari apa yang diharpkan dan apa yang tidak diharapkan dan
membantu bagaimana mencapai apa yang diharapkan. disiplin akan terbentuk
apabila disiplin itu diberikan oleh
seseorang yang memberikan rasa amam dan
tumbuh dari pribai yang berwibawa serta dicintai, bukan dar orang yang yang
ditakuti dan berkuasa.
Jadi sudah jelas bahwa self
efficacy (Keyakinan diri) dan disiplin
sangatlah penting dalam perkembangan peserta didik khususnya dalam segi
hasil belajarnya di sekolah. Kemampuan
seorang anak tidak hanya di tentukan
oleh keterampilan yang dimilikinya akan tetapi prestasi akademik juga
sangantlah penting.
Disini peneliti
akan mengupas tentang Hubungan self efficacy (Keyakinan diri) dan
disiplin belajar Terhadap hasil belajar PAI di SMK PGRI 2 Ponorogo.
III.
BATASAN MASALAH
Banyakfaktor
atau variabel yang dapat di tindak lanjut dalam pembahasan ini. Untuk itu agar
tidak melebar, penelitian ini dibatasi
oleh permasalahan yang berkaitan dengan efikasi diri siswa, dan disiplin
belajar dan hasil belajar UAS Mata pelajaran PAI semester Gasal siswa kelas
X di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun ajaran
2016?2017.
IV.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut:
1.
Bagaimana
tingkat efikasi diri siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun Pelajaran
2016/2017?
2.
Bagiamana
disiplin belajar sekolah di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun Pelajaran 2016/2017?
3.
Bagaimana
tingkat hasil belajar mata pelajaran PAI
siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo Tahun Pelajaran 2016/2017?
4.
Apakah
efikasi dan disiplin belajar sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap
hasil belajar mata pelajaran PAI siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo
TahunPelajaran 2016/2017?
V.
TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka Tujuan
penelitian yang ingin dicapai:
1.
Untuk
mengetahui tingkat efakasi diri siswa kelas X SMK PGRI 2 Ponorogo tahun
pelajaran 2016/2017
2.
Untuk
mengetahui disiplin belajar di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017
3.
Untuk
mengetahui tingkat hasil belajar mata pelajaran PAI siswa kelas X di SMK PGRI 2
Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017
4.
Untuk
mengetahui pengaruh efikasi dan disiplin belajar sekolah berpengaruh secara
signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran PAI siswa kelas X di SMK PGRI 2
Ponorogo TahunPelajaran 2016/2017
VI.
MANFAAT PENELITIAN
Dalam melakukan penelitian ini
diharapkan dapat memberikan manfaat baik teoritis maupun manfaat praktis.
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1.
Manfaat
teoritis
Akan memberikan lebih banyak kesempatan mengembangkan penelitian
tentang efikasi diri siswa dan disiplin belajar yang lebih baik guna
meningkatkan hasil belajar siswa dalam mencapai target belajar yang diinginkan,
dan sebagai latihan penelitian dalam menerapkan teori-teori yang dadapatkan di
bangku kuliah untuk diaplikasikan dalam menjawab permasalahan yang aktual,
sekaligus memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan.
2.
Manfaat
praktis
a.
Bagi
sekolah
Pengoptimalan
lingkungan sekolah yang baik sehingga siswa dapat meninggkatkan hasil belajar,
khususnya pada mata pelajaran PAI.
b.
Bagi
Guru
Dapat memberikan masukan
bagi guru agar lebih meberikan perhatian terkait dengan pengembangan potensi
siswa dari segi efikasi diri.
c.
Bagi
Siswa
Mendapatkan informasi
mengenai pentingnya mengembangkan efikasi diri dan disiplin belajar sehingga
siswa dapat beljar dengan efektif dan efisien dan menjadi siswa yang
berprestasi dalam bidang akademik.
VII.
LANDASAN TEORI, KERANGKA
BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. LANDASAN
TEOR
1.
Hasil
Belajar
a.
Pengertian
hasil Belajar
Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seorang terhadap
sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yag berulang-ulang
dalam situsi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau
dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan- keadaan sesaat
seseoran. Jadi yang dimaksud belajar menurut Good dan Brophy bukan tingkah laku
yang nampak, tetapi terutama adalah prosesnya yang terjadi secara internal di
dalam diri individu dalam usahanya
memperoleh hubungan- hubungan baru.[12]
Belajar merupakan suatu poses yang ditandai dengan adanya perubahan
pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat
ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman,
sikap dan tingkah laku, keterampilan kecakapan, kebiasaan, serta perubahan
aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Seperti dikemukakan oleh
Mouly, belajar pada hakikatnya adalah
proses perubahan tingkah laku seorang berkat adanya pengalaman.[13]
Hasil Belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui
kegiatan belajar. Belajar sendiri itu merupakan suatu proses dari seseorang
yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan prilaku yang relatif
menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut
kegiatan pembelajaran atau kegiatan intruksional, tujuan belajar telah telah
ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil mencapai tujuan-tujuan
pembelajaran atau tujuan-tujuan intruksional.[14]
Menurut Suprijono, hasil belajar adalah pola-pola perbuwatan,
nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan.
Selain itu menurut Lindgred hasil belajar meliputi kecakapan informasi,
pengertian, sikap.[15]
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah
perubahan prilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi
kemanusian saja.
b.
Klafikasi
atau pengelompokan Hasil Belajar
Menurut Bloom, hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif
dan psikomotorik. [16]
1)
Domain
kognitif mencakup:
a)
Pengetahuan
(Knowledge), yaitu kemampuan untuk menginggat atau menggali kembali yang
pernah dipelajari.
b)
Pemahaman
(comprehension), yaitu kemampuan untuk mengerti atau memahami sesuatu
setelah diketahui.
c)
Penerapan
(application), yaitu kemampuan menggunakan bahan yang dipelajari dalam
situasi nyata dan nyata.
d)
Analisis
(analysis), yaitu kemampuan
merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian dan mampu memahaminya
diantaranya.
e)
Sintesis
(synthesis), yaitu kemampuan membentuk satu kesatuan dengan mebuwat
rencana, yang menuntut adanya kriteria untuk menemukan struktur yang dimaksud.
f)
Evalusi
(evaluation), yaitu kemampua untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu
hal.
2)
DomainPsikomotor
mencakup:
a)
Initiatory
b)
Pre-routines
c)
Rountinized
d)
Keterampilan
produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual
3)
Domain
Afektif mencakup:
a)
Sikap
menerima ( receiving), yaitu kepekaan akan adanya suatu rangsangan dan
kesedian untuk memperhatikan sesuatu.
b)
Memperikan
respon ( Responding), yaitu
kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan turut berpatisipasi dalam suatu
kegiatan.
c)
Nilai
( valuing), yaitu kemampuan untuk
memberikan penilaain terhadap suatu dan memposisikan diri sesuai dengan
penilaian itu.
d)
Organisasi
(Organization), yaitu kemampuan
untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman.
e)
Characterization (karekterisasi), yaitu kemampuan untuk menghayati nilai nilai
kehidupan dan dapat menginternalisasikannya dalam diri.[17]
c.
Faktor-faktor
yang Mempengarui Hasil Belajar
Hasil belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi
berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dalam diri (faktor internal) maupun
dari luar diri (faktor ekternal) individu. Dibawah ini dikemukakan
faktor-faktor yang mempengarui hasil belajar:
a)
Faktor
fisiologi
Secara umum
kondisi fisiologi, seperti kesehatan yang prim, tidak dalam keadaan lelah dan
capek, tidal da;am keadaan cacat jasmani, dan sebagainya, semua akan membantu
dalam proses dan hasil belajar.Selain kondisi di atas, merupakan hal yang
penting juga memperhatikan pancaindra. Bahkan dikatakan Aminuddin Rasyad
pancaindra merupakan pintu gerbang ilmu pengetahuan (five sense are the
golden gate of knowledge). Artinya, kondisi pancaindra tersebut akan
memberikan pengaruh pada proses dan
hasil belajar.[18]
b)
Faktor
Psikologis
Banyak faktor
psikologis yang dapat mempengarui kuantitas perolehan pembelajaran siswa,
diantaranya:
(1)
Inelegensi
C.P Caplin
mengartikan intelegensi sebagai, a) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri
terhadap situasi baru secara cepat efektif, b) kemampuan menggunakan konsep
abtrak secara efektif, c) kemampuan
memahami pertalian-perta;ian dan belajar dengan cepat sekali. Proses belajar
merupakan proses yang kompleks, maka aspek intelegensi ini tidak menjamin hasil
belajar seseorang. Intelegensi hanya sebuah potensi, artinya seseorang yang
memiliki intelegensi tinggi mempunyai peluang besar untuk memperoleh hasil
belajar yang lebih baik.
(2)
Perhatian
Perhatian keaktifan jiwa yang
dipertinggi, jiwa semata-mata tertuju kepada suatu objek ataupun sekumpulan
objek . Untuk dapat mejamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus
diharapkan pada objek-objek yang dapat menarik perhatian siswa.
(3)
Minat
dan Bakat
Minat diartikan oleh
Hilgard sebagai kecenderungan yang tetap untuk memperhatika dan mengenag
beberapa kegiatan. Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan ini baru
akan tereliasasikan menjadi kecakapan yang nyata setelah melalui belajar dan berlatih.[19]
(4)
Motivasi
Motivasi berarti seni
mendorong siswa untuk terdorong melakukan kegiatan belajarn sehingga tujuan
pembelajaran tercapai. Dengan demikian, motivasi merupakan usaha dari pihak
luar dalam hal ini adalah guru untuk mendorong, mengaktifkan dan mengerakkan
siswanya secara sadar untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.[20]
c)
Faktor
Ekternal
(1)
Lingkungan terdiri dari: lingkungan (alam dan sosial)
(2)
Intrumental
terdiri dari : kurikulum atau bahan ajar, guru atau pengajar, sasarana dan
fasilitas, Adminitrasi atau manajemen.[21]
2.
Pendidikan
Agama Islam di Sekolah
a.
Pengertian
Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama
Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta diditunan untuk
menghortunan untuk menghork untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga
menggimani, ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati
penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama
hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.[22]
Menurut Zakiyah
Derajad Pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh
peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh.
Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menadikan
Islam sebagai pandangan hidup.[23]
Menurut A. Tafsir pendidikan agama Islam
adalah bimbingan yang diberikan seseorang agar ia berkembang secara maksimal
sesuai ajaran Islam. Jadi, pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang
dilakukan pendidk dalam mempersiapkan peserta didik untuk menyakini, memahami
dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan
yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[24]
b.
Tujuan
Pendidikan Agama Islam
Pendidikan disekolah
atau madrasah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan elalui
pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalamalan serta pengalaman
peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusi muslim yang terus
berkembang dalam hal keimanan, yang yang
ketakwaan, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada
jenjang pendidikan yang lebih tinggi ( Kurikulum PAI:2002).
Dari tujuan
diatas,,Berbicara pendidikan agama Islam, baik makna maupun tujuanya haruslah
mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika
sosial atau moralitas sosial. Penanamann
nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup (hasanah) di
dunia bagi anak didikyang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah)
di akhirat kelak.[25]
c.
Fungsi
Kurikulum PAI
1)
Bagi Sekolah/ Madrasah yang bersangkutan:
a)Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam yang
diinginkan atau dalam istilah KBK disebut standart kompetensi PAI, meliputi
fingsi dan tujuan pendidikan nasional, kompetensi lintas kurikulum, kompetensi
bahan kajian PAI, kompetensi tamatan/lulusan, kompetensi bahan kajian PAI,
kompetensi mata pelajaran PAI (TK, SD/MI, SMP/Mys, SMA/MA), kompetensi mata
pelajaran kelas (Kelas I. II, III, IV,
V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, XII).
b)
Pedoaman untuk mengatur kegiatan-kegiatan
pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah.
2)
Bagi
Sekolah/Madrasah di atasnya:
a) Melakukan penyesuaian
b)Menghindari keterulangan sehingga boros waktu
c) Menjaga kesinambungan
3)
Bagi
masyarakat
a) Masyarakat sebagai pengguna lulusan (user), sehingga
sekolah/madrasah harus mengetahui hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat
dalam konteks pengembangan PAI.
b)
Adanya kerjasama yang harmonis dalam
pembenahan dan pengembangan kurikulum PAI.[26]
a.
Kompetensi
Mata Pelajaran PAI Jenjang Pendidikan SMU/ SMK
1)
Mampu
membaca dan mengetahui hukum bacaanya, menulis, dan memahami ayat-ayat
Al-Qur’an serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
2)
Beriman
kepada Allah SWT, Maliakat-malaikat- Nya, kitab-kitab- Nya, Rasul- rasul- Nya,
dan qadla dan qadar dengan megetahui fungsi dan hikmahnya serta terefleksi
dalam sikap, prilaku, dan akhlaq peserta didikpada dimensi kehidupan
sehari-hari.
3)
Terbiasa
berprilaku dengan sifat-sifat terpuji, menghindari sifat-sifat tercela, dan
bertatakrama dalam kehidupan sehari-hari.
4)
Memahami
sumber hukum dan ketentuan hukum Islam tentang ibadah, muamalah, mawaris, munakahat,
jenazah, dan mampu egamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
5)
Memahami
dan mampu mengambil manfaat dan jikmah perkembangan Islam di Indonesia dan
dunia serta mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.[27]
Mata pelajaran agama
Islam itu secara keseluruhannya dalam lingkup Al-Qur’an dan al-hadis,
keimanan,akhlaq, fiqih/ibadah, dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang
lingkup pendidikan agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan
keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendir, sesama manusia,
mahkluk lainnya maupun lingkungannya (Hablun minallah wa hablun minannas).[28]
3.
Efikasi
Diri
a.
Pengertian
Efikasi diri
Menurut Alwilso,
efikasi diri diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam
situasi tertentu. Efikasi diri berhubungan dengan keyakinan bahwa diri mrmiliki
kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan.[29]
Efikasi adalah penilain diri apakah dapat
melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa
mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan.
Efikasi ini berbeda dengan apirasi (cita-cita), karena cita-cita
mengambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya (dapat dicapai), sedang efikasi
mengambarkan penilaian kemampuan diri.[30]
Bandura menyakini bahwa
“self-efficacy” merupakan elemen kepribadian yang krusial. Self efficacy
ini merupakan keyakinan diri (sikap percaya diri) terhadap kemampuan keyakinan
diri (sikap percaya diri) terhadap kemampuan sendiri untuk menampilkan tingkah
laku yang akan mengarahkannya kepada hasil yang diharapkan. [31]
Efikasi diri tidak
boleh dikacaukan dengan penilaian tentang konsekuwensi yang akan dihasilkan
dari sebuah prilaku, tetapi akan membantu mencapai keberhasilan. Orang yang
percaya diri terhadap kemampuan akademisnya akan mengharapkan nilai tinggi pada
ujian dan mengharapkan mendapatkan pekerjaan yang baik, sehingga mencapai
kesejahteraan secara pribadi maupun profesional. Sebaliknya orang yang kurang
percaya diri terhadap kemampuan akademik-nya akan membayangkan mendapatkan
nilai rendah sebelum mereka mulai ujian.[32]
b.
Sumber
Efikasi Diri
1) Pengalaman Performasi
Adalah prestasi
yang pernah dicapai pada masa yang telah lalu. Sebagai sumber, peformasi
masalalu menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya. Prestasi
masalalu yang bagus meningkatkan ekspektasi efikasi sedang kegagalan akan
menurunkan efikasi. Mencapai keberhasilan akan memberi dampak efikasi yang
berbeda beda, tergantung proses pencapaiannya.
2)
Pengalaman
Virkulasi
Diperoleh
melalui model sosial. Efikasi akan meningkat ketika megamati keberhasian orang
lain, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang yang kemampuannya
kira-kira sama dengan dirinya ternyata gagal.
Kalu figur yang diamati bereda dengan diri sipengamat, pengaruh
virkulasi tidak besar. Sebaliknya ketika mengamati kegagalan figur yang setara
dengan dirinya, bisa jadi orang tidak mau mengerjakan apa yang pernah gagal
dikerjakan figur yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama.
3)
Persuasi
Sosial
Efikasi diri juga dapat
diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalui persuasi sosial. Dapak dari sumber
ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang lain dapat
mempengarui efikasi diri. Kondisi itu rasa percaya pada pemberi persuasi, dan
sifat realistik dari apa yang dipersuasikan.
4)
Keadaan
Emosi
Keadaan emosi
yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengarui efikasi dibidang kegiatan itu.
Emosi yang kuat, takut, cemas, stress, dapat menguragi efikasi diri. Namun bisa
terjadi peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) dapat meningkatkan efikasi
diri.
c.
Dimensi
Efikasi Diri
Menurut
Bandura (1997), efikasi diri pada tiap individu akan berbeda antara satu
individu dengan yang lainnya berdasarkan tiga dimensi. Berikut ini adalah tiga
dimensi tersebut:[33]
1.
Dimensi
tingkat level
Berkaitan dengan
derajat kesulitan tugas ketika individu merasa mampu untuk melakukannya.
2.
Dimensi
Kekuatan
Dimensi ini
berkiatan dengan tingkat kekuatan dari keyakinan atau pengharapan individu
mengenai kemampuannya.
3.
Dimensi
Generelisasi
Dimensi ini
berkaitan dengan luas bidang tingkah laku yang mana individu merasa yakin akan
kemampuannya.
d.
Ciri-
ciri Efikasi Diri Rendah dan Tinggi
4.
Disiplin
a.
Pengertian
Disiplin
Kata disiplin berasal
dari kata yang sama dengan “disciple” , yakni seseorang yang belajar
dari atau sukarela mengikuti seseorang pemimpin. [34]
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, disiplin diartikan dengan tata tertib dan ketaatan atau
kepatuhan terhadap peraturan atau tata tertib. Kata disiplin sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Latin,
yaitu discciplina dan discipulus yang berarti perintah dan
peserta didik. Jadi, disiplin dapat diartikan sebagai perintah seorang guru
kepada peserta didiknya. Kemudia dalam New World Dictionary, disiplin
diartikan sebagai latihan untuk mengendalikan diri, karakter,, atau keadaan
tertib dan efisien.[35]
Sementara itu, The Liang Gie mengartikan disiplin sebagai suatu
keadaan tertib yang mana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi
tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan senang hati. Sementara
Good’s dalam Dictionary of Education mengartikan disiplin sebagai
beriku.
1)
Proses
atau hasil pengamatan atau pengendalian keinginan, motivasi, atau kepentingan
guna mencapai maksud atau untuk mencapai tindakan yang lebih efektif.
2)
Mencari
tindakan terpilih dengan ulet, aktif, dan diarahkan sendiri walaupun menghadapi
hambatan.
3)
Pengendalian
prilaku secara langsung dan otoriter
dengan hukuman atau hadiah.
4)
Pengekang
dorongan dengan cara yang tidak nyaman bahkan menyakitkan.
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan,
bahwa disiplin adalah suatu keadaan di mana sesuatuitu berada dalam keadaan
tertib, teratur dan semestinya, serta adasuatu pelanggaran-pelanggaran baik
secara langsung maupun tidaklangsung.
Dalam ilmu pendidikan, dikenal dua istilah yaitu disiplin dan
ketertiban. Menurut Suharsimi Arikunto(1993:114): ketertiban menunjukan pada
kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong
atau disebabkan oleh sesuatu yang datang dari luar, misalnya karena ingin
mendapatkan pujian dari atasan. Disiplin
menunjuk pada kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib
karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada kata hatinya. Biasanya
ketertiban terjadi lebih dahulu barukemudian berkembang menjadi disiplin.[36]
Dalam arti luas disiplin
mencakup setiap macam pengaruh yang ditunjukkan untuk membantu pesera didik
agar dia dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan
juga penting tentang cara menyelesaikan tuntutan yang mungkin ingin ditunjukkan
peserta didik terhadap lingkungannya.[37]
b.
Membangun
Tradisi Disiplin yang Kuat
Untuk membangun tradisi
disiplin yang baik, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya adalah:
1) Mengingat manfaat dan Kerugiannya Selalu mengingat manfaat besar
disiplin akan mendorong seseorang untuk disiplin. Sebagai seorang guru dan
murid, disiplin manfaatnya sangat besar, antara lain pembelajaran dapat
berjalan secara efektif dan baik.
2)
Mengingat
Cita-cita
Cita-cita
yang besar selalu membutuhkan kerja keras, semangat pantang menyerah, dan
prinsip maju tanpa mengenalmundur. Sekali maju, sebesar apa pun halangan dan
rintanganyang menghadang, harus dihadapi dengan sikap kesatria,
penuhkeberanian. Namun, untuk menggapai semua itu perlukedisiplinan. Cita-cita
besar tidak akan terwujud kalau seseorang tidak disiplin melakukan pekerjaan
yang berpengaruh besar dalam hidupnya jangka panjang. Sebelum mendisiplinkan
muridnya, seorang guru harus disiplin terlebih dahulu, sehingga murid-muridnya
segan dan mengikuti perintahnya
3)
Memiliki
Tanggung Jawab
Tanggung
jawab besar yang ada di pundak guru harus dilaksanakan sebagai amanat dari
negara, masyarakat, dannurani sendiri. Tanggung jawab mendidik dan mempersiapkanmasa depan anak bangsa membutuhkan keseriusan dan
kerjakeras seorang guru dan serang siswa harus belajar dengan rajinuntuk masa
depan.
4)
Pandai
Mengatur Waktu
Disiplin
melaksanakan kegiatan membutuhkan kemampuan mengatur waktu dengan baik. Dari
manajemen waktu tersebutbisa diketahui mana yang menjadi prioritas. Istilahnya,
manayang masuk kategori pekerjaan wajib (harus dilaksanakan),sunah (baik
dilakukan), makruh (banyak negatifnya), dan haram(larangan) dilakukan.
5)
Meninggalkan
Sesuatu yang tidak bermanfaat
Hal-hal
yang tidak manfaat, misalnya begadang malam, nonton televisi sampai malam,
ngobrol larut malam, dansejenisnya, seharusnya ditinggalkan. Seorang guru haru
memberikan contoh yang baik dan konstruktif kepada anak didik dan
masyarakatnya.[38]
c. Macam-macam Disiplin
Di dalam bukunya Jamal Ma‟mur Asmani yang berjudul “tips menjadi
guru inspiratif, kreatif, inovatif”, macam-macam disiplindibedakan menjadi
tiga, yaitu:[39]
1.
Disiplin
Waktu
2.
Disiplin
Menegakkan Aturan
3.
Disiplin
Sikap
Menurut Singgih Gunarsa (2002:136) bahwa fungsi utama disiplin
adalah untuk mengajarkan bagaimana mengendalikan diri dengan mudah, menghormati
dan mematuhi otoritas atau peraturan yang ada. Pemberian sanksi terhadap mereka
yang telah melakukan pelanggaran harus ditetapkan berdasarkan dan atau sesuai
dengan peraturan yang berlaku. Rumusan sanksi berat-ringannya hukuman harus
terlebih dahulu mendapat pertimbangan logis dan adil.
Dapat disimpulkan bahwa disiplin
adalah ketaatan peserta didik terhadap peraturan yang ditetapkan selama
kegiatan belajar mengajar di sekolah. Indikator yang diukur adalah: (1)
ketepatan masuk dan pulang sekolah, (2) ketaatan dalam menggunakan pakaian dan
atribut sekolah, (3) ketepatan dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah, dan (4)
kepatuhan terhadap perintah guru.[40]
B.
TELAAH
HASIL PENELITIAN TERDAHULU
Studi Komparasi Antara Siswa Kelas X Program Bina Prestasi
Dengan Program Reguler Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlaq Di MAN 2 Ponorogo
Tahun Pelajaran 2012/2013. Dalam
Penelitiannya Ayuni ( 2103309201), dengan hasil 1) tingkat hasil beljar kelas X
Program BINA Prestasi pada mata Pelajaran Aqidah Akhlaq di MAN2 Ponorogo masuk
dalam katagori cukup, 2) Tingkat hasil belajar siswa kelas X Program Reguler
pada mata Pelajaran Aqidah Akhlaq di MAN 2 Ponorogo masuk dalam katagori cukup,
3) Ada perbedaan tingkat hasil beljar siswa kelas X Program Binpres dengan
siswa kelas X Program Reguler pada mata Pelajaran Aqidah Akhlaq di MAN 2
Ponorogo.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Ayuni terdapat persaman
dengan penelitian ini diantarannya pada variabel hasil belajar sama-sama
merupakan variabel dependen dan mengunakan metode penelitian kuantitatif.
Perbedaanya adalah program bina prestasi dan program reguler, terdiri dari tiga
rumusan masalah, dan mengunakan teknik analisa komparasional.
Pengaruh Efikasi Diri dan Lingkungan Sekolah Terhadap Hasil
Belajar Mata Pelajaran PAI Siswa Kelas XI di SMKN Slahung Ponorogo Tahun
Pelajaran 2014/2015. Dalam
Penelitianya Ditha (210311091) dengan hasil 1) Tingkat Efikasi diri siswa kelas
XI SMKN Slahung Ponorogo Tahun pelajaran 2014/2015 dalam katagori cukup, 2)
Tingkat hasil belajar mata pelajaran PAI
XI SMKN Slahung Ponorogo Tahun pelajaran 2014/2015 dalam katagori cukup,
3) Variabel efikasi diri dan lingkungan sekolah secara signifikan terhadap
hasil belajar mata pelajaran PAI diri siswa kelas XI SMKN Slahung Ponorogo
Tahun pelajaran 2014/2015.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Ditha terdapat persamaan
dengan penelitian ini diantaranya pada variabel efikasi diri sama-sama merupakan
variabel independen, dan pada variabel hasil
beljar sama-sama merupakan variabel dependen. Perbedaanya adalah
lingkungan sekolah, terdiri dari empat rumusan masalah, dan mengunakan teknik
analisa Pengaruh.
Korelasi Antra Kondisi Lingkungan Keluarga Dengan Disiplin
Belajar Siswa Kelas X MA Al- Mu’karrom Sumoroto Ponorogo.Dalam penelitianya Yusrin Nor Azmi (210310068) dengan hasil 1)
Berdasarkan hasil data tentang disiplin belajar siswa kelas X MA Al- Mu’karrom
Sumoroto Ponorogo sebanyak 16 Responden
(65,39 %) Menyatakan katagori cukup, dan 11 responden (14,1%) menyatakan katagori kurang. Dengan
demikian secara umum dapat dikatakan bahwa disiplin belajar siswa kelas Siswa
Kelas X MA Al- Mu’karrom Sumoroto Ponorogo adalah cukup. Hal ini terbukti dalam
katagorisasi menunjukkan prosentasinya 65,39%.
C.
KERANGKA
BERFIKIR
1.
Jika
efikasi diri siswa tinggi, maka hasil belajar siswa baik.
2.
Jika
efikasi diri siswa rendah, maka hasil
belajar siswa buruk.
3.
Jika
disiplin belajar siswa tinggi, maka hasil belajar tinggi.
4.
Jika
disiplin belajar siswarendah, maka hasil belajar rendah
D.
HIPOTESIS
PENELITIAN
Hipptesis merupakan jawaban semelam plam pntara terhadap rumusan
masalah penelitian. [41]Hipotesis
statistika dalam penelitian ini adalah:
1.
Hipotesis
Nihilnya (Ho) : Efikasi diri dan
disiplin belajar tidak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar
mata pelajaran PAI siswa kelas X SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaraN 2016/2017.
2.
Hipotesis
Alternatif (Ha) : Efikasi diri dan
disiplin belajar Berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar mata
pelajaran PAI siswa kelas X SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017.
3.
VIII.
METODE
PENELITIAN
A.
Rancangan
Penelitian
Dalam rencana penelitian
ini, peneliti mengunakan jenis penelitian kuantitatif, yaitu enelitian yang
digunakan untuk meneliti pada populasi dan sempel tertentu. Teknik pengambilan
sempel dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan intrumen penelitian,
analisis dan bersifat kuantitatif statistik
dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapka.[42]Variabel
dalam penelitian ini yaitu:
1.
Variabel
independen (variabel bebas) variabel yang mempengarui atau yang menjadi sebab
perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Dalam penelitian ini, variabel independen
adalah efikasi diri siswa (x1) dan disiplin belajar (x2).
2.
Variabel
Dependen (variabel terikat) adalah variabel yang dipengarui atau yang menjadi
akibat, karena adanya variabel bebas.[43]
Variabel dependen adalah hasil belajar mata pelajaran PAI siswa SMK PGRI
Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017.
B.
Populasi
dan Sampel
1.
Populasi
Populasi adalah
wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subjek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk di
pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.[44]
Dalam penelitian ini populasinya adalah s siswa kelas X SMK
PGRI 2 Ponorogo Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 70 siswa yang terdiri dari dua kelas dengan jurusan Rekayasa
Perangkat Lunak yang masing-masing kelas terdiri dari 35 siswa.
2.
Sampel
Sampel adalah bagian jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak
mungkin mempelajarinya semua yang ada pada populasi, misalnya karena
keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari
populasi.
Dalam
pengambilan sampel ini, penelitian menggunakan teknik probelity sampling,
yaitu teknik sampling yang memberikan peluang yang sama kepada anggota populasi
untuk dipilih menjadi sampel. Cara demikian disebut juga random sampling
atau pengambilan sampel secara acak.[45]
Untuk itu, ukuran sampel didasarkan atas kesalah 5% dengan melihat tabel
penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu yang dikembangkan Issac dan
Michael. Jadi, sampel yang diperoleh dengan tingkat kesalahan 5% dari
jumlah populasi dalam penelitia
70.jumlah sampelnya adalah 60 . [46]
Untuk perhitungan sampel masing-masing kelas dapat dihitung menggunakan rumus:
= n x
Keterangan
:
: Sample kelas
n
: Sample Keseluruhan
N : Populasi keseluruhan
: Populasi Kelas
C.
Intrumen
Pengumpulan Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:
1.
Data tentang efikasi diri siswa kelas X.
2.
Data
tentang disiplin belajar di SMK PGRI 2 Ponorogo.
3.
Data
tentang hasil belajar mata pelajaran PAI siswa kelas X SMK PGRI 2 Ponorogo.
Gambar 1.1
Intrumen Pengumpulan Data
|
Judul
Peneliian
|
Variabel
Penelitian
|
Indikator
|
Teknik
|
|
PENGARUH SELF EFFICACY (KEYAKINAN DIRI) DAN
DISIPLINBELAJAR TERHADAPHASIL BELAJAR PAI
SISWA KELAS X DI SMK PGRI PONOROGO
TAHUN AJARAN 2016/2017
|
a.
Variabel
Independen
X1 : Self Efficacy
X2 : disiplin
belajar
b.
Variabel
Dependen
Y : Hasil belajar siswa
|
a.
Self
efficacy
1.
Keyakinan
2.
Percaya
diri
3.
Motivasi
4.
Kemampuan
diri
b.
Disiplin
belajar
1.
Ketaanterhadapwaktubelajar
2.
Ketaanterhadaptugas-tugaspelajaran
3.
Ketaanterhadappenggunaanfasilitasbelajar
4.
Ketaatanmenggunakanwaktudatangdanpulangsekolah
c.
hasil
belajar
Nilai
ujian akhir semester 1 mata pelajaran PAI siswa kelas XSMK PGRI 2 Ponorogo tahun Pelajaran 2016/2017
|
Angket
Angket
Angket
|
D.
Teknik
Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan cara yang peniliti gunakan untuk
mengumpulkan data. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.
Angket
Angket merupakan
teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel
yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan bagi responden. Angket
merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara meberi seperangkat
pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.[47]
Teknik ini digunakan untuk mengetahui bagaimana efikasi diri dan disiplin
belajar siswa SMK PGRI 2 Ponorogo.
Skala yang digunakan
adalah skala Likert yaitu digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan presepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala
Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel.
Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun
item-item intrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. [48]
Jawaban setiap item
intrumen yang mengunakan Skala Likert mempunyai gradasi dari sangat
positif, smapai sangat negatif. Untuk keperluan analisis kuantitatif, jawaban
itu dapat dapat diberi skor sebagai berikut:[49]
Gradasi Positif:
Selalu (SL) = 4
Sering (S) = 3
Kadang-kadang (KK) =
2
Tidak
pernah (TP) = 1
2.
Dokumentasi
Metode ini digunakan
untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa cactan, transkip,
buku, notulen rapat dan sebagainya.[50]
Metode dokumentasi ini akan peneliti lakukan untuk mencari informasi tentang
SMK PGRI Ponorogo, struktur Organisasi sekolah dan segala sesuatu yang
berkaitan dengan sekolah yang sudah dalam bentuk dokumen, terutama untuk
mencari informasi hasil belajar berupa Ujian Akhir Semester Gasal tahun
pelajaran 2016/2017 mata pelajaran PAI siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo.
E.
Teknik
Analisis Data
Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan
setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul yang
digunakan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk
menguji hipotesis yang telah diajukan.[51]
Teknik analisis ini menggunakan statistika. Teknik analis data
untuk menjawab rumusan masalah 1,2 dan 3 yang digunakan adalah dengan
menghitung mean dan standart
deviasi dengan rumus sebagai berikut:[52]
Rumus Mean : Mx
My=
Keterangan : Mean (rata-rata) yang dicari)
Mx dan My :
Jumlah dari skor-skor (nilai-nilai) yang ada
n :
Jumlah observasi
Sedangkan rumus
Standart Deviasi yang digunakan
yaitu:
=
SDy =
Keterangan :
SDx da SDy :
Standart Deviasi
dan
: Jumlah skor x dan y
setelah terlebih dahulu dikuadratkan
Mx dan My : Nilai rata-rata (Mean) skor x dan y
N :
Jumlah Observasi
Dari hasil diatas dapat
diketahui Mean dan SD. Untuk menentukan tingkat efikasi diri, disiplin belajar,
dan hasil belajar siswa apakah cukup, kurang, dibuwat pengelompokan dengan
rumus sebagai berikut: [53]
1. Skor lebih dari mean
+ 1.SD adalah tingkat baik
2. Skor kurang dari mean
– 1.SD adalah tingkat kurang
3. Skor antara mean –
1.SD sampai mean + 1.SD adalah tingkat cukup
Setelah dibuwat pengelompokan kemudian dicari frekuensinya dan hasilnya
diprosentasikan dengan rumus: [54]
P =
x 100%
Keterangan :
P : Angka Prosentase
Fi : Frekuensi
n : Number Of Cases
Sedangkan teknik analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan no 4
yaitu untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh efikasi diri dan disiplin belajar
terhadap hasil belajar mata pelajaran PAI siswa, dalam penelitian ini
menggunakan teknik analis berupa analisis regresi linier berganda, yaitu
sebagai berikut: [55]
=
+
+
=
=
=
Keterangan
:
y : Variabel dependen
ŷ : Hasil prediksi nilai y
x : Variabel independen
: Intercept populasi (nilai y jika x =
0)
b 1 : Slope (angka /arah koefisien regresi)
X1
: Slope (angka /arah koefisien regresi)
X2
: Mean
dari penjumlahan variable x
ȳ : Mean dari penjumlahan variabel y
n : Jumlah observasi
Untuk
uji signifikan model dalam analisis regresi linier berganda dapat dilakukan
dengan menggunakan tabel Anova (Analysis or Varians).
Hipotesis :
Ho :
0 (efikasi diri
dan disiplin belajar tidak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar
mata pelajaran PAI siswa kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajara
2016/2017.
Ha :
( Efikasi diri dan disiplin belajar
berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran PAI siswa
kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajara 2016/2017.
|
Sumber
Variasi
|
Degree
Frendom (df)
|
Sum Square
|
Mean Square
|
|
Regresi
|
P
|
SSR=(
|
MSR =
|
|
Eror
|
n- P-1
|
SSE=(
_(
+
|
MSE =
|
|
Total
|
n-1
|
SST = SSR
+ SSE, atau
SST =
_
|
|
Dari
perolehan hasil tabel Anova, kemudian di Statistik ujikan dengan rumus:
Ftabel =
F α (P ; n-P-1)
Tolak
jika F hitung
F tabel
Adapun untuk mengetahui tingkat pengaruh/ koefisien determinasinya
yaitu dapat dihitung dengan rumus:
Dimana :
R²
Koefisien determinasi / proposi keragaman
/variabilitas total di sekitar nilai tenggah ȳ yang dapat dijelaskan oleh model
regresi (biasanya dinyatakan dalam persen).
F.
Validitas
dan Reabilitas Intrumen
1.
Uji
Validitas Intrumen
Merupakan suatu
ukuran yang menunjukkan alat ukur tersebut benar-benar mengukur indikator dari
objek penelitian (Santoso, 2015). Uji validitas digunakan untuk mengetahui
apakah kuisioner yang disusun tersebut itu valid atau sahih.
Rumus yang
digunakan untuk mengukur instrumen tes dalam penelitian ini menggunakan rumus
korelasi product moment.[56]
Dengan rumus:
Keterangan:
: koefisien
korelasi antara variabel X dan Y
N : jumlah responden
X :nilai hasil uji coba
Y : nilai rata-rata harian
XY : jumlah hasil perkalian antara X dan Y
Apabila rxy
rtabel, maka kesimpulannya item kusioner
tersebut valid. Apabila rxy
rtabel, maka kesimpulannya item kusioner
tersebut tidak valid.
2.
Uji
Reliabilitas Intrumen
Pengujian alat
pengumpulan data yang kedua adalah
pengujian realibilitas intrumen. Gagasan pokok dalam konsep reabilitas adalah
sejauh mana hasil suatu proses pengukuran dapat dipercaya. Hasil suatu
pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran
terhadap suatu intrumen pengukuran dikatakan reliabel jika pengukuran konsisten,
sermat dan akurat.[57]
Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
Rumus Varian
masing-masing item (
²)
=
-
(
Rumus
Varian total (
)
=
–
(
Setelah
itu untuk mendapatkan informasi reliabilitasnya, nilai koefisien alpa
crounbch (
)
dibandingkan dengan
. Apabila
, maka intrumen penelitian dinyatakan
reliabel. Berikut adalah rumus koefisien alpa crounbch:[58]
=
Keterangan:
=
koefisien reliabilitas tes
K
= banyaknya butir item
=
jumlah varian skor dari tiap-tiap buutir item
=
varian total
1
= bilangan konstanta
IX.
SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Sistematika penyususnan
laporan hasil penelitian kuantitatif ini nantinya akan dibagi bagian utama,
yaitu awal, inti dan akhir.Untuk memudahkan dalam penulisan, maka pembahasan
dalam laporan penelitian penulis kelompokkan menjadi lima bab yang
masing-masing bab terdiri dari sub bab yang berkaitan.
Sistematika pembahasan
ini adalah:
Bab pertama, adalah
pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab dua, berisi
landasan teori dan atau telaah penelitian terdahulu, kerangka berfikir, dan
pengajuan hipotesis.
Bab ketiga adalah
metode penelitian yang berisi rancangan penelitian, populasi, sampel, intrumen
pengumpulan data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data.
Bab keempat adalah
hasil penelitian yang berisi gambaran umum lokasi penelitian, deskripsi data,
analisis data ( pengajuan hipotesis), interprestasi dan pembahasan.
Bab kelima adalah
penutupan yang berisi kesimpulan dan penelitian dan saran.
X.
OUTLINEDAFTAR ISI
HALAMAN
SAMPUL
HALAMAN JUDUL
LEMBAR
PERSETUJUAN PEMBIMBING
ABTRAK
KATA
PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR
LAMPIRAN
PEDOMAN
TRANSLITERASI
BAB I : PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
B.
Batasan Masalah
C.
Masalah
D.
Tujuan Penelitian
E.
Manfaat Penelitian
F.
Sistematika Pembahasan
BAB II :
LANDASAN TEORI DAN ATAU TELAAH HASIL PENELITIAN TERDAHULU, KERANGKA BERFIKIR,
DAN PENGAJUAN HIPOTESIS..
A.
Landasan Teori
B.
Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
C.
Kerangka berfikir
D.
Pengajuan Hipotesis
BAB III : METODE
PENELITIAN
A.
Rancangan Penelitian
B.
Populasi dan Sampel
C.
Intrumen Pengumpulan Data
D.
Teknik Pengumpulan Data
E.
Teknik Analis Data
BAB IV : HASIL PENELITIAN
A.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
B.
Deskripsi Data
C.
Analisi Data ( Pengujian Data)
D.
Interprestasi dan Pembahasan
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Penutup
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN-
LAMPIRAN
RIWAYAT
HIDUP
SURAT
IZIN PENELITIAN
SURAT
TELAH MELKUKAN PENELITIAN
PERNYATAAN
KEASLIAN TULISAN
XI.
DAFTAR
RUJUKAN
Abdul
Majid &Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi .
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004.
Abdurrahman, Mulyono Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT
Renika Cipta, 2003.
Ali Muhidin, Sambas. Analisis Korelasi, regresi, Dalam Jalur
Penelitian.
Bandung: Pustaka Setia, 2011.
Alwilso,
Psikologi Kepribadian. Malang:
UMM Press, 2009.
Ardi Wiyani, Novan. Menajemen Kelas. Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2013. 159.
Arikunto,
Suharsimi. Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta, 2006.
Dessy
Wulansari, Andhita. Penelitian Pendidikan: Suatu Pendidikan Praktik
dengan Menggunakan SPSS.
2012.
Hidayat, Syarif . Pengaruh
Kerjasama Orang Tua Dan Guru Terhadap Disiplin
Peserta Didik Di Sekolah Menengah Pertama (Smp)
Negeri Kecamatan Jagakarsa - Jakarta Selatan (Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013
Komsiyah,
Indah. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Teras, 2012.
Ma’mur
Asmani, Jamal Tips Menjadi Guru Inspiratif,
Kreatif, Inovatif.
Yogyakarta: DIVA Press, 2010.
Majid,Abdul Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya,
2012.
Muhaimin, H. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah,
Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012.
Muhammad
Irham, Novan Ardi Wijaya, Psikologi
Pendidikan. Jogjakarta,
Ar- Ruzz Media, 2013.
Muhammad
Thobrani & Arif Mustafa, Belajar dan Pembelajaran . Jogjakarta:
Ar- Ruzz Media, 2013.
Naim,
Ngainun. Charater Building. Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2012.
Purwanto,
M. Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung: PTrEMAJA Rosdakarya.
Rahmat Hidayat, Dede. Psikologi Kepribadian dalam Konseling.
Bogor: Ghalia
Indonesia, 2011.
Rohani,
Ahmad. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: PT Renika Cipta, 2010.
Sudijono, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT
RajaGrafindo
Persada, 2012.
Sudjana,
Nana. Cara belajar siswa aktif . Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996.
Sugiyono,
Metode Penelitian Pendidikan:
Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan
R&D. Bandung:
Alfabeta, 2013.
Syamsuddin
Makmun, Abin Psikologi Kependidikan. Jakarta : PT. Remaja
Rosdakarya, 2007.
Syamsul
Yusuf & Achmad Jutika Nurihsan Teori Kribadian. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2007.
Syaodih
Sukmadinata,Nana Landasan
Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2011.
Tjandarasa, Meitasari. Child Development. PT Gelora Aksara
Pratama, 1999. 82.
Undang- Undang dan peraturan Pemerintah RI TENTANG PENDIDIKAN,
Direktorat jendral Pendidikan Islam Depatermen Agama RI, TAHUN 2006
Widyaningrum, Retno. Statistika. Yogyakarta:Pustaka Felicha,
2013.
Nur Ghufron M. & Risnawati S,
Rini. Teori—Teori Psikologi . Jogjakarta: AR-
RUZZ MEDIA, 2014.
|
N0
|
Kegitan
|
November
|
Desember
|
Januari
|
Februari
|
Maret
|
April
|
Mei
|
Juni
|
||||
|
1.
|
Pembekalan Skripsi
|
ü
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
2.
|
Pengajuan Judul
|
ü e
|
ü
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
3.
|
Penyusunan Proposal
|
|
ü
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
4.
|
Pengumpulan Proposal
|
|
|
ü
|
|
|
|
|
|
||||
|
5.
|
Seminar proposal
|
|
|
ü
|
|
|
|
|
|
||||
|
6.
|
Ujian Proposal
|
|
|
ü
|
|
|
|
|
|
||||
|
7.
|
Penulisan Skripsi
|
|
|
ü
|
ü
|
ü
|
|
|
|
||||
|
8.
|
Ujian Munaqasah
|
|
|
|
|
|
ü
|
|
|
||||
XII.
JADWAL
PENELITIAN
XIII.
LEMBAR
PENGESAHAN JUDUL, KATA KUNCI DAN RUMUSAN MASALAH/ MATRIK PENELITIAN.
[1] Undang- Undang dan peraturan Pemerintah RI TENTANG PENDIDIKAN,
Direktorat jendral Pendidikan Islam Depatermen Agama RI, TAHUN 2006
[2] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, ( Jakarta : PT.
Remaja Rosdakarya, 2007), 22.
[3] Muhammad Irham, Novan Ardi Wijaya, Psikologi Pendidikan (Jogjakarta, Ar- Ruzz
Media, 20130, 19
[4] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), 4.
[5]Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), 158-160.
[6]Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi
Proses Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), 179.
[8]Syamsul Yusuf
LN, Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2008), 135.
[9]Dede Rahmat
Hidayat, Psikologi Kepribadian dalam Konseling ( Bogor: Ghalia
Indonesia, 2011), 156.
[10] Ngainun Naim, Charater Building (Jogjakarta: Ar- Ruzz
Media, 2012), 142- 143.
[12] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan ( Bnadung: Remadja
Karya CV, 1984), 80
[13] Nana Sudjana, Cara belajar siswa aktif (Bandung: Sinar Baru
Algesindo, 1996), 5
[14] Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar
(Jakarta: PT Renika Cipta, 2003), 37-38
[15] Muhammad Thobrani & Arif Mustafa, Belajar dan Pembelajaran
( Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2013), 22.
[16] Ibid., 24
[17] Muhammad Thobrani & Arif Mustafa, Belajar dan Pembelajaran
( Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2013),23-24.
[18] Indah Komsiyah, Belajar dan Pembelajaran ( Yogyakarta: Teras,
2012), 90.
[21] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan ( Bandung: PTrEMAJA
Rosdakarya, 2007), 107.
[22] Abdul Majid &Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis
Kompetensi ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), 130. ( Bnadung: PT
Remaja Rosdakarya, 2012), 11-13.
[24] Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran ( Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2012),11-13.
[25] Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran ( Bnadung: PT Remaja
Rosdakarya, 2012), 16-18.
[26] H. Muhaimin, Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam di
Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2012), 11-12.
[27] Abdul Majid &Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis
Kompetensi ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), 130. ( Bnadung: PT
Remaja Rosdakarya, 2012), 153-154.
[29] Alwilso, Psikologi
Kepribadian ( Malang: UMM Press, 2009), 287.
[31] Syamsul Yusuf & Achmad Jutika Nurihsan Teori Kribadian (
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), 135.
[32] Dede Rahmat Hidayat, Ppsikologi Kepribadian dalam Konseling (
Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), 156.
[33] M. Nur Ghufron & Rini Risnawati S, Teori—Teori Psikologi (
Jogjakarta: AR- RUZZ MEDIA, 2014), 80.
[34] Meitasari Tjandarasa, Child Development (PT Gelora Aksara
Pratama, 1999), 82.
[35] Novan ArdI Wiyani, Menajemen Kelas ( Jogjakarta: Ar- Ruzz
Media, 2013), 159.
[36]Syarif Hidayat, Pengaruh Kerjasama Orang Tua Dan GuruTerhadap
Disiplin Peserta Didik Di SekolahMenengah Pertama (Smp) NegeriKecamatan
Jagakarsa - Jakarta Selatan (Volume 1
Nomor 2 Juli-Agustus 2013), 95.
[37] Ahmad Rohani, Pengelolaan
Pengajaran (Jakarta: PT Renika Cipta, 2010), 155.
[38] Jamal Ma’mur Asmani, Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, Inovatif,
(Yogyakarta: DIVA Press, 2010), hlm. 88-93.
[40]Syarif Hidayat, Pengaruh Kerjasama Orang Tua Dan GuruTerhadap
Disiplin Peserta Didik Di SekolahMenengah Pertama (Smp) NegeriKecamatan
Jagakarsa - Jakarta Selatan (Volume 1
Nomor 2 Juli-Agustus 2013), 95.
[41]Sugiyono, Metode Penelitian
Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R& D( Bandung:
Alfabeta, 2013), 64.
[42] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan ( Bandung: Alfabeta,
2015), 14
[44] Sugiyono, Metode Penelitian, 117.
[49] Sugiyono, Metode Penelitian, 94.
[50] Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktik
( Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 231.
[51] Sugiyono, Metode Penelitian,
147.
[52] Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan ( Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2012), 81.
[54] Retno Widyaningrum, Statistika ( Yogyakarta:Pustaka Felicha,
3013), 20.
[55] Andita Dessy, Penelitian Pendidikan : Suatu Pendidikan Praktik
dengan Menggunakan SPSS, ( Ponorogo: STAIN Po PRESS), 125-128.
[56] Andita Dessy, Penelitian Pendidikan : Suatu Pendidikan Praktik
dengan Menggunakan SPSS, 84.
[57] Sambas Ali Muhidin, Analisis Korelasi, regresi, Dalam Jalur
Penelitian (Bandung: Pustaka Setia, 2011), 37.
[58] Andhita Dessy Wulansari, Penelitian Pendidikan: Suatu Pendidikan
Praktik dengan Menggunakan SPSS, 90.
Borgata to make $20 million in casino renovation project
BalasHapusATLANTIC 충청남도 출장마사지 CITY (AP) — 문경 출장안마 ATLANTIC CITY, N.J. 보령 출장샵 (AP) — Borgata will make 인천광역 출장샵 $20 million in casino renovation work this summer. 상주 출장샵
joya shoes 885l3ghxig641 joya sko danmark,joya sko norge,joya skor stockholm,joya cipő,joya zapatos,joya schoenen,joya scarpe,joya chaussures,joya schuhe,joya schuhe deutschland joya shoes 193n3uwkgm119
BalasHapus