INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017
INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN
SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017
TugasMetodologiPenelitianKualitatif
Disusun
oleh:
Fida Laila
Rahmayanti
210313299
JURUSAN
TARBIYAH
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
PONOROGO
2016
I.
Judul
INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN
SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017
II.
Latar Belakang
Masalah
Selama ini Pendidikan Agama Islam
di sekolah sering dianggap kurang berhasil dalam merubah sikap dan perilaku
keberagamaan peserta didik serta membangun moral dan etika bangsa.
Indikator-indikator kelemahan yang melekat pada proses Pendidikan Agama Islam
di sekolah, yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut 1) PAI kurang bisa
mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi makna dan nilai atau kurang
mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu
diinternalisasikan dalam diri peserta didik. 2) PAI kurang dapat berjalan
bersama dan bekerjasama dengan pogram-program pendidikan non agama. 3)PAI
kurang mempunyai relevansi terhadap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat
atau sehingga peserta didik kurang menghayati nilai-nilai ibadah sebagai nilai
yang hidup dalam masyarakat.[1]
Nilai-nilai ibadah yang ditanamkan pada diri
seseorang pastinya bertujuan untuk kebaikan,
baik buat diri individu itu sendiri ataupun berdampak bagi lingkungan sekitar.
Perilaku keberagamaan seseorang sangat menentukan pola tingkah laku individu
dalam kehidupannya.
Selama ini telah banyak dilakukannya
kegiatan-kegiatan keagaamaan baik dilingkungan
individu maupun lingkungan sosial, namun kenyataannya tidak banyak berpengaruh
terhadap hasil dari kegiatan kegaamaan tersebut. Suatu misal, dengan adanya
kegiatan shalat berjamaah, namun kebanyakan dari jamaahnya tidak menerapkan apa
yang diperoleh dari nilai-nilai ibadah shalat jamaah tersebut.
Kekurangan
tersebut banyak disebabkan karena rendahnya kesadaran diri akan pentingnya
ibadah dalam mewujudkan kehidupan yang baik serta bermanfaat di dunia maupun di
akhirat. Manfaat-manfaat yang dapat diambil diantaranya, tentram dalam
menjalani kehidupan, mudah dalam melakukan aktifitas sehari-hari, ringan dalam
melakukan segala aktivitas, dan yang pasti mendapatkan ridho Allag SWT.
Ibadah berfungsi sebagai acuan individu dalam melakukan segala aktifitas, baik buruknya ibadah seseorang dapat
dilihat dari tingkah lakunya sehari hari. Jika ibadahnya baik maka perilakunya
dalam kehidupan juga akan baik, begitu pula sebaliknya, apabila ibadah
seseorang kurang baik maka bisa dipastikan perilaku seseorang tersebut juga
kurang baik.
Kedudukan
ibadah dalam kehidupan manusia sangatlah penting, seseorang harus mampu
menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, jika individu
mampu menaati segala perintahNya maka hal tersebut merupakan salah satu faktor
yang dapat membentuk perilaku kebergamaan seseorang. Dengan demikian maka dapat
meminimalisir ketidak taatan seseorang terhadap agama, karena setiap individu
pastinya berbeda dalam memahami apa artinya nilai-nilai ibadah yang sering
dilakukannya sehari-hari.
Di SMP Negeri 4 Ponorogo terdapat banyak kegiatan
ibadah diantaranya yaitu shalat jum’at, Shalat dhuha berjamaah, shalat dhuhur
berjamaah, serta kultum pagi setiap hari,
yang dalam kegiatan itu para guru berusaha menanamkan nilai-nilai ibadah yang terkandung didalamya agar
siswa-siswi dapat mengambil pelajaran dari kegiatan tersebut yang pada akhirnya
perilaku siswa-siswi pun juga akan baik serta dapat menumbuhkan jiwa agamis
yang bermanfaat bagi siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo baik untuk kehidupan
sekarang ataupun dimasa yang akan datang.
Namun pada kenyataannya, belum seluruh siswa-siswi
mampu mengambil pelajaran dari kegiatan ibadah tersebut, sebagai contoh masih
banyak siswa-siswi yang tidak mengikuti kegiatan ibadah tersebut, berati pada
diri siswa-siswi belum semuanya dapat memahami pentingnya ibadah yang dilakukan
setiap harinya tersebut.
Berdasarkan fenomena
tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN
SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017”
III.
Fokus Penelitian
Dari beberapa penjelasan masalah diatas peneliti
menganggap cukup luas cakupnnya, selain itu kemmpuan peneliti juga terbatas.
Oleh karena itu peneliti memerlukan focus
penelitian yang jelas agar tujuan yang diinginkan tercapai. Adapun fokus
masalah dalam penelitian ini difokouskan pada bagaimana menanamkan nilai-nilai
ibadah kepada siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
IV.
Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah
pemahaman nilai-nilai ibadah siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo?
2. Bagaimanakah
perilaku Keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo?
3. Apakah
faktor pendukung dan penghambat internalisasi nilai-nilai ibadah dalam
meningkatkan perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo?
V.
Tujuan Penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah untuk menjelaskan:
1. Pemahaman
nilai-nilai ibadah siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
2. Perilaku
Keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
3. Faktor
pendukung dan penghambat internalisasi nilai-nilai ibadah dalam meningkatkan
perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
VI.
Manfaat Penelitian
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat yaitu:
1. Manfaat
Teoritis
Dari hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mengembangkan nilai-nilai ibadah
dalam membentuk perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
2. Manfaat
Praktis
a. Bagi
sekolah, sebagai sumbangan pemikiran dalam memecahkan masalah dalam
menginternalisasikan nilai-nilai ibadah dalam membentuk perilaku keberagamaan
siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
b. Bagi
pendidik, sebagai bahan acuan dalam membimbing, mendidik, dan menanamkan
nilai-nilai ibadah dalam membentuk perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri
4 Ponorogo.
c. Bagi
Peneliti, sebagai bekal untuk meningkatkan pengetahuan serta menambah wawasan
dibidang pendidikan.
VII.
Kajian Teori Dan Atau Telaah Hasil
Penelitian Terdahulu
A. Kajian
Teori
1. Nilai-nilai
Ibadah
a. Pengertian
Ibadah
Pengertian ibadah menurut beberapa
pendapat yaitu:
1) Ibadah:
peraturan-peraturan yang mengatur hubungan langsung dengan Allah SWT (ritual)
yang terdiri dari rukun Islam (mengucapkan syahadat, mengerjakan shalat, zakat,
puasa, dan haji) dan ibadah lainnya yang berhubungan dengan rukun Islam yaitu
ibadah badani (wudhu, mandi, menghilangkan najis, tasbih, istigfar, khitan dan
pengurusan jenazah) dan mali (qurban, aqiqah,waqaf, fidyah, hibbah)
2) Ibadah
secara umum, perilaku dalam semua aspek kehidupan yang sesuai dengan ketentuan
Allah SWT yang dilakukan dengan ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah SWT,
ibadah dlam bentuk inilah yang dimaksud dengan tugas hidup manusia.
3) Ibadah
dalam arti khusus, semuanya dilarang kecuali yang diperintahkan dan
dicontohkan.[2]
4) Ibadah,
amal shaleh dan latihan spiritual yang berakar dan diikat oleh makna yang
hakiki dan bersumber dari fitrah manusia.[3]
5) Ibadah,
persembahan yaitu sembahan manusia kepada Allah SWT sebagai wujud penghambaan
diri kepada Allah SWT.[4]
b. Hakikat
Ibadah
Setiap sistem berpikir memerlukan sarana
perealisasian atau perwujudan yang dilengkapi dengan penyemangat, usaha dan
gerak anggota tubuh yang sistematis. Jika perwujudan itu dilakukan secara
berkelompok, maka setiap kelompok dibentuk berdasarkan, usia, intelektual dan
kekedudukan seseorang. dengan demikian, kelompok tersebut selaras dalam hal
karakter psikologis, daya intelektual, dan kemampuan fisik. Hal di atas
membuktikan bahwa dunia manusia itu merupakan dunia yang tidak dapat
memisahkan, tubuh, akal, dan spiritualnya. Konsep seperti itulah yang dewasa
ini dianut oleh manusia-manusia modern.
Berbagai ibadah dalam Islam lebih merupakan amal
shaleh dan latihan spiritual yang berakar dan diikat oleh makna yang hakiki dan
bersumber dari fitrah manusia. Pelaksnaan ibadah merupakan pengaturan hidup
seorang muslim, baik itu melalui pelaksanaan shalat, pengaturan makan tahunan
melalui puasa, pengaturan kehidupan sosial ekonomi muslim yang bertanggung
jawab melalui zakat, pengaturan atau penghidupan integritas seluruh umat Islam
dalam ikatan perasaan sosial melalui haji.
Yang jelas pelaksanaan ibadah telah menyatukan umat Islam dalam satu
tujuan, yaitu penghambaan kepada Allah semata serta penerimaan berbagai ajaraan
Allah, baik itu untuk ursan duniawi maupun ukhrawi.
Setiap detik, menit, jam, atau hari yang diisi
ibadah oleh seorang muslim, tiada lain, kecuali sebagai hubungan yang abadi
antara dirinya dengan Allah sekaligus sebagi peninjak nafsu agar senantiasa
tunduk dan patuh kepada Allah. Karena itu, seorang muslim bangun pada saat
fajar atau tidur setelah isya’ untuk berdzikir kepada Allah, hanya memakan
makanan halal, dan menahan diri dari makanan yang dilarang memakannya oleh
Allah, memasuki rumah, tidur, dan kegiatan lainnya selalu disertai doa
mengingat Allah, atau berdzikir kepada Allah ketika dianugrahi anak.[5]
c. Tahap-tahap
Ibadah
Ibadah ada dua macam, ibadah yang umum (ibadaha
‘aam) dan yang khusus (ibadah mahdlah). Kedua macam ibadah itu perlu dilakukan
seperti nasihat Al-Ghazali berikut ini. Isi uraian ini dapat dijadikan salah
satu teknik internalisasi.
Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya
(Al-Dzariyat:56). Menurut Al-ghazali beribadah itu ada tahapan-tahapannya,
yaitu:
1) Tahap
Ilmu, ibadah itu harus dilakukan sesuai petunjuk Allah melalui rasul-Nya.
Karena itu hukum ibadah dan cara ibadah
harus diketahui lebih dahulu.
2) Tahap
Taubat, taubat merupkan langkah awal dalam membersihkan diri, lahir maupun
batin. Dengan pembersihan yang sempurna hijab yang menghalangi makhluk dengan
khalik akan terbuka. Salah satu hijab itu adalah dosa, dengan taubat kita
memperoleh pertolongan untuk mencapai ketaatan. Ini berati dosa dapat
merintangi seseorang dalam mematuhi perintah Allah. Dengan bertobat amal akan
diterima Allah.
3) Tahap
godaan, sebelum merasakan nikmatnya beribadah, seperti nikmatnya shalat, puasa,
kita pasti melalui tahap yang disitu kita memperoleh godaan, godaan beribadah
tersebut antara lain, yaitu:
a) Dunia
dan isinya, dunia dan isinya ini selain disediakan Allah untuk kita juga dapat
menjadi penggoda beribadah.
b) Makhluk,
itu akan menyibukkan sehingga lalai dalam beribadah. Selain itu makhluk sering
merusak tujuan beribadah karena itulah perlu uzlah
c) Setan,
adalah musuh nyata manusia(yasin: 60)
d) Hawa
nafsu, adalah musuh dari dalam diri.
4) Tahap
penghalang, dalam beribadah seseorang harus dapat mencegah
penghalang-penghalang yang akan mengganggu ketenangan dan kekhusuaan dalam
menjalankan ibadah. Penghalang-penghalang itu adalah sebagai berikut:
a) Rezeki
dan tuntutan hawa nafsu, keduanya dapat diatasi dengan tawakkal.
b) Tawakkal
menjadikan seseorang bebas dari beban duniawi sehingga ia dapat beribadah
dengan tenang.orang bertawakkal tidak akan pernah takut kekurangan rezeki.
c) Keingian
meraih tujuan, untuk menatasi masalah ini kita harus menyerahkan segala
persoalan kepada Allah.
d) Kurang
ridla menerima takdir.
e) Musibah,
harus dihadapi deengan kesabaran.
5) Tahap
pendorong Ibadah
a) Khauf,
takut Allah tidak senang kepadanya.
b) Raja’,
rasa optimis Allah akan senang padanya. Makanya raja’dan khauf harus seimbang.
6) Tahap
perusak Ibadah
Perusak itu ialah seringkali tidak
kita sadari, misalnya:
a) Riya’,
agar dilihat orang lain untuk mengharap pujian
b) Ujub,
orang yang merasa mengerjakan suatu pekerjaan tanpa pertolongan Allah.
7) Tahap
Puji dan Syukur, mensyukuri nikmat yang besar dan memuji-Nya atas karunia-Nya.[6]
d. Hikmah
Pendidikan Ibadah
Melalui peribadahan, banyak hal
yang dapt diperoleh oleh sorang muslim yang kepentingannya bukan hanya mencakup
individual, melainkan bersifat luas dan universal. Diantara hikmah pendidikan
yang dapat kita ambil adalah:
1) Dalam
konsep Islam melalui ibadah manusia diajari untuk memiliki intensitas kesadaran
berpikir. Dilihat dari segi syariatnya, ibadah yang diterima Allah adalah
ibadah yang memiliki dua syarat, syarat yang dimaksud adalah, keikhlasan dan ketaatan kepada Allah,
pelaksanaan ketaatan sesuai dengan cara yang dilakukan Rasulullah SAW yang
didalamnya terdapat kontinuitas dalam ketundukan kepada Allah, perenungan atas
keagunganNya, dan perasaan patuh kepadaNya. Selain itu, didalamnya pun harus
terdapat kontinuitas kesadaran manusia untuk menyembah Allah dan menyelaraskan
ibadah itu dengan syariat atau ajaran hukum, baik dari segi bentuk maupun
topiknya. Seluruh amal seerang muslim disebut ibadah jika ditujukan hanya untuk
Allah.
2) Dimanapun
seorang muslim berada, melalui kegiatan yang ditujukan semata-mata untuk ibadah
kepada Allah, dia akan selalu merasa terikat oleh ikatan yang berkesadaran sistematis,
kuat, serta didasarkan atas perasaan jujur dan kepercayaan diri. Dikatakan
berkesadaran karena pada dasarnya tidak ada
ikatan yang luput dari perhatian masyarakat atau dilakukan secara
membabi buta. Sesungguhnya amal ibadah
yang dilakukan melalui kerja sama antara seorang muslim dengan muslim lainnya
akan melahirkan rasa kebersamaan dan kekuatan yang lebih besar. Selain itu
secara pribadi pun individu muslim akan merasakan kelezatan dari sikap
mengutamakan Allah sebagai sumber. Hasilnya jika ternyata ikatan itu pecah,
karena alas an yang prinsipil, setiap individu muslim tidak akan merasakan
kehilangan jati diri. Tanpa bersatu secara lahir, landasan kesamaan akidah akan
tetap menyatukan mereka. Selain itu, dalam diri seorang muslim, selama dia
mampu, selalu tertanam keutamaan beribadah secara berjamaah, daripada munfarid.
Umat Islam mendapatkan hambatan, mereka akan menyatukan hati dan jiwa melalui
keimanan sehingga mereka menjadi tubuh dan jiwa yang satu.
3) Ibadah
dapat mendidik jiwa seorang muslim untuk mersakan kebanggaan dan kemuliaan
terhadap Allah. Dia adalah yang paling besar dari segala yang besar dan paling
Agung dari segala yang Agung. Dalam kekuasaan Allahlah kehidupan kaum tirani,
Allah dapat menjatuhkan mereka kapan pun Dia berkehendak. Dalam
kekuasaan-Nyalah kematian, kehidupan, rezeki, kerajaa, keagungan, dan
kekuasaan. Konsep seperti itulah yang senantiasa diulang-ulang oleh seorang
muslim dalam ibadah hariannya hingga ibadah tahunannya.[7]
4) Ibadah
yang terus-menerus dilakukan dalam kelompok yang padu, di bawah panji Allah
yang satu, dan semuanya bermunajatkepada Rabb yang satu, dan semuanya
bermunajat kepada Rabb yang satu, akan melahirkan rasa kebersamaan sehingga
kita terdorong untuk saling mengenal, saling menasehati, atau bermusyawarah.
Dari situ akan lahir kaum muslim yang selalu bermusyawarah dengan dasar kerja
sama, persamaan, dan keadilan. Betapa tidak, di hadapan Allah, mereka adalah
umat yang satu. Ibadah pun akan mendidik umat Islam menegakkan keadilan dalam
bermuamalah. Artinya setiap orang disikapi sesuai dengan hak, karakter diri,
keterampilan, kemampuan, ketakwaan, dan kesalehan.
5) Melalui
ibadah seorang muslim punakan terdidik untuk memiliki kemampuan dalam melakukan
berbagai keutamaan secara konstan dan mutlak. Artinya, setiap gerak seorang
muslim, tidak tterbatas pada batasan geografis, bangsa, kepentingan nasional,
atau partai yang berkuasa. Jelasnya pergaulan seorang muslim itu meliputi
seluruh manusia. Namun demikian,
sebagai konsekuensi dari keyakinan bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya,
dimana pun berada, seorang muslim tetapsebagai muslim yang berakhlak mulia dan memperhatikan
segi kemanusiaan.[8]
6) Pendidikan
yang berdasarkan ibadah dapat membekali manusia dengan muatan kekuatan yang intensitasnya
tinggi dan abadi karena semuanya
bersumber dari kekuatan Allah, kepercayaan kepada Allah, optimisme yang
bersumber dari pertolongan Allah dan
pahala surge, serta kesadaran dan cahaya yang bersumber dari Allah. Muatan
inilah yang mendorong seorang muslimuntuk tampil, memberinya kemampuan yang
terus menerus untuk berjuang dan berjihad, serta menyuguhkan kepada manusia
kekuatan yang hidup, produktif, dan berkesadaran. Setiap muslim harus memiliki
muatan dinamis yang dapat menyiagakan kalbu dan menerangi jalan. Dengan
demikian, setiap muslim akan bangkit dari keterpukrukannya seklaigus memperoleh
cahaya ilahi ketika sekelilingnya gulita sehingga dia akan menunjukkan segala
perbuatan, muamalah, dan penyiapan bekal untuk akhiratnya melalui ibadah kepada
Allah. Dalam islam, konsep perbuatan yang digolongkan ibadah sangat jelas,
yaitu selama tujuan pelaksanaan perbuatan tersebut diarahkan kepada Allah.
7) Sesungguhnya
mendidik seorang muslim dengan ibadah akan memperbaharui jiwa yang bukan hanya
karena di dalamya ada muatan cahaya, kekuatan, perasaan, dan harapan melainkan
karena melalui ibadah seorang muslim memiliki sarana untuk mengekspresikan
tobatnya. Dengan tobat itu, kesalahan dan dampak dosa yang dilakukan anggota
tubuh akan hilang. Terjadinya sebuah dosa menunjukkan berpalingnya manusia dari
kebenaran, ketaatan, dan ibadah kepada Allah. Melalui tobata kepada Allah, yang
disertai dengan niat dan realisasi untuk tidak kembali melakukan perbuatan dosa
tersebut. Melalui tobat, perbuatan dosa itu diganti dengan amal shaleh. Tobat
merupakan ekspresi ibadah yang bertumpu pada kesadaran bahwa Allah, dengan
segala nikmat, keperkasaan, dan hukumanNya. Kesadaran itu menuntut adanya
peneyesalan atas apa yang luput dari kewaspadaan manusia untuk menaati Allah.[9]
2. Perilaku
Keberagamaan
a. Pengertian
perilaku keberagamaan
Perilaku keagagamaan yaitu
merupakan ungkapan bagaimana manusia dengan pengkondisian operan belajar hidup
di dunia yang dikuasai oleh hukum ganjaran dan hukuman.
b. Perspektif
Tokoh Pskologi dan Sosiologi Tentang Konsep Keberagamaan
Menurut Glock dan Stark Ada lima
macam dimensi keberagamaan yaitu, dimensi keyakinan (ideologis), dimensi
peribadatan atau praktek agama
(ritualistik), dimensi penghayatan (eksperiensial), dimensi pengalaman
(konsekuensial), dimensi penegetahuan agama (intelektual). Penejelasan dari
kelima dimensi tersebut adalah:[10]
1) Dimensi
keyakinan. Dimensi ini berisi
pengharapan-pengharapan di mana orang religius berpegang teguh pada pandangan
teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama
mempertahankan seperangkat kepercayaan di mana para penganut diharapkan akan
taat. Walaupun demikian, isi dan ruang lingkup keyakinan itu bervariasi tidak
hanya di antara agama-agama, tetapi seringkali juga diantara tradisi-tradisi
dalam agama yang sama.
2) Dimensi
praktek agama. Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal
yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.
3) Dimensi
pengalaman. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama
mengandung pengharapan-pangharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan
bahwa seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai
pengetahuan subjektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir (kenyataan
terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatan supernatural).
Seperti yang telah kita ungkapakan, dimensi ini berkaitan dengan pengalaman
keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan sensasi-sensai yang
dialami seseorang atau didefinisikan oleh suatu kelompok keagamaan atau suatu
masyarakat.
4) Dimensi
pengetahuan agama. Dimensi ini mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang
beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuna mengenai
dasar-dasar keyakinan, kitab suci dan tradisi-tradisi. Dimensi ini jelas
berkaitan dengan yang lain, karena pengetahuan mengenai suatu keyakinan adalah
syarat bagi penerimanaya.
5) Dimensi
pengalaman. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan
keagamaan, praktek, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari.
Istilah “kerja” dalam pengertian teologis dignakan disini. Walaupun agama
banyak menggariskan bagaimana pemeluknya seharusnya berpikir dan bertindak
dalam kehidupan sehari-hari, tidak sepenuhnya jelas sebatas mana
konsekuensi-konsekuensi agama merupakan bagian dari komitmen keagamaan atau
semata-mata berasal dari agama.
c. Perspektif Islam tentang konsep keberagamaan
Manusia adalah makhluk yang berketuhanan atau disebut
homodivinous (makhluk yang percaya adanya Tuhan) atau
disebut juga homoreligious artinya makhluk yang beragama. Berdasarkan hasil
riset dan observasi, hampir seluruh ahli ilmu jiwa sependapat bahwa pada diri
manusia terdapat semacam keinginan dan kebutuhan yang bersifat universal,
kebutuhan ini melebihi kebutuhan-kebutuhan lainnya, bahkan mengatasi kebutuhan
akan kekuasaan. Keinginan akan kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan kodrati,
berupa keinginan untuk mencintai dan dicintai Tuhan.
Dalam pendangan Islam, sejak lahir manusia telah
mempunyai jiwa agama, jiwa yang mengakui adanya zat yang Maha Pencipta dan Maha
Mutlak yaitu Allah SWT. Sejak di dalam roh, manusia telah mempunyai komitmen
bahwa Allah adalah tuhannya.
Islam memandang ada suatu kesamaan diantara sekian
perbedaan manusia. Kesamaan itu tidak akan pernah berubah karena pengaruh ruang
dan waktu. Yaitu potensi dasar ber iman (aqidah tauhid) kepada Allah. Aqidah
tauhid merupakan fitrah sifat dasar manusia sejak misaq dengan Allah. Sehingga manusia pada prinsipnya selalu ingin
kembali kepada sifat dasarnya meskipun dalam keadaan yang berbeda-beda.
Pandangan Islam terhadap fitrah inilah
yang membedakan kerangka nilai dasar pendidikan Islam dengan yang lain. Dalam
konteks makro, pandangan Islam terhadap kemanusiaan ada tiga implikasi dasar
yaitu, pertama, implikasi yang
berkaitan dengan pendidikan di masa depan, dimana pendidikan diarahkan untuk
mengembangkan fitrah seoptimal mungkin dengan tidak mendikotomikan materi. Kedua, tujuan (ultimate goal) pendidikan, yaitu muttaqin yang akan tercapai bila
manusia menjalankan fungsinya sebagai Abdullah dan khalifah sekaligus. Ketiga, muatan materi dan metodologi
integralistik dan disesuiakan dengan fitrah manusia.
Manusia adalah hasil dari proses pendidikan yang
mempunyai tujuan tertentu. Tujuan pendidikan akan mudah tercapai kalau ia
mempunyai kesamaan dengan sifat-sifat dasar dan kecenderungan manusia pada
obyek-obyek tertentu. Menrut Abdurrahman Shaleh Abdullah, praktek kependidikan
yang tidak dibangun di atas dasar konsep yang jelas tentang sifat dasar
mansusia pasti akan gagal.
Berkaitan dengan sifat dasar inilah pendidikan Islam
dirumuskan untuk membentuk insan muttaqin yang memiliki keseimbangan dalam
segala hal berdasarkan iman yang mantap untuk emndapatkan kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat. [11]
B. Telaah
Hasil Penelitian Terdahulu
1.
NAMA :
BUSTANUL
YULIANI
JUDUL : Internalisasi
Nilai Religius dalam pendidikan Karakter Melalui pembelajaran PAI di MAN 2 Ponorogo tahun
Ajaran 2011/2012.
HASIL : 1) internalisasi nilai religius bersyukur
kepada Tuhan dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran PAI di MAN 2
ponorogo dengan memberikan contoh, pesan, motivasi, terkait dengan rasa
bersyukur kepada Tuhan. Guru juga membiasakan untuk berdoa sebelum dan sesudah
pelajaran dan mengawali pembelajaran dengan mengucapkan basmalah dan mengakhiri
dengan mengucap hamdallah. 2) internalisasi nilai religius mengagumi kebesaran
Tuhan dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran PAI di MAN 2 Ponorogo dengan
mengaitkan materi pelajaran dengan dorongan untuk mengagumi kebesaran Tuhan,
selain itu juga memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari, serta memberikan
pesan dan motivasi kepada peserta didik untuk meningkatkan ibadahnya, guru juga
memberikan teladan yang baik bagi peserta didik. 3) Dampak internalisasi nilai
religius dalam pendidikan karakter melalui pembelajaran PAI di MAN 2 Ponorogo
tahun ajaran 2011/2012 adalah ada
perubahan sikap peserta didik menjadi lebih baik, contohnya peserta didik senang
mengikuti pembelajaran PAI, peserta didik mengungkapkan syukur pada setiap
keadaan, peserta didik berdoa tanpa disuruh, peserta didik memperhatikan dan
memahami nasehat yang diberikan guru, peserta didik berjabat tangan dan menyapa
ketika bertemu dengan gurunya.
2.
NAMA :
NUR IMAMA TAUFIQIYAH
JUDUL : Internalisasi
Nilai Religius dalam Pengembangan Pendidikan Karakter melalui kegiatan
Kerohanian Islam di SMA Negeri 1 Ponorogo.
HASIL : 1) latar belakang kegiatan kerohanian Islam
di SMA Negeri 1 Ponorogo adalah memberikan kegiatan yang mengarahkan anak pada
keimanan dan ketakwaan untuk membentengi dari pengaruh negative dan mengimbangi
kemampuan akademisnya dengan kerohanian, sebagai kader-kader dakwah. 2)
bentuk-bentuk kegiatan kerohanian Islam di SMA Negeri 1 Pononorogo dibagi
menjadi tiga, kegiatan jangka panjang, pendek dan menengah, yang dimasukkan ke
dalam departemen PSDI, keta’miran, Media dakwah dan Humas. 3) Nilai-nilai
religius dalam kegiatan kerohanian Islam di SMA Negeri 1 Ponorogo yaitu mencakup
6 nilai religius yang terdapat dalam rukun Iman. 4) perilaku siswa-siswi
setelah mengikuti kegiatan kerohanian Islam di SMA Negeri 1Ponorogo mengalami
perubahan kearah positif sesuai ajaran Islam, baik dari perilaku maupun
ibadahnya.
VIII.
Metode Penelitian
A. Pendekatan
dan jenis Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan pendekatan
kualitatif. Penelitian kualitatif yang bermaksud untuk memahami fenomena
tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi,
motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik dan dengan cara deskripsi
dalam benruk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan
dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.[12]penelitian
kualitatif dieksplorasi dan diperdalam dari fenomena sosial atau lingkungan sosial
yang terdiri atas pelaku, kejadian, tempat, dan waktu. Latar sosial tersebut
digambarkan sedemikian rupa sehingga dalam melakukan penelitian kualitatif
mengembangkan pertanyaan dasar, apa dan bagaimana kejadian itu terjadi, siapa
yang terlibat dalam kejadian tersebut, kapan terjadinya, di mana tempat
kejadiannya.[13]
B. Kehadiran
Peneliti
Ciri khas penelitian kualitatif tidak dapat
dipisahkan dari pengamatan berperan serta, sebab peranan penelitilah yang
menentukan keseluruhan skenario. Untuk itu, dalam penelitian ini, peneliti
bertindak sebagai instrument kunci, partisipan penuh sekaligus pengumpul data,
sedangkan instrumen yang lain sebagai penunjang.
C. Lokasi
penelitian
Lokasi penelitian ini adalah SMP Negeri 4 Ponorogo
yang beralamat di jalan Jenderal Sudirman No. 92. Ponorogo. Peneliti memilih
lokasi ini karena pada sekolah ini diadakan kegiatan penanaman nilai-nilai
ibadah bagi para siswa-siswi dalam
membentuk perilaku keberagamaan siswa-siswi agar kelak dapat menjadi manusia
yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan dapat menghargai perbedaan
terhadap sesama.
D. Data
dan Sumber Data
1. Data
Data yang diperoleh berupa kata-kata dari hasil
wawancara, observasi, dan dokumentasi yang mana data-data tersebut berisi
tentang pemahaman nilai-nilai ibadah, perilaku kebergamaan, dan faktor
pendukung dan penghambat internalisasi nilai-nilai ibadah dalam membentuk
perilku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
2. Sumber
Data
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian ini
adalagh subjek dari mana data dapat diperoleh.[14]
Adapun untuk memperoleh data dalam penelitian ini menggunakan sumber data
sebagi berikut:
a) Tempat
penelitian, peneliti melakukan observasi di
SMP Negeri 4 Ponorogo.
b) Manusia,
wawancara dilakukan kepada Guru PAI SMP Negeri 4 Ponorogo.
c) Paper
meliputi buku-buku yang relevan dalam penelitian ini.
E. Teknik
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi
wawancara,observasi, dan dokumentasi.
1. Wawancara
Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh
pewawancara untuk memperoleh informasi terwawancara.
Wawancara digunakan untuk menilai keadaan seseorang,
misalnya untuk mencari data tentang variable, latar belakang murid, orang tua,
pendidikan, perhatian sikap terhadap seseuatu.[15]
Wawancara dilakukan melalui proses tanya jawab lisan
secara langsung kepada beberapa pihak,
baik dengan guru Pendidikan Agama Islam, ataupun dengan siswa-siswi SMP negeri 4 Ponorogo. Untuk
memperoleh data yang ada kaitannya dengan internalisasi nilai-nilai ibadah yang
ada di SMP Negeri 4 Ponorogo.
2. Observasi
Observasi merupakan sebuah teknik pengumpulan data
yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan
dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda, waktu, peristiwa, tujuan,
dan perasaan.[16]
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan data mengenai hal-hal atau
variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah dan
lain-lain.[17]
Dalam melakukan penelitian ini metode
dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang gambaran umum SMP Negeri
4 Ponorogo serta kegiatan penanaman nilai-nilai ibadah yang ada di sekolah
tersebut.
F. Teknik
Analisi Data
Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan
dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya
menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan
pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa
yang dapat diceritakan kepada orang lain. Menurut Miles dan Huberman ada tiga
macam kegiatan analisis data kualitatif:
1. Reduksi
Data
Reduksi data merujuk pada proses pemilihan,
pemfokusan, penyederhanaan, abstarksi, dan pentransformasian “data mentah” yang
terjadi dalam catatan-catatan-catatan lapangan tertulis. Sebagaimana
pengumpulan data berproses, terdapat beberapa episode selanjutnya dari reduksi
data (membuat rangkuman, pengodean, membuat tema-tema, membuat
pemisahan-pemisahan, menulis memo-memo). Rduksi data/pentransformasian proses
terus-menerus setelah kerja lapangan hingga akhir lengkap.
Reduksi data bukanlah sesuatu yang terpisah dari
analisis. Ia merupakan bagian dari analisis. Pilihan-pilihan penelitian
potongan-potongan data untuk diberi kode, untuk ditarik keluar, dan rangkuman
pola-pola sejumlah potongan, apa pengembangan ceritanya, semua merupakan
pilahan-pilahan analisis. Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang
mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang dan menyusun data dalam suatu cara
di mana kesimpulan akhir dapat digambarkan dan diverivikasi.
2. Model
Data (Data Display)
Kita mendefinisikan “model” sebagai suatu kumpulan
informasi yang tersusun yang membolehkan pendeskripsian kesimpulan dan
pengambilan tindakan. Bentuk yang paling sering dari model data kualitatif
selama ini adalah teks naratif. Teks (dalam bentuk katakanlah 3.600 halaman
dari catatan lapangan) adalah kesulitan yang mengerikan. Teks tersebut
berserakan, berurutan, tidak beraturan, dan sangat luas. Dibawah keadaan
demikian, adalah mudah bagi peneliti kualitatif untuk melompat dengan
terburu-buru, secara parsial, kesimpulan tidak ditemukan.
3. Penarikan
(Verifikasi Kesimpulan)
Reduksi data, model data, dan penarikan/verifikasi
kesimpulan, sebagai antar jalinan sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data
dalam bentuk parallel, untuk menyusun domain umum yang disebut “analisis”.
Ketiga tahap tersebut dapat digambarkan
sebagaimana terlihat pada gambar berikut.
![]() |
|||
Dalam tinjauan ini ketiga jenis aktivitas analisis
dan aktivitas pengumpulan data itu sendiri membentuk suatu proses siklus
interaktif. Peneliti secara mantap bergerak bolak-balik dinatara reduksi data,
model, dan penarikan/ verifikasi kesimpulan untuk sisa studi tersebut.[18]
G. Pengecekan
Keabsahan Temuan
Dalam bagian ini peneliti mempertegas teknik apa
yang digunakan dalam mengadakan pengecekan keabsahan data yang ditemukan.
Berikut beberapa teknik yang digunakan untuk mengecek keabsahan selama proses
penelitian:
1. Perpanjangan
keikutsertaan
Perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti tinggal
di lokasi penelitian samapai mencapai kejenuhan dalam pengumpulan data
tercapai. Apabila hal itu dilakukan membatasi gangguan dari dampak peneliti
pada konteks, membatasi kekeliruan peneliti, mengonpensasikan pengaruh dari
keajdian-kejadian yang tidak biasa,perpanjangan keikutsertaan penliti akan
memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan.
2. Ketekunan/Keajegan
Pengamatan
Kejugan pengamatan berarti mencari secara konsisten
interpretasi dengan berbagi cara dalam kaitannya dengan proses analisis yang
konstan atau tentatif.
3. Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data
yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang
paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya.
4. Pengecekan
dengan teman sejawat
Teknik pengecekan teman sejawat ini bermanfaat di
dalam membentuk kepercayaan, hal ini merupakan proses menunjukkan diri sendiri
kepada teman-teman peneliti yang merasa tidak tertarik dalam suatu acara
membuat parallel pembahasan analisis dan untuk tujuan menyelidiki aspek-aspek
dari inkuiri, apabila tidak demikian akan tetap implicit pada pemikiran
peneliti.[19]
H. Tahapan-tahapan
Penelitian
Tahapan-tahapan penelitian dalam penelitian ini ada
tiga tahapan dan ditambah dengan thap terakhir dari penelitian yaitu tahap
penulisan laporan hasil penelitian. Tahap-tahap penelitian tersebut adalah:
1. Tahap
pra lapangan, yang meliputi menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan
penelitian, mengurus perizinan, menjajaki dan menilai dan memanfaatkan
informasi, menyiapkan perlengkapan penelitian dan yang menyangkut persoalan
etika.
2. Tahap
pekerjaan lapangan, yang meliputi memahami latar penelitian dari persiapan dan
persiapan diri memasuki lapangan dan berperan serta sambil mengumpulkan data.
3. Tahap
analisis, yang meliputi analisis selama dan setelah pengumpulan data.
IX.
Sistematika Pembahasan
Untuk dapat memberikan gambaran mengenai penelitian
ini dapat disusun sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB
I : Pendahuluan
berisi tentang gambaran umum yaitu meliputi latar belakang masalah, fokus
penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode
penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB
II : Kajian
Teori Dan Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
Bab
ini menguraikan kajian teori, berfungsi untuk menjelaskan kerangka tentang
acuan teori yang digunakan sebagai landasan melakukan penelitian yang terdidri
dari pengertian internalisasi nilai religius, mengagumi kebesaran Tuhan dan
dampak internalisasi nilai religius, internalisasi nilai religius dalam
pengembangan pendidikan karakter melalui kegiatan kerohanian.
BAB
III: Pada bab ini berisi tentang
paparan data, yang berisi hasil penelitian di lapangan yang terdiri atas
gambaran umum lokasi penelitian yang berbicara tentang kegiatan ibadah yang dilaksanakan di SMP Negeri 4
Ponorogo. Sedangkan deskripsi data tentang usaha menanamkan nilai-nilai ibadah
untuk seluruh siswa.
BAB
IV: Pada bab ini berisi tentang
pembahasan hasil penelitian yang meliputi temuan-temuan dari hasil penelitian
dan analisis dari hasil penelitian yang telah dilakukan, yang berkaitan tentang
internalisasi nilai-nilai ibadah dalam membentuk perilaku keberagamaan
siswa-siswi SMP Ngeri 4 Ponorogo.
BAB
V: Penutup,
pada bab ini dimaksudkan untuk memudahkan bagi pembaca yang mengambil intisari
dari skripsi, yang berisi kesimpulan dan saran.
X.
Outline Daftar Isi Sementara
HALAMAN
SAMPUL
HALAMAN
JUDUL
LEMBAR
PERSETUJUAN PEMBIMBING
HALAMAN
PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
DAFTAR
TABEL
DAFTAR
GAMBAR
DAFTAR
LAMPIRAN
PEDOMAN
TRANSLITERASI
BAB
I: PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
B. Fokus
Penelitian
C. Rumusan
Masalah
D. Tujuan
Penelitian
E. Manfaat
Penelitian
F. Metode
Penelitian
1. Pendekatan
dan Jenis Penelitian
2. Kehadiran
Peneliti
3. Lokasi
Penelitian
4. Data
dan Sumber Data
5. Prosedur
Pengumpulan Data
6. Teknik
Analisis Data
7. Pengecekan
Keabsahan Temuan
8. Tahapan-tahapan
Penelitian
G. Sitematika
Pembahasan
BAB
II: INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILKAU KEBERAGAMAAN SISWA
A. Kajian
Teori
1. Nilai-nilai
ibadah
a. Pengertian
Ibadah
b. Hakikat
Ibadah
c. Tahap-tahap
Ibadah
d. Hikmah
pendidikan Ibadah
2. Perilaku
Keberagamaan
a. Penegrtian
Perilaku Keberagamaan
b. Perspektif
Tokoh Psikologi dan Sosiologi Tentang Konsep Keberagamaan
c. Perspektif Islam tentang konsep keberagamaan
B. Telaah
Hasil Penelitian Terdahulu
BAB
III: DATA PENELITIAN TENTANG
INTERNALISASI NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN
SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017
A. Data
Umum
1. Sejarah
Singkat SMP Negeri 4 Ponorogo
2. Letak
Geografis
3. Visi
Misi dan Tujuan Sekolah
4. Struktur
Organisasi SMP Negeri 4 Ponorogo
5. Sarana
dan Prasarana
B. Data
Khusus
1. Pemahaman
nilai-nilai ibadah siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
2. Perilaku
kebergamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
3. Faktor
pendukung dan penghambat internalisasi nilai-nilai ibadah dalam membentuk
perilaku keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
BAB
IV: ANALISIS DATA TENTANG INTERNALISASI
NILAI-NILAI IBADAH DALAM MEMBENTUK PERILAKU KEBERAGAMAAN SISWA-SISWI SMP NEGERI 4 PONOROGO
1.
Analisis data tentang pemahaman
nilai-nilai ibadah siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
2.
Analisis data tentang perilaku
kebergamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo
3.
Analisis data tentang faktor pendukung
dan penghambat internalisasi nilai-nilai ibadah dalam membentuk perilaku
keberagamaan siswa-siswi SMP Negeri 4 Ponorogo.
BAB
V: PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT
HIDUP PENULIS
SURAT
IJIN PENELITIAN
SURAT
TELAH MELAKUKAN PENELITIAN
PERNYATAAN
KEASLIAN TULISAN
XI.
Daftar Pustaka Sementara
Abdurrahman An-Nahlawi, Abdurrahman. Pendidikan
Agama Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani, 2004.
Ahmadi
Abu, dkk. Dasar-dasar Pendidikan Agama
Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Arikunto,
Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka
Cipta, 2002.
Arikunto,
Suharsimi. Prosedur Penelitian suatu
Pendekatan Praktik . Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006.
Emzir.
Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis
Data. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2011.
Ghony,M, Djunaidi dkk. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogjakarta: Ar Ruzz Media, 2012.
Masnun,
Mohammad. Lektur Jurnal Pendidikan Islam .Juni-Desember, 2008. Kantor STAIN
Cirebon Press.
Meleong,
Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Rosakarya, 2009.
Muntahibun,
Nafis, Muhammad. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras , 2011.
Suroso,
Nashori, Fuat, Ancok, Djamaludin. Psikologi
Islam Solusi Islam Atas Problem-problem Psikologi Yogyakarta: Pustaka
pelajar, 2004.
Tafsir,
Ahmad. Filasafat Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.
[1] Mohammad Masnun, Lektur Jurnal Pendidikan Islam (Juni-Desember,
2008), 223.
[2] Abu ahmadi dan Noor Salimi, Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam
(Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 239-241.
[3] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Agama Islam di Rumah Sekolah dan
Masyarakat (Jakarta: Gema Insani, 2004), 62.
[4] Rois Mahfudz, Al-Islam pendidikan Agama Islam
(Palangka Raya: Erlangga, 2011), 23.
[5]
Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Agama Islam di Rumah Sekolah dan
Masyarakat…62-63.
[6] Ahmad Tafsir, Filasafat Pendidikan Islam (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2008), 233-241.
[7] Ibid, 63-65.
[8] Ibid, 65-66.
[9] Ibid, 65-67.
[10] Djamaludin Ancok Fuat Nashori Suroso,
Psikologi Islam Solusi Islam Atas
Problem-problem Psikologi (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2004), 77.
[11] Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: Teras
, 2011), 151-153.
[12] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung:
Remaja Rosakarya, 2009), 6.
[13] M. Djunaidi Ghony dan Fauzan
Almanshur, Metodologi Penelitian
Kualitatif (Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2012), 25.
[14] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik
(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), 129.
[15] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek
(Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 132.
[16]
M.Djunaidi Ghony dan Fauzan
Almanshur, Metodologi Penelitian
Kualitatif…, 165.
[17]
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik…231.
[18] Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2011), 129-134.
[19]
M.Djunaidi Ghony dan Fauzan
Almanshur, Metodologi Penelitian
Kualitatif…, 320-324.

Komentar
Posting Komentar