INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017



INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017

TugasMetodologiPenelitianKualitatif



 






Disusun oleh:

Fida Laila Rahmayanti
210313299
                                                                                   


JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
2016



I.                   Judul
INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017
II.                Latar Belakang Masalah
Selama ini Pendidikan Agama Islam di sekolah sering dianggap kurang berhasil dalam merubah sikap dan perilaku keberagamaan peserta didik serta membangun moral dan etika bangsa. Indikator-indikator kelemahan yang melekat pada proses Pendidikan Agama Islam di sekolah, yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut 1) PAI kurang bisa mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi makna dan nilai atau kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik. 2) PAI kurang dapat berjalan bersama dan bekerjasama dengan pogram-program pendidikan non agama. 3)PAI kurang mempunyai relevansi terhadap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat atau sehingga peserta didik kurang menghayati nilai-nilai ibadah sebagai nilai yang hidup dalam masyarakat.[1]  
Nilai-nilai ibadah yang ditanamkan pada diri seseorang pastinya bertujuan untuk kebaikan, baik buat diri individu itu sendiri ataupun berdampak bagi lingkungan sekitar. Perilaku keberagamaan seseorang sangat menentukan pola tingkah laku individu dalam kehidupannya.
Selama ini telah banyak dilakukannya kegiatan-kegiatan keagaamaan baik dilingkungan individu maupun lingkungan sosial, namun kenyataannya tidak banyak berpengaruh terhadap hasil dari kegiatan kegaamaan tersebut. Suatu misal, dengan adanya kegiatan shalat berjamaah, namun kebanyakan dari jamaahnya tidak menerapkan apa yang diperoleh dari nilai-nilai ibadah shalat jamaah tersebut. 
Kekurangan tersebut banyak disebabkan karena rendahnya kesadaran diri akan pentingnya ibadah dalam mewujudkan kehidupan yang baik serta bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Manfaat-manfaat yang dapat diambil diantaranya, tentram dalam menjalani kehidupan, mudah dalam melakukan aktifitas sehari-hari, ringan dalam melakukan segala aktivitas, dan yang pasti mendapatkan ridho Allag SWT.
Ibadah berfungsi sebagai  acuan individu dalam melakukan segala aktifitas, baik buruknya ibadah seseorang dapat dilihat dari tingkah lakunya sehari hari. Jika ibadahnya baik maka perilakunya dalam kehidupan juga akan baik, begitu pula sebaliknya, apabila ibadah seseorang kurang baik maka bisa dipastikan perilaku seseorang tersebut juga kurang baik.
Kedudukan ibadah dalam kehidupan manusia sangatlah penting, seseorang harus mampu menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, jika individu mampu menaati segala perintahNya maka hal tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat membentuk perilaku kebergamaan seseorang. Dengan demikian maka dapat meminimalisir ketidak taatan seseorang terhadap agama, karena setiap individu pastinya berbeda dalam memahami apa artinya nilai-nilai ibadah yang sering dilakukannya sehari-hari.
Di SMP Negeri 4 Ponorogo terdapat banyak kegiatan ibadah diantaranya yaitu shalat jum’at, Shalat dhuha berjamaah, shalat dhuhur berjamaah, serta kultum pagi setiap hari,  yang dalam kegiatan itu para guru berusaha menanamkan nilai-nilai ibadah yang terkandung didalamya agar siswa-siswi dapat mengambil pelajaran dari kegiatan tersebut yang pada akhirnya perilaku siswa-siswi pun juga akan baik serta dapat menumbuhkan jiwa agamis yang bermanfaat bagi siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo baik untuk kehidupan sekarang ataupun dimasa yang akan datang.
Namun pada kenyataannya, belum seluruh siswa-siswi mampu mengambil pelajaran dari kegiatan ibadah tersebut, sebagai contoh masih banyak siswa-siswi yang tidak mengikuti kegiatan ibadah tersebut, berati pada diri siswa-siswi belum semuanya dapat memahami pentingnya ibadah yang dilakukan setiap harinya tersebut.
Berdasarkan fenomena tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017
III.             Fokus Penelitian
Dari beberapa penjelasan masalah diatas peneliti menganggap cukup luas cakupnnya, selain itu kemmpuan peneliti juga terbatas. Oleh karena itu peneliti memerlukan focus penelitian yang jelas agar tujuan yang diinginkan tercapai. Adapun fokus masalah dalam penelitian ini difokouskan pada bagaimana menanamkan nilai-nilai ibadah kepada siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
IV.             Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah pemahaman nilai-nilai ibadah siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo?
2.      Bagaimanakah perilaku Keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo?
3.      Apakah faktor pendukung dan penghambat internalisasi nilai-nilai ibadah dalam meningkatkan perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo?
V.                Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan:
1.      Pemahaman nilai-nilai ibadah siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
2.      Perilaku Keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
3.      Faktor pendukung dan penghambat internalisasi nilai-nilai ibadah dalam meningkatkan perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
VI.             Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat yaitu:
1.      Manfaat Teoritis
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mengembangkan nilai-nilai ibadah dalam membentuk perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi sekolah, sebagai sumbangan pemikiran dalam memecahkan masalah dalam menginternalisasikan nilai-nilai ibadah dalam membentuk perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
b.      Bagi pendidik, sebagai bahan acuan dalam membimbing, mendidik, dan menanamkan nilai-nilai ibadah dalam membentuk perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
c.       Bagi Peneliti, sebagai bekal untuk meningkatkan pengetahuan serta menambah wawasan dibidang pendidikan.
VII.          Kajian Teori Dan Atau Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
A.    Kajian Teori
1.      Nilai-nilai Ibadah
a.       Pengertian Ibadah
Pengertian ibadah menurut beberapa pendapat yaitu:
1)      Ibadah: peraturan-peraturan yang mengatur hubungan langsung dengan Allah SWT (ritual) yang terdiri dari rukun Islam (mengucapkan syahadat, mengerjakan shalat, zakat, puasa, dan haji) dan ibadah lainnya yang berhubungan dengan rukun Islam yaitu ibadah badani (wudhu, mandi, menghilangkan najis, tasbih, istigfar, khitan dan pengurusan jenazah) dan mali (qurban, aqiqah,waqaf, fidyah, hibbah)
2)      Ibadah secara umum, perilaku dalam semua aspek kehidupan yang sesuai dengan ketentuan Allah SWT yang dilakukan dengan ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah SWT, ibadah dlam bentuk inilah yang dimaksud dengan tugas hidup manusia.
3)      Ibadah dalam arti khusus, semuanya dilarang kecuali yang diperintahkan dan dicontohkan.[2]
4)      Ibadah, amal shaleh dan latihan spiritual yang berakar dan diikat oleh makna yang hakiki dan bersumber dari fitrah manusia.[3]
5)      Ibadah, persembahan yaitu sembahan manusia kepada Allah SWT sebagai wujud penghambaan diri kepada Allah SWT.[4]
b.      Hakikat Ibadah
Setiap sistem berpikir memerlukan sarana perealisasian atau perwujudan yang dilengkapi dengan penyemangat, usaha dan gerak anggota tubuh yang sistematis. Jika perwujudan itu dilakukan secara berkelompok, maka setiap kelompok dibentuk berdasarkan, usia, intelektual dan kekedudukan seseorang. dengan demikian, kelompok tersebut selaras dalam hal karakter psikologis, daya intelektual, dan kemampuan fisik. Hal di atas membuktikan bahwa dunia manusia itu merupakan dunia yang tidak dapat memisahkan, tubuh, akal, dan spiritualnya. Konsep seperti itulah yang dewasa ini dianut oleh manusia-manusia modern.
Berbagai ibadah dalam Islam lebih merupakan amal shaleh dan latihan spiritual yang berakar dan diikat oleh makna yang hakiki dan bersumber dari fitrah manusia. Pelaksnaan ibadah merupakan pengaturan hidup seorang muslim, baik itu melalui pelaksanaan shalat, pengaturan makan tahunan melalui puasa, pengaturan kehidupan sosial ekonomi muslim yang bertanggung jawab melalui zakat, pengaturan atau penghidupan integritas seluruh umat Islam dalam ikatan perasaan sosial melalui haji.  Yang jelas pelaksanaan ibadah telah menyatukan umat Islam dalam satu tujuan, yaitu penghambaan kepada Allah semata serta penerimaan berbagai ajaraan Allah, baik itu untuk ursan duniawi maupun ukhrawi.
Setiap detik, menit, jam, atau hari yang diisi ibadah oleh seorang muslim, tiada lain, kecuali sebagai hubungan yang abadi antara dirinya dengan Allah sekaligus sebagi peninjak nafsu agar senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah. Karena itu, seorang muslim bangun pada saat fajar atau tidur setelah isya’ untuk berdzikir kepada Allah, hanya memakan makanan halal, dan menahan diri dari makanan yang dilarang memakannya oleh Allah, memasuki rumah, tidur, dan kegiatan lainnya selalu disertai doa mengingat Allah, atau berdzikir kepada Allah ketika dianugrahi anak.[5]
c.       Tahap-tahap Ibadah
Ibadah ada dua macam, ibadah yang umum (ibadaha ‘aam) dan yang khusus (ibadah mahdlah). Kedua macam ibadah itu perlu dilakukan seperti nasihat Al-Ghazali berikut ini. Isi uraian ini dapat dijadikan salah satu teknik internalisasi.
Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya (Al-Dzariyat:56). Menurut Al-ghazali beribadah itu ada tahapan-tahapannya, yaitu:
1)      Tahap Ilmu, ibadah itu harus dilakukan sesuai petunjuk Allah melalui rasul-Nya. Karena itu hukum ibadah dan cara ibadah  harus diketahui lebih dahulu.
2)      Tahap Taubat, taubat merupkan langkah awal dalam membersihkan diri, lahir maupun batin. Dengan pembersihan yang sempurna hijab yang menghalangi makhluk dengan khalik akan terbuka. Salah satu hijab itu adalah dosa, dengan taubat kita memperoleh pertolongan untuk mencapai ketaatan. Ini berati dosa dapat merintangi seseorang dalam mematuhi perintah Allah. Dengan bertobat amal akan diterima Allah.
3)      Tahap godaan, sebelum merasakan nikmatnya beribadah, seperti nikmatnya shalat, puasa, kita pasti melalui tahap yang disitu kita memperoleh godaan, godaan beribadah tersebut antara lain, yaitu:
a)      Dunia dan isinya, dunia dan isinya ini selain disediakan Allah untuk kita juga dapat menjadi penggoda beribadah.
b)      Makhluk, itu akan menyibukkan sehingga lalai dalam beribadah. Selain itu makhluk sering merusak tujuan beribadah karena itulah perlu uzlah
c)      Setan, adalah musuh nyata manusia(yasin: 60)
d)     Hawa nafsu, adalah musuh dari dalam diri.
4)      Tahap penghalang, dalam beribadah seseorang harus dapat mencegah penghalang-penghalang yang akan mengganggu ketenangan dan kekhusuaan dalam menjalankan ibadah. Penghalang-penghalang itu adalah sebagai berikut:
a)      Rezeki dan tuntutan hawa nafsu, keduanya dapat diatasi dengan tawakkal.
b)      Tawakkal menjadikan seseorang bebas dari beban duniawi sehingga ia dapat beribadah dengan tenang.orang bertawakkal tidak akan pernah takut kekurangan rezeki.
c)      Keingian meraih tujuan, untuk menatasi masalah ini kita harus menyerahkan segala persoalan kepada Allah.
d)     Kurang ridla menerima takdir.
e)      Musibah, harus dihadapi deengan kesabaran.
5)      Tahap pendorong Ibadah
a)      Khauf, takut Allah tidak senang kepadanya.
b)      Raja’, rasa optimis Allah akan senang padanya. Makanya raja’dan khauf harus seimbang.
6)      Tahap perusak Ibadah
Perusak itu ialah seringkali tidak kita sadari, misalnya:
a)      Riya’, agar dilihat orang lain untuk mengharap pujian
b)      Ujub, orang yang merasa mengerjakan suatu pekerjaan tanpa pertolongan Allah.
7)      Tahap Puji dan Syukur, mensyukuri nikmat yang besar dan memuji-Nya atas karunia-Nya.[6]
d.      Hikmah Pendidikan Ibadah
Melalui peribadahan, banyak hal yang dapt diperoleh oleh sorang muslim yang kepentingannya bukan hanya mencakup individual, melainkan bersifat luas dan universal. Diantara hikmah pendidikan yang dapat kita ambil adalah:
1)      Dalam konsep Islam melalui ibadah manusia diajari untuk memiliki intensitas kesadaran berpikir. Dilihat dari segi syariatnya, ibadah yang diterima Allah adalah ibadah yang memiliki dua syarat, syarat yang dimaksud adalah,  keikhlasan dan ketaatan kepada Allah, pelaksanaan ketaatan sesuai dengan cara yang dilakukan Rasulullah SAW yang didalamnya terdapat kontinuitas dalam ketundukan kepada Allah, perenungan atas keagunganNya, dan perasaan patuh kepadaNya. Selain itu, didalamnya pun harus terdapat kontinuitas kesadaran manusia untuk menyembah Allah dan menyelaraskan ibadah itu dengan syariat atau ajaran hukum, baik dari segi bentuk maupun topiknya. Seluruh amal seerang muslim disebut ibadah jika ditujukan hanya untuk Allah.
2)      Dimanapun seorang muslim berada, melalui kegiatan yang ditujukan semata-mata untuk ibadah kepada Allah, dia akan selalu merasa terikat oleh ikatan yang berkesadaran sistematis, kuat, serta didasarkan atas perasaan jujur dan kepercayaan diri. Dikatakan berkesadaran karena pada dasarnya tidak ada  ikatan yang luput dari perhatian masyarakat atau dilakukan secara membabi buta. Sesungguhnya  amal ibadah yang dilakukan melalui kerja sama antara seorang muslim dengan muslim lainnya akan melahirkan rasa kebersamaan dan kekuatan yang lebih besar. Selain itu secara pribadi pun individu muslim akan merasakan kelezatan dari sikap mengutamakan Allah sebagai sumber. Hasilnya jika ternyata ikatan itu pecah, karena alas an yang prinsipil, setiap individu muslim tidak akan merasakan kehilangan jati diri. Tanpa bersatu secara lahir, landasan kesamaan akidah akan tetap menyatukan mereka. Selain itu, dalam diri seorang muslim, selama dia mampu, selalu tertanam keutamaan beribadah secara berjamaah, daripada munfarid. Umat Islam mendapatkan hambatan, mereka akan menyatukan hati dan jiwa melalui keimanan sehingga mereka menjadi tubuh dan jiwa yang satu. 
3)      Ibadah dapat mendidik jiwa seorang muslim untuk mersakan kebanggaan dan kemuliaan terhadap Allah. Dia adalah yang paling besar dari segala yang besar dan paling Agung dari segala yang Agung. Dalam kekuasaan Allahlah kehidupan kaum tirani, Allah dapat menjatuhkan mereka kapan pun Dia berkehendak. Dalam kekuasaan-Nyalah kematian, kehidupan, rezeki, kerajaa, keagungan, dan kekuasaan. Konsep seperti itulah yang senantiasa diulang-ulang oleh seorang muslim dalam ibadah hariannya hingga ibadah tahunannya.[7]
4)      Ibadah yang terus-menerus dilakukan dalam kelompok yang padu, di bawah panji Allah yang satu, dan semuanya bermunajatkepada Rabb yang satu, dan semuanya bermunajat kepada Rabb yang satu, akan melahirkan rasa kebersamaan sehingga kita terdorong untuk saling mengenal, saling menasehati, atau bermusyawarah. Dari situ akan lahir kaum muslim yang selalu bermusyawarah dengan dasar kerja sama, persamaan, dan keadilan. Betapa tidak, di hadapan Allah, mereka adalah umat yang satu. Ibadah pun akan mendidik umat Islam menegakkan keadilan dalam bermuamalah. Artinya setiap orang disikapi sesuai dengan hak, karakter diri, keterampilan, kemampuan, ketakwaan, dan kesalehan.
5)      Melalui ibadah seorang muslim punakan terdidik untuk memiliki kemampuan dalam melakukan berbagai keutamaan secara konstan dan mutlak. Artinya, setiap gerak seorang muslim, tidak tterbatas pada batasan geografis, bangsa, kepentingan nasional, atau partai yang berkuasa. Jelasnya pergaulan seorang muslim itu meliputi seluruh   manusia. Namun demikian, sebagai konsekuensi dari keyakinan bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya, dimana pun berada, seorang muslim tetapsebagai muslim yang berakhlak mulia dan memperhatikan segi kemanusiaan.[8]
6)      Pendidikan yang berdasarkan ibadah dapat membekali manusia dengan muatan kekuatan yang intensitasnya tinggi dan abadi karena semuanya  bersumber dari kekuatan Allah, kepercayaan kepada Allah, optimisme yang bersumber dari pertolongan Allah  dan pahala surge, serta kesadaran dan cahaya yang bersumber dari Allah. Muatan inilah yang mendorong seorang muslimuntuk tampil, memberinya kemampuan yang terus menerus untuk berjuang dan berjihad, serta menyuguhkan kepada manusia kekuatan yang hidup, produktif, dan berkesadaran. Setiap muslim harus memiliki muatan dinamis yang dapat menyiagakan kalbu dan menerangi jalan. Dengan demikian, setiap muslim akan bangkit dari keterpukrukannya seklaigus memperoleh cahaya ilahi ketika sekelilingnya gulita sehingga dia akan menunjukkan segala perbuatan, muamalah, dan penyiapan bekal untuk akhiratnya melalui ibadah kepada Allah. Dalam islam, konsep perbuatan yang digolongkan ibadah sangat jelas, yaitu selama tujuan pelaksanaan perbuatan tersebut diarahkan kepada Allah.
7)      Sesungguhnya mendidik seorang muslim dengan ibadah akan memperbaharui jiwa yang bukan hanya karena di dalamya ada muatan cahaya, kekuatan, perasaan, dan harapan melainkan karena melalui ibadah seorang muslim memiliki sarana untuk mengekspresikan tobatnya. Dengan tobat itu, kesalahan dan dampak dosa yang dilakukan anggota tubuh akan hilang. Terjadinya sebuah dosa menunjukkan berpalingnya manusia dari kebenaran, ketaatan, dan ibadah kepada Allah. Melalui tobata kepada Allah, yang disertai dengan niat dan realisasi untuk tidak kembali melakukan perbuatan dosa tersebut. Melalui tobat, perbuatan dosa itu diganti dengan amal shaleh. Tobat merupakan ekspresi ibadah yang bertumpu pada kesadaran bahwa Allah, dengan segala nikmat, keperkasaan, dan hukumanNya. Kesadaran itu menuntut adanya peneyesalan atas apa yang luput dari kewaspadaan manusia untuk menaati Allah.[9]
2.      Perilaku Keberagamaan
a.       Pengertian perilaku keberagamaan
Perilaku keagagamaan yaitu merupakan ungkapan bagaimana manusia dengan pengkondisian operan belajar hidup di dunia yang dikuasai oleh hukum ganjaran dan hukuman.
b.      Perspektif Tokoh Pskologi dan Sosiologi Tentang Konsep Keberagamaan
Menurut Glock dan Stark Ada lima macam dimensi keberagamaan yaitu, dimensi keyakinan (ideologis), dimensi peribadatan atau praktek agama  (ritualistik), dimensi penghayatan (eksperiensial), dimensi pengalaman (konsekuensial), dimensi penegetahuan agama (intelektual). Penejelasan dari kelima dimensi tersebut adalah:[10]
1)      Dimensi keyakinan. Dimensi ini  berisi pengharapan-pengharapan di mana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat kepercayaan di mana para penganut diharapkan akan taat. Walaupun demikian, isi dan ruang lingkup keyakinan itu bervariasi tidak hanya di antara agama-agama, tetapi seringkali juga diantara tradisi-tradisi dalam agama yang sama.
2)      Dimensi praktek agama. Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.
3)      Dimensi pengalaman. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pangharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subjektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir (kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatan supernatural). Seperti yang telah kita ungkapakan, dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan sensasi-sensai yang dialami seseorang atau didefinisikan oleh suatu kelompok keagamaan atau suatu masyarakat.
4)      Dimensi pengetahuan agama. Dimensi ini mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuna mengenai dasar-dasar keyakinan, kitab suci dan tradisi-tradisi. Dimensi ini jelas berkaitan dengan yang lain, karena pengetahuan mengenai suatu keyakinan adalah syarat bagi penerimanaya.
5)      Dimensi pengalaman. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktek, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Istilah “kerja” dalam pengertian teologis dignakan disini. Walaupun agama banyak menggariskan bagaimana pemeluknya seharusnya berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari, tidak sepenuhnya jelas sebatas mana konsekuensi-konsekuensi agama merupakan bagian dari komitmen keagamaan atau semata-mata berasal dari agama.
c.       Perspektif  Islam tentang konsep keberagamaan
Manusia adalah makhluk yang berketuhanan atau disebut homodivinous  (makhluk yang percaya adanya Tuhan) atau disebut juga homoreligious artinya makhluk yang beragama. Berdasarkan hasil riset dan observasi, hampir seluruh ahli ilmu jiwa sependapat bahwa pada diri manusia terdapat semacam keinginan dan kebutuhan yang bersifat universal, kebutuhan ini melebihi kebutuhan-kebutuhan lainnya, bahkan mengatasi kebutuhan akan kekuasaan. Keinginan akan kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan kodrati, berupa keinginan untuk mencintai dan dicintai Tuhan.
Dalam pendangan Islam, sejak lahir manusia telah mempunyai jiwa agama, jiwa yang mengakui adanya zat yang Maha Pencipta dan Maha Mutlak yaitu Allah SWT. Sejak di dalam roh, manusia telah mempunyai komitmen bahwa Allah adalah tuhannya.
Islam memandang ada suatu kesamaan diantara sekian perbedaan manusia. Kesamaan itu tidak akan pernah berubah karena pengaruh ruang dan waktu. Yaitu potensi dasar ber iman (aqidah tauhid) kepada Allah. Aqidah tauhid merupakan fitrah sifat dasar manusia sejak misaq dengan Allah. Sehingga manusia pada prinsipnya selalu ingin kembali kepada sifat dasarnya meskipun dalam keadaan yang berbeda-beda.
Pandangan Islam terhadap fitrah inilah yang membedakan kerangka nilai dasar pendidikan Islam dengan yang lain. Dalam konteks makro, pandangan Islam terhadap kemanusiaan ada tiga implikasi dasar yaitu, pertama, implikasi yang berkaitan dengan pendidikan di masa depan, dimana pendidikan diarahkan untuk mengembangkan fitrah seoptimal mungkin dengan tidak mendikotomikan materi. Kedua, tujuan (ultimate goal) pendidikan, yaitu muttaqin yang akan tercapai bila manusia menjalankan fungsinya sebagai Abdullah dan khalifah sekaligus. Ketiga, muatan materi dan metodologi integralistik dan disesuiakan dengan fitrah manusia.
Manusia adalah hasil dari proses pendidikan yang mempunyai tujuan tertentu. Tujuan pendidikan akan mudah tercapai kalau ia mempunyai kesamaan dengan sifat-sifat dasar dan kecenderungan manusia pada obyek-obyek tertentu. Menrut Abdurrahman Shaleh Abdullah, praktek kependidikan yang tidak dibangun di atas dasar konsep yang jelas tentang sifat dasar mansusia pasti akan gagal.
Berkaitan dengan sifat dasar inilah pendidikan Islam dirumuskan untuk membentuk insan muttaqin yang memiliki keseimbangan dalam segala hal berdasarkan iman yang mantap untuk emndapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. [11]
B.     Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
1.      NAMA    :      BUSTANUL YULIANI
JUDUL   :      Internalisasi Nilai Religius dalam pendidikan Karakter Melalui   pembelajaran PAI di MAN 2 Ponorogo tahun Ajaran 2011/2012.
HASIL    :      1) internalisasi nilai religius bersyukur kepada Tuhan dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran PAI di MAN 2 ponorogo dengan memberikan contoh, pesan, motivasi, terkait dengan rasa bersyukur kepada Tuhan. Guru juga membiasakan untuk berdoa sebelum dan sesudah pelajaran dan mengawali pembelajaran dengan mengucapkan basmalah dan mengakhiri dengan mengucap hamdallah. 2) internalisasi nilai religius mengagumi kebesaran Tuhan dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran PAI di MAN 2 Ponorogo dengan mengaitkan materi pelajaran dengan dorongan untuk mengagumi kebesaran Tuhan, selain itu juga memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari, serta memberikan pesan dan motivasi kepada peserta didik untuk meningkatkan ibadahnya, guru juga memberikan teladan yang baik bagi peserta didik. 3) Dampak internalisasi nilai religius dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran PAI di MAN 2 Ponorogo tahun ajaran 2011/2012  adalah ada perubahan sikap peserta didik menjadi lebih baik, contohnya peserta didik senang mengikuti pembelajaran PAI, peserta didik mengungkapkan syukur pada setiap keadaan, peserta didik berdoa tanpa disuruh, peserta didik memperhatikan dan memahami nasehat yang diberikan guru, peserta didik berjabat tangan dan menyapa ketika bertemu dengan gurunya.
2.      NAMA    :      NUR IMAMA TAUFIQIYAH
JUDUL   :      Internalisasi Nilai Religius dalam Pengembangan Pendidikan Karakter melalui kegiatan Kerohanian Islam di SMA Negeri 1 Ponorogo.
HASIL    :      1) latar belakang kegiatan kerohanian Islam di SMA Negeri 1 Ponorogo adalah memberikan kegiatan yang mengarahkan anak pada keimanan dan ketakwaan untuk membentengi dari pengaruh negative dan mengimbangi kemampuan akademisnya dengan kerohanian, sebagai kader-kader dakwah. 2) bentuk-bentuk kegiatan kerohanian Islam di SMA Negeri 1 Pononorogo dibagi menjadi tiga, kegiatan jangka panjang, pendek dan menengah, yang dimasukkan ke dalam departemen PSDI, keta’miran, Media dakwah dan Humas. 3) Nilai-nilai religius dalam kegiatan kerohanian Islam di SMA Negeri 1 Ponorogo yaitu mencakup 6 nilai religius yang terdapat dalam rukun Iman. 4) perilaku siswa-siswi setelah mengikuti kegiatan kerohanian Islam di SMA Negeri 1Ponorogo mengalami perubahan kearah positif sesuai ajaran Islam, baik dari perilaku maupun ibadahnya.
VIII.       Metode Penelitian
A.    Pendekatan dan jenis Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam benruk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.[12]penelitian kualitatif dieksplorasi dan diperdalam dari fenomena sosial atau lingkungan sosial yang terdiri atas pelaku, kejadian, tempat, dan waktu. Latar sosial tersebut digambarkan sedemikian rupa sehingga dalam melakukan penelitian kualitatif mengembangkan pertanyaan dasar, apa dan bagaimana kejadian itu terjadi, siapa yang terlibat dalam kejadian tersebut, kapan terjadinya, di mana tempat kejadiannya.[13]  

B.     Kehadiran Peneliti
Ciri khas penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan serta, sebab peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan skenario. Untuk itu, dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrument kunci, partisipan penuh sekaligus pengumpul data, sedangkan instrumen yang lain sebagai penunjang.
C.    Lokasi penelitian
Lokasi penelitian ini adalah SMP Negeri 4 Ponorogo yang beralamat di jalan Jenderal Sudirman No. 92. Ponorogo. Peneliti memilih lokasi ini karena pada sekolah ini diadakan kegiatan penanaman nilai-nilai ibadah bagi para siswa-siswi  dalam membentuk perilaku keberagamaan siswa-siswi agar kelak dapat menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan dapat menghargai perbedaan terhadap sesama.
D.    Data dan Sumber Data
1.      Data
Data yang diperoleh berupa kata-kata dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi yang mana data-data tersebut berisi tentang pemahaman nilai-nilai ibadah, perilaku kebergamaan, dan faktor pendukung dan penghambat internalisasi nilai-nilai ibadah dalam membentuk perilku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
2.      Sumber Data
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian ini adalagh subjek dari mana data dapat diperoleh.[14] Adapun untuk memperoleh data dalam penelitian ini menggunakan sumber data sebagi berikut:
a)      Tempat penelitian, peneliti melakukan observasi di  SMP Negeri 4 Ponorogo.
b)      Manusia, wawancara dilakukan kepada Guru PAI SMP Negeri 4  Ponorogo.
c)      Paper meliputi buku-buku yang relevan dalam penelitian ini.
E.     Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi wawancara,observasi, dan dokumentasi.
1.      Wawancara
Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi terwawancara.
Wawancara digunakan untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variable, latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian sikap terhadap seseuatu.[15]  
Wawancara dilakukan melalui proses tanya jawab lisan secara langsung kepada beberapa pihak,  baik dengan guru Pendidikan Agama Islam, ataupun dengan  siswa-siswi SMP negeri 4 Ponorogo. Untuk memperoleh data yang ada kaitannya dengan internalisasi nilai-nilai ibadah yang ada di SMP Negeri 4 Ponorogo.
2.      Observasi
Observasi merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda, waktu, peristiwa, tujuan, dan perasaan.[16]  
3.      Dokumentasi
Dokumentasi merupakan data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah dan lain-lain.[17]
Dalam melakukan penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang gambaran umum SMP Negeri 4 Ponorogo serta kegiatan penanaman nilai-nilai ibadah yang ada di sekolah tersebut.
F.     Teknik Analisi Data
Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Menurut Miles dan Huberman ada tiga macam kegiatan analisis data kualitatif:
1.      Reduksi Data
Reduksi data merujuk pada proses pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, abstarksi, dan pentransformasian “data mentah” yang terjadi dalam catatan-catatan-catatan lapangan tertulis. Sebagaimana pengumpulan data berproses, terdapat beberapa episode selanjutnya dari reduksi data (membuat rangkuman, pengodean, membuat tema-tema, membuat pemisahan-pemisahan, menulis memo-memo). Rduksi data/pentransformasian proses terus-menerus setelah kerja lapangan hingga akhir lengkap.  
Reduksi data bukanlah sesuatu yang terpisah dari analisis. Ia merupakan bagian dari analisis. Pilihan-pilihan penelitian potongan-potongan data untuk diberi kode, untuk ditarik keluar, dan rangkuman pola-pola sejumlah potongan, apa pengembangan ceritanya, semua merupakan pilahan-pilahan analisis. Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang dan menyusun data dalam suatu cara di mana kesimpulan akhir dapat digambarkan dan diverivikasi.


2.      Model Data (Data Display)
Kita mendefinisikan “model” sebagai suatu kumpulan informasi yang tersusun yang membolehkan pendeskripsian kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk yang paling sering dari model data kualitatif selama ini adalah teks naratif. Teks (dalam bentuk katakanlah 3.600 halaman dari catatan lapangan) adalah kesulitan yang mengerikan. Teks tersebut berserakan, berurutan, tidak beraturan, dan sangat luas. Dibawah keadaan demikian, adalah mudah bagi peneliti kualitatif untuk melompat dengan terburu-buru, secara parsial, kesimpulan tidak ditemukan.
3.      Penarikan (Verifikasi Kesimpulan)
Reduksi data, model data, dan penarikan/verifikasi kesimpulan, sebagai antar jalinan sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk parallel, untuk menyusun domain umum yang disebut “analisis”. Ketiga tahap tersebut dapat  digambarkan sebagaimana terlihat pada gambar berikut.









 





 







 



Dalam tinjauan ini ketiga jenis aktivitas analisis dan aktivitas pengumpulan data itu sendiri membentuk suatu proses siklus interaktif. Peneliti secara mantap bergerak bolak-balik dinatara reduksi data, model, dan penarikan/ verifikasi kesimpulan untuk sisa studi tersebut.[18]
G.    Pengecekan Keabsahan Temuan
Dalam bagian ini peneliti mempertegas teknik apa yang digunakan dalam mengadakan pengecekan keabsahan data yang ditemukan. Berikut beberapa teknik yang digunakan untuk mengecek keabsahan selama proses penelitian:
1.      Perpanjangan keikutsertaan
Perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti tinggal di lokasi penelitian samapai mencapai kejenuhan dalam pengumpulan data tercapai. Apabila hal itu dilakukan membatasi gangguan dari dampak peneliti pada konteks, membatasi kekeliruan peneliti, mengonpensasikan pengaruh dari keajdian-kejadian yang tidak biasa,perpanjangan keikutsertaan penliti akan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan.
2.      Ketekunan/Keajegan Pengamatan
Kejugan pengamatan berarti mencari secara konsisten interpretasi dengan berbagi cara dalam kaitannya dengan proses analisis yang konstan atau tentatif.
3.      Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya.
4.      Pengecekan dengan teman sejawat
Teknik pengecekan teman sejawat ini bermanfaat di dalam membentuk kepercayaan, hal ini merupakan proses menunjukkan diri sendiri kepada teman-teman peneliti yang merasa tidak tertarik dalam suatu acara membuat parallel pembahasan analisis dan untuk tujuan menyelidiki aspek-aspek dari inkuiri, apabila tidak demikian akan tetap implicit pada pemikiran peneliti.[19]
H.    Tahapan-tahapan Penelitian
Tahapan-tahapan penelitian dalam penelitian ini ada tiga tahapan dan ditambah dengan thap terakhir dari penelitian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian. Tahap-tahap penelitian tersebut adalah:
1.      Tahap pra lapangan, yang meliputi menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus perizinan, menjajaki dan menilai dan memanfaatkan informasi, menyiapkan perlengkapan penelitian dan yang menyangkut persoalan etika.
2.      Tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi memahami latar penelitian dari persiapan dan persiapan diri memasuki lapangan dan berperan serta sambil mengumpulkan data.
3.      Tahap analisis, yang meliputi analisis selama dan setelah pengumpulan data. 
IX.             Sistematika Pembahasan
Untuk dapat memberikan gambaran mengenai penelitian ini dapat disusun sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I     :    Pendahuluan berisi tentang gambaran umum yaitu meliputi latar belakang masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II    :    Kajian Teori Dan Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
                     Bab ini menguraikan kajian teori, berfungsi untuk menjelaskan kerangka tentang acuan teori yang digunakan sebagai landasan melakukan penelitian yang terdidri dari pengertian internalisasi nilai religius, mengagumi kebesaran Tuhan dan dampak internalisasi nilai religius, internalisasi nilai religius dalam pengembangan pendidikan karakter melalui kegiatan kerohanian.
BAB III:         Pada bab ini berisi tentang paparan data, yang berisi hasil penelitian di lapangan yang terdiri atas gambaran umum lokasi penelitian yang berbicara tentang kegiatan  ibadah yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Ponorogo. Sedangkan deskripsi data tentang usaha menanamkan nilai-nilai ibadah untuk seluruh siswa.
BAB IV:         Pada bab ini berisi tentang pembahasan hasil penelitian yang meliputi temuan-temuan dari hasil penelitian dan analisis dari hasil penelitian yang telah dilakukan, yang berkaitan tentang internalisasi nilai-nilai ibadah dalam membentuk perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Ngeri 4 Ponorogo.
BAB V:           Penutup, pada bab ini dimaksudkan untuk memudahkan bagi pembaca yang mengambil intisari dari skripsi, yang berisi kesimpulan dan saran.
X.                Outline Daftar Isi Sementara
HALAMAN SAMPUL
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
HALAMAN PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
PEDOMAN TRANSLITERASI
BAB I: PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Fokus Penelitian
C.     Rumusan Masalah
D.    Tujuan Penelitian
E.     Manfaat Penelitian
F.      Metode Penelitian
1.      Pendekatan dan Jenis Penelitian
2.      Kehadiran Peneliti
3.      Lokasi Penelitian
4.      Data dan Sumber Data
5.      Prosedur Pengumpulan Data
6.      Teknik Analisis Data
7.      Pengecekan Keabsahan Temuan
8.      Tahapan-tahapan Penelitian
G.    Sitematika Pembahasan
BAB II: INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILKAU KEBERAGAMAAN SISWA
A.    Kajian Teori
1.      Nilai-nilai ibadah
a.       Pengertian Ibadah
b.      Hakikat Ibadah
c.       Tahap-tahap Ibadah
d.      Hikmah pendidikan Ibadah
2.      Perilaku Keberagamaan
a.       Penegrtian Perilaku Keberagamaan
b.      Perspektif Tokoh Psikologi dan Sosiologi Tentang Konsep Keberagamaan
c.       Perspektif  Islam tentang konsep keberagamaan
B.     Telaah Hasil Penelitian Terdahulu



BAB III:     DATA PENELITIAN TENTANG INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017 
A.    Data Umum
1.      Sejarah Singkat SMP Negeri 4 Ponorogo
2.      Letak Geografis
3.      Visi Misi dan Tujuan Sekolah
4.      Struktur Organisasi SMP Negeri 4 Ponorogo
5.      Sarana dan Prasarana
B.     Data Khusus
1.      Pemahaman nilai-nilai ibadah siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
2.      Perilaku kebergamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
3.      Faktor pendukung dan penghambat internalisasi nilai-nilai ibadah dalam membentuk perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
BAB IV:  ANALISIS DATA TENTANG INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN SISWA-SISWI SMP  NEGERI 4 PONOROGO
1.        Analisis data tentang pemahaman nilai-nilai ibadah siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
2.        Analisis data tentang perilaku kebergamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
3.        Analisis data tentang faktor pendukung dan penghambat internalisasi nilai-nilai ibadah dalam membentuk perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
BAB V: PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP PENULIS
SURAT IJIN PENELITIAN
SURAT TELAH MELAKUKAN PENELITIAN
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
XI.             Daftar Pustaka Sementara

Abdurrahman An-Nahlawi, Abdurrahman.  Pendidikan Agama Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani, 2004.

Ahmadi Abu, dkk. Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Arikunto, Suharsimi.  Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik . Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006.

Emzir. Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data.  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011.

Ghony,M,  Djunaidi dkk. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogjakarta: Ar Ruzz Media, 2012.

Masnun, Mohammad.  Lektur Jurnal Pendidikan Islam .Juni-Desember, 2008. Kantor STAIN Cirebon Press.

Meleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif.  Bandung: Remaja Rosakarya, 2009.

Muntahibun, Nafis, Muhammad.  Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras , 2011.

Suroso, Nashori, Fuat, Ancok, Djamaludin. Psikologi Islam Solusi Islam Atas Problem-problem Psikologi Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2004.

Tafsir, Ahmad.  Filasafat Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.




[1] Mohammad Masnun, Lektur Jurnal Pendidikan Islam (Juni-Desember, 2008), 223.
[2] Abu ahmadi dan Noor Salimi, Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 239-241.
[3] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Agama Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat (Jakarta: Gema Insani, 2004),  62.
[4] Rois Mahfudz, Al-Islam pendidikan Agama Islam (Palangka Raya: Erlangga, 2011),  23.
[5] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Agama Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat…62-63.
[6] Ahmad Tafsir, Filasafat Pendidikan Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), 233-241.
[7] Ibid, 63-65.
[8] Ibid, 65-66.
[9] Ibid, 65-67.
[10] Djamaludin Ancok Fuat Nashori Suroso, Psikologi Islam Solusi Islam Atas Problem-problem Psikologi (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2004), 77. 
[11] Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: Teras , 2011), 151-153.
[12] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosakarya, 2009), 6.
[13] M. Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodologi Penelitian Kualitatif (Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2012), 25.
[14] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), 129.
[15] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 132.
[16] M.Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodologi Penelitian Kualitatif…, 165.
[17] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik…231.
[18] Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), 129-134. 
[19] M.Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodologi Penelitian Kualitatif…, 320-324.

Komentar