PENGARUH PERSEPSI ACTIVE LEARNING DAN EMOSI SISWA TERHADAP PERILAKU AFEKTIF SISWA DALAM PEMBELAJARAN PAI SISWA KELAS X DI SMK PGRI 2 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017
PENGARUH PERSEPSI ACTIVE LEARNING DAN EMOSI SISWA TERHADAP PERILAKU
AFEKTIF SISWA DALAM PEMBELAJARAN PAI SISWA KELAS X DI SMK PGRI 2 PONOROGO TAHUN
PELAJARAN 2016/2017
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Ponorogo (STAIN)
Dalam Rangka Penyusunan Skripsi
OLEH:
SALISUL RIZKI
NIM: 210313275
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
2016
I.
JUDUL
PENELITIAN
PENGARUH
PERSEPSI ACTIVE LEARNING DAN EMOSI
SISWA TERHADAP PERILAKU AFEKTIF SISWA DALAM PEMBELAJARAN PAI SISWA KELAS X SMK
PGRI 2 PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2016/2017
II.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Belajar
merupakan serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan
lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik.[1]
Salah
satu faktor yang mempengaruhi proses belajar adalah faktor guru dan cara
(metode) mengajar, bagaimana sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya
pengetahuan yang dimiliki guru dan bagaimana cara guru mengajarkan kepada
peserta didiknya.[2]Sedangkan
mengajar adalah pengambilan keputusan dan pembuatan keputusan yang tepat
memerlukan diagnosisi yang baik. Tanpa diagnosis yang baik guru cenderung
mengajar apa saja dengan cara yang sama terhadap semua siswa dan sebagai
akibatnya pengajaran menjadi membosankan, menimbulkan frustasi dan
ketidakberhasilan.[3]
Keberhasilan Pendidikan disekolah dapat dilihat dari sejauh mana
tujuan pembelajaran itu dapat terealisasikan. Secara umum, hal ini dapat dilihat
dari hasil belajar yang diperoleh peserta didik
dari sekolah itu sendiri dalam setiap periodenya. Hasil belajar
merupakan tolak ukur yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan
siswa dalam mengetahui suatu
pembelajaran. Dari proses belajar mengajar, diharapkan siswa memperoleh hasil
belajar yang baik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah di tetapkan. Hasil belajar merupakan penguasaan yang
diperoleh siswa setelah belajar mengajar, baik dalam segi pengetahuan, sikap,
maupun keterampilan.[4]
Kurikulum
2013 dalam penilaiannya terdapat 3 (tiga) ranah yang menjadi penilaian
utamanya, yakni: ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Ketiga
ranah tersebut merupakan suatu yang fatal yang harus terpenuhi terutama dalam
pencapaian kompetensi dan merupakan ukuran standar kompetensi lulusan.Didalam
ranah kognitif ini sebagian besar diberikan dan dikembangkan kepada peserta
didik bahkan dari kurikulum terdahulu yang diutamakan adalah ranah kognitif.
Kemudian ranah psikomotorik, dalam ranah ini peserta didik dituntut untuk bukan
hanya mengetahui tapi juga mampu mengembangkan dan menerapkan apa yang telah
diperolehnya dalam pendidikan. Sedangkan ranah afektif ini difokuskan untuk
bagaimana materi yang telah diterima oleh peserta didik dapat diambil
nilai-nilai luhurnya, menghayati apa yang terkandung dalam materi tersebut
sehingga peserta didik bukan hanya mengetahui dan mau mengeksplorasi
pengetahuan tapi juga mampu untuk menerapkannya dalam kehidupan berupa perilaku
dan tindak tanduknya dalam kehidupan yang lebih luas.
Lebih
lanjut tingkah laku afektif adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman
perasaan, seperti takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was
dan sebaginya. Tingkah laku ini tidak terlepas dari pengaruh pengalaman belajar
siswa, sehingga hal ini dianggap sebagai perwujudan perilaku belajar.[5]
Dari
penjelasan diatas telah dikatakan bahwa salah satu factor yang menentukan
perilaku afektif siswa adalah pengalaman belajar yang didapatkan oleh siswa,
sehingga secara tidak langsung hal ini mengarah pada bagaimana seorang guru
mampu mengolah kelas dan kemampuan guru untuk menyampaikan materi.Sedangkan
telah jelas bagaimana karakteristik dalam kurikulum 2013, bahwasannya peran
guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator yang mengarahkan peserta
didik pada materi dan murid dituntut untuk aktif dalam pembelajaran serta mencari
pengetahuannya secara mandiri. Dengan kata lain metode yang sering digunakan
dalam pembelajaran adalah berbasis pembelajaran aktif karena disesuaikan oleh
kurikulum yang digunakan.
Pembelajaran
aktif atau dalam istilah biasa disebut dengan active learning merupakan salah satu metode pembelajaran yang
mengutamakan pada pemahaman peserta didik.Didalam metode ini terdapat banyak
strategi yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran
untuk mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri yakni agar peserta didik
dapat mengerti dan memahami materi serta menguasainya sesuai dengan tiga ranah
(kognitif, psikomotorik dan afektif).
Lalu
pertanyaan selanjutnya adalah apakah setiap strategi yang digunakan oleh guru
dalam pembelajaran selalu sukses?Apakah setiap peserta didik mampu mencapai
tujuan pembelajaran dengan sukses?Adakah akibat yang ditimbulkan jika strategi
yang diterapkan tidak sesuai sasaran terutama bagi peserta didik?
Untuk
menjawab pertanyaan diatas tentu hal ini membutuhkan berbagai pandangan dan
pendapat atau persepsi dari peserta didik karena yang menerima dan mendapatkan
pengalaman belajar adalah peserta didik.Sehingga sangatlah penting untuk
mengetahui bagaimana pembelajaran tersebut berjalan, apakah sesuai dengan
kemampuan mereka, apakah mereka memahami materi yang disampaikan oleh guru dan
bagaimana menurut mereka terhapad metode yang digunakan dalam pembelajaran
dapat berlangsung dengan efektif, menyenangkan dan mampu menghantarkan mereka
pada pemahaman secara maksimal.
Selanjutnya
dikatakan pula pada definisi perilaku afektif yakni segala perilaku yang
menyangkut keanekaragaman perasaan baik marah, senang, takut, gembira maupun
kecewa yang mana hal ini termasuk dalam ranah psikologis peserta didik yang
dinamakan dengan emosi.Sedangkan emosi merupakan bentuk manifestasi dari
keadaan emosional pada diri seseorang yang timbul dari rangsangan-rangsangan
yang timbul dari luar. Keadaan emosional itulah yang nantinya akan mempengaruhi
perilaku afektif siswa sebagai manifestasi hasil belajar mereka.
Apakah
hal ini penting diketahui oleh guru dalam mengajar?Apakah emosi mempunyai
pengaruh yang besar terhadap hasil belajar siswa dalam ranah afektif?Apakah
mengetahui kondisi emosional siswa penting bagi guru dalam pembelajaran?
Sementara
itu dalam Pendidikan Agama Islam perilaku afektif merupakan tujuan terpenting
dalam pembelajaran, yang mana sebagian besar materi yang disampaikan adalah
mengenai akhlak, perilaku dan muamalah yang biasanya dilakukan dalam kehidupan
sehari-hari. Meskipun kebanyakan Pendidikan Agama Islam dianggap pelajaran yang
kurang menarik, pelajaran yang tidak penting dan terkadang juga dianggap
pelajaran yang membosankan, namun hal ini merupakan suatu tantangan bagi guru
untuk membuat perubahan dan mengubah pandangan peserta didik tentang Pendidikan
Agama Islam disekolah salah satunya adalah dengan menggunakan metode
pembelajaran yang menarik dan efektif serta dengan memperhatikan tingkat emosi
peseta didik.
Berdasarkan
uraian latar belakang diatas kami selaku peneliti ingin melakukan penelitian
dengan judul “PENGARUH PESERSEPSI ACTIVE LEARNING DAN EMOSI SISWA TERHADAP
PERILAKU AFEKTIF SISWA DALAM PEMBELAJARAN PAI KELAS X SMK PGRI 2 PONOROGO TAHUN
PELAJARAN 2016/2017”
III.
BATASAN
MASALAH
Batasan
masalah dalam penelitian ini hanya sampai pada perilaku afektif siswa kelas X
SMK PGRI 2 Ponorogountuk mengetahui tinggi rendahnya pengaruh metode active learning dan emosi siswa terutama
dalam pembelajaran PAI kelas X SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017.
IV.
RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaiman
persepsi metode active learning siswa
dalam pembelajaran PAI dikelas X SMK PGRI 2 Ponorogo tahun ajaran 2016/2017?
2. Bagaimana
emosi siswa dalam pembelajaran PAI dikelas X SMK PGRI 2 Ponorogo tahun ajaran
2016/2017?
3. Bagaimana
perilaku afektif sebagai manifestasi hasil belajar siswa dalam pembelajaran PAI
kelas X SMK PGRI 2 Ponorogotahun ajaran 2016/2017?
4. Adakah
pengaruh persepsi metode active learning dan emosi siswa terhadap
perilaku afektif siswa dalam pembelajaran PAI kelas X SMK PGRI 2 PonorogoTahun
Ajaran 2016/2017?
V.
TUJUAN
PENELITIAN
1. Untuk
mengetahui bagaimana persepsi siswa terhadap metode active learning dalam pembelajaran PAI dikelas X SMK PGRI 2
Ponorogo tahun ajaran 2016/2017
2. Untuk
mengetahui emosi siswa kelas X SMK PGRI 2 Ponorogo tahun ajaran 2016/2017
3. Untuk
mengetahui perilaku afektif siswa sebagai manifestasi hasil belajar siswa dalam
pembelajaran PAI kelas X SMK PGRI 2 Ponorogo tahun ajaran 2016/2017
4. Untuk
mengetahui pengaruh persepsi active
learning dan emosi siswa terhadap perilaku afektif siswa dalam pembelajaran
PAI kelas X SMK PGRI 2 Ponorogo tahun ajaran 2016/2017
VI.
MANFAAT
PENELITIAN
1. Manfaat
Teoritik
Dengan mengetahui besar
kecilnya pengaruh dari metode active
learning dan emosi siswa dalam pembelajaran, maka akan membuktikan dan
menyajikan fakta bahwa perilaku afektif dapat dipengaruhi dari metode yang
digunakan oleh guru dan keadaan emosi siswa berupa perilaku emosional sebagai
wujud manifestasi rangsangan yang diterima paserta didik dari luar.
2. Manfaat
Bagi Lembaga
a. Siswa
Dengan adanya
penelitian ini diharapkan siswa kedepannya untuk lebih dapat mengenali diri
mereka sendiri dan mampu mengendalikan emosi mereka serta mewujudkan emosinya
tersebut pada perilaku yang lebih bermanfaat bagi diri siswa sendiri.
b. Guru
Dengan mengetahui
berbagai persepsi siswa mengenai metode active
learning yang biasanya mereka terapkan dalam pembelajaran dan mengetahui berbagai
emosi siswa yang beragam, maka dengan adanya penelitian ini diharapkan guru
lebih mengoptimalkan pembelajaran yang beragam sesuai dengan keadaan emosi
siswa agar manifestasi perilaku afektif dapat terbentuk secara maksimal dan
sesuai dengan tujuan pembelajaran terutama dalam pembelajaran PAI.
c. Sekolah
Untuk lebih
memperhatikan perilaku afektif siswa dalam pembelajaran terutama dalam
penerapan kurikulum 2013 yang merupakan salah satu ranah terpenting dalam
pencapaian kompetensi, yang mana dalam hal tersebut metode pembelajaran dan
emosi siswa merupakan salah satu hal yang mempengaruhi manifestasi perilaku
afektif siswa.
VII.
LANDASAN
TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A.
LANDASAN
TEORI
1. PERSEPSI
a. Pengertian
Persepsi
Berasal
dari Bahasa Inggris “perception” yang
diambil dari Bahasa Latin “perceptio”
yang berarti menerima atau mengambil. Sedangkan dalam kamus besar Bahasa
Indonesia, kata perception diartikan
dengan “penglihatan” dan “tanggapan” (Echols & Shadily, 1997). Menurut
Levitt, (1978), perception dalam
pengertian sempit adalah “penglihatan”, bagaimana cara seseorang melihat
sesuatu; sedangkan dalam arti luas, perception
adalah “pandangan”, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan
sesuatu.Chaplin (2002) mengartikan persepsi sebagai “proses mengetahui atau
mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indra.”
Dari
beberapa pendapat tokoh diatas dapat dipahami bahwa persepsi adalah proses
penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki untuk memperoleh dan
menginterpretasi stimulus (rangsangan) yang diterima oleh sistem alat indera manusia.[6]
b. Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Persepsi
Persepsi
adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang
diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.Persepsi ialah
memberikan makna pada stimulus indrawi (sensory stimuli). Diantara
faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi diantaranya adalah:
1) Perhatian
Perhatian
merupakan proses mental ketika stimulus atau rangkaian system menjadi menonjol
dalam kesadaran pada saat stimulus lainnya melemah. Perhatian terjadi apabila
kita mengonsentrasikan disi pada salah satu alat inderar kita dan
mengenyampingkan masukan-masukan melalui alat indera yang lain.
2) Faktor Fungsional
Faktor fungsional berasal
dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang yang termasuk apa yang
kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Diantara hal-hal yang menentukan
parsepsi berdasarkan factor fungsional diantaranya adalah: kondisi biologis,
kelompok sosial, kebutuhan biologis dan suasana mental.
3) Faktor Struktural
Faktor-faktor strutural berasal
semata-mata dari sifat stimulus fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya
pada sistem saraf individu.Menurut teori Gestalt bila kita mempersepsi sesuatu,
kita mempersepsinya sebagai suatu keseluruhan.Sedangkan Kohler mengatakan yang
intinya adalah untuk memahami seseorang, kita harus melihatnya dalam
konteksnya, dalam lingkungannya dan dalam masalah yang dihadapinya.[7]
c. Mekanisme
Persepsi
Persepsi lebih kompleks
dan luas dari pengindraan (mendengar, melihat atau merasakan). Persepsi
meliputi suatu interaksi rumit yang melibatkan setidaknya tiga komponen utama,
yaitu: seleksi, penyususnan dan penafsiran.
1) Seleksi
Adalah
suatu proses penyaringan oleh indera terhadap stimulus. Dalam proses ini,
struktur kognitif yang telah ada dalam kepala akan menyeleksi, membedakan data
yang masuk dalam memilih data mana yang relevan sesuai dengan kepentingan
dirinya. Seleksi perceptual ini tidak hanya bergantung pada
determinan-determinan utama dari perhatian seperti: intensitas, kualitas, kesegeraan,
kebaruan, gerakan dan kesesuaian dengan muatan kesadaran yang telah ada
melainkan juga bergantung pada minat, kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai yang
dianut.
2) Penyusunan
Merupakan
proses mereduksi, mengorganisasikan, menata, atau menyederhanakan informasi
yang kompleks kedalam suatu pola yang bermakna. Sesuai dengan teori Gestalt,
manusia secara alamiah memiliki kecenderungan tertentu dalam melakukan
penyederhanaan struktur didalam mengorganisasikan objek-objek perceptual.
Berdasarkan hal ini, Gestalt mengajukan beberapa prinsip-prinsip tentang
klecenderungan manusia diantaranya adalah: prinsip kemiripan, prinsip
kedekatan, prinsip ketertutupan dan kelengkapan, prinsip searah, dll.
3) Penafsiran
Adalah proses
menerjamahkan atau menginterpretasikan informasi atau stimulus kedalam bentuk
tingkah laku sebagai respon. Dalam proses ini, individu membangun kaitan-kaitan
antara stimulus yang dating dengan struktur kognitif yang lama dan membedakan
stimulus yang dating untuk member makna berdasarkan hasil interpretasi yang
dikaitkan dengan pengalaman sebelumnya dan kemudian bertindak atau bereaksi.
Tindakan ini dapat berupa tindakan tersembunyi (seperti: pembentukan pendapat,
sikap) dan dapat pula berupa tindakan terbuka atau perilaku nyata.[8]
2. EMOSI
Emosi
berasal dari bahasa Latin “movere”
yang berarti menggerakkan, bergerak.Kemudian ditambah dengan awalam ‘e’ untuk memberi arti “bargerak
menjauh”.Makna ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan
hal mutlak dalam emosi.
Selain
itu emosi juga berasal dari kata e yang
berarti energi dan motion yang berrti
getaran. Emosi kemudian bias dikatakan sebagai sebuah energi yang terus
bergerak dan bergetar (Chia, 1985). Emosi dalam makna paling harfiah
didefinisikan sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu
dari setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap.Emosi merujuk pada suatu
perasaan-perasaan dan fikiran-fikiran yang khas, suatu keadaan biologis, psikologis
dan serangkaian kecenderungan bertindak (Golleman, 1997).
Seseorang
kadang-kadang masih dapat mengontrol keadaan dirinya sehingga emosi yang
dialami tidak tercetus keluar dengan perubahan atau-atau tanda kejasmanian
seperti wajah memerah ketika marah, air mata berlinang ketika sedih atau
terharu. Oleh hal ini, Ekman dan Friesen membagi emosi menjadi tiga macam yang
menggambarkan emosi seseorang, yaitu:
a. Masking, keadaan
seseorang yang dapat menyembunyikan atau menutupi emosi yang dialaminya. Emosi
yang dialaminya tidak tercetus keluar melalui ekspresi kejasmaniannya.
b. Modulation, yaitu
orang tidak dapat meredam secara tuntas mengenai gejala kejasmaniannya, tetapi
hanya mengurangi saja. misalnya karena marah yang dilakukan hanya menggerutu
todak sampai meledak-ledak.
c. Simulation, oeang
yang tidak mengalami suatu emosi tapi seolah-olah mengalami emosi dengan
menampakkan gejala-gejala kejasmanian.[9]
Emosi merupakan suatu gejala
psiko-fisiologis yang menimbulkan efek pada persepsi, sikap dan tingkah laku
serta mewujudkannya dalam bentuk ekspresi tertentu.Kesejahteraan psikologis dan
kebahagiaan seseorang lebih ditentukan oleh perubahan atau pengalaman emosional
yang dialaminya ha ini disebut sebagai afek.Emosi merupakan salah satu aspek
psikologi manusia dalam ranah afektif. Aspek psikologis ini sangat berperan
penting dalam kehidupan manusia pada umumnya dan dalam hubungannya dengan orang
lain pada khususnya.
Pada masa remaja, ekspresi emosi yang
tampak kadang-kadang tidak menggambarkan kondisi emosi yang sebenarnya,
misalnya orang yang marah belum tentu mengamuk atau bersikap agresif tetapi
justru kebalikannya yakni diam seribu bahasa.Ekspresi emosi sifatnya sangat
individual atau subyektif tergantung pada kondisi pribadi masing-masing orang.
Manifestasi emosi yang sering muncul pada remaja termasuk heightened emotionally atau meningkatnya emosi yaitu kondisi
emosinya berbeda dengan keadaan sebelumnya. Ekspresi meningkanta emosi ini
dapat berupa sikap bingung, emosi yang meledak-ledak, suka berkelahi, tidak ada
nafsu makan, tidak punya gairah apapun, atau mungkin sebaliknya melarikan diri
dengan cara membaca buku. Disamping kondisi emosi yang meningkat juga masih
dijumpai beberapa emosi yang menonjol pada remaja, termasuk khawatir, cemas,
jengkel, frustasi, cemburu, iri, rasa ingin tahu dan afeksi atau rasa kasih
saying serta peresaan bahagia.[10]
Menurut Coleman dan Hammen (dalam
Jalaluddin, 1989:46-47), terdapat empat fungsi dari emosi dalam kehidupan
manusia yaitu:
a. Emosi
berfungsi sebagai pembangkit, tanpa emosi manusi tidak sadar atau sama dengan
orang mati.
b. Emosi
berfungsi sebagai pembawa informasi, yang mana keadaan seseorang dapat
diketahui melalui emosi yang dialami.
c. Emosi
berfungsi sebagai komunikasi intrapersonal dan interpersonal
d. Emosi
berfungsi sebagai informasi tentang keberhasilan yang telah dicapai.[11]
3. PERILAKU
AFEKTIF
a. Pengeritan
Perilaku Afektif
Pandangan
tentang belajar menurut aliran tingkah laku, tidak lain adalah perubahan dalam
tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Atau
dengan kata lain, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal
kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus dan respon. Para ahli yang banyak berkarya dalam
aliran ini antara lain adalah: Thordike (1911), Watson (1963), Hull (1943) dan
Skinner (1968).[12]
B.F.
Skinner berasumsi bahwa perilaku adalah sesuatu yang alami dan sah yang
dipengaruhi variabel-variabel eksternal, serta perubahan perilaku pada
organisme dapat diukur dan diamati.Tugas seorang guru adalah menetapkan
perilaku kelas yang kompleks dan menempatkan perilaku kelas tersebut dibawah
pengendalian gambaran khusus lingkungan.[13]
Sedangkan
tingkah laku afektif adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman perasaan,
seperti takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan
sebaginya. Tingkah laku ini tidak terlepas dari pengaruh pengalaman belajar
siswa, sehingga hal ini dianggap sebagai perwujudan perilaku belajar. Seorang
siswa, misalnya dapat dianggap sukses secara afektif dalam belajar agama apabila
ia telah menyenangi dan menyadari dengan ikhlas kebenaran ajaran agama yang ia pelajari
lalu menjadikannya sebagai ”sistem nilai diri”. Kemudian pada gilirannya ia
menjadikan sistem ini sebagai penuntun hidup, baik dikala sedih maupun duka
(Darajat, 1985).[14]
b. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Perilaku Afektif
Secara
fundamental Dollar and Miller (Loree, 1970:136) menegaskan bahwa keefektifan
perilaku belajar itu dipengaruhi oleh empat hal, yaitu:
1) Adanya
motivasi (drives) yang mana siswa
harus menghendaki sesuatu
2) Adanya
perhatian dan mengetahui sasaran
3) Adanya
usaha dengan melakukan sesuatu
4) Adanya
evaluasi dan pemantapan hasil yang mengharuskan siswa memperoleh sesuatu
Sebagai hasil belajar dalam ranah
afektif terjapat jenis hasil belajar, indikator dan cara pengukurannya, yakni
sebagai berikut:[15]
Jenis
hasil belajar
|
Indikator-indikator
|
Cara
pengukuran
|
- Penerimaan
- Sambutan
- Penghargaan/ apersepsi
- Internalisasi/ pendalaman
- Karakterisasi/ penghayatan
|
- Bersikap menerima/menyetujui atau
sebaliknya
- Bersedia
terlibat/partisipasi/memanfaatkan atau sebaliknya
- Memandang penting/bernilai/berfaedah/indah/harmonis/kagum
atau sebaliknya
- Mengakui/mempercayai/meyakinkan
atau sebaliknya
- Melembagakan/membiasakan/menjelmakan
dalam pribadi dan perilakunya sehari-hari
|
- Pertanyaan/tes/skala sikap
- Tugas/observasi/tes
- Skala penilaian/tugas/observasi
- Skala sikap/tugas
ekspresif/proyektif
- Observasi/rugas
ekspresif/proyektif
|
Belajar terjadi bila muncul perubahan perilaku
pada diri siswa, baik dalam makna kognitif, afektif dan psikomotor.Perubahan
perilaku itu sangat mungkin, bahkan pasti demikian, tidak secara langsung dapat
diamati.Perubahan perilaku sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran merupakan
hasil dari interaksi seseorang dengan lingkungannya. Ada atau tidak aktifitas
pembelajaran individu dapat dilihat dari perubahan dalam salah satu lima
bidang:
1) Cara
mempersepsi lingkungan
2) Kemampuan
berfikir atau penalaran
3) Perilaku
fisikal atau keterampilan motorik
4) Reaksi
emosional atau sikap
5) Visi
kedepan
Aktifitas belajar yang bermakna mengacu pada
kelima jenis perubahan itu, dimana ia terjadi sebagai akibat dari pengalaman
yang didapat. Dengan demikian, belajar tidak dapat dijelaskan secara harfiah,
meski kondiai yang terjadi dapat diidentifikasi.Terjadi atau tidak terjadi
kondisi itu, tercermin dari perolehan pengalaman dengan perubahan perilaku
sebagai indikatornya. Guru dan instruktur harus memahami kondisi ini dan
penerapannya ketika belajar.[16]
B.
KERANGKA
BERFIKIR
1.
Jika persepsi siswa
terhadap metode active learning
tinggi, maka perilaku afektif siswa baik.
2.
Jika persepsi siswa
terhadap metode active learningrendah, makaperilaku afektif siswa buruk.
3.
Jika emosi siswa baik,
maka perilaku afektif siswa tinggi.
4.
Jika emosi siswa buruk,
maka perilaku afektif siswa rendah.
C.
PENGAJUAN
HIPOTESIS
Berdasarkan landasan
teori dan kerangka berfikir yang telah dijabarkan diatas, maka dapat dirumuskan
hipotesis sebagai berikut:
Ha
: Terdapat pengaruh persepsi active
learning dan emosi siswa terhadap perilaku afektif siswa dalam pembelajaran
PAI kelas XSMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017.
Ho
: Tidak terdapat pengaruh persepsi active
learning dan emosi siswa terhadap perilaku afektif siswa dalam pembelajaran
PAI kelas XSMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017.
VIII.
METODE
PENELITIAN
A.
RANCANGAN
PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini diklasifikasikan
dalam penelitian kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui adakan pengaruh ke
tiga variabel yang diamati dalam proses pembelajaran.
1.
Variabel X 1 : Adalah persepsi siswa terhadap
strategi active learning dalam
pembelajaran PAI kelas XSMK PGRI 2 Ponorogo tahun ajaran 2016/2017
2.
Variabel X2 : Adalah
emosi
siswa dalam pembelajaran PAI kelas XSMK PGRI 2 Ponorogo tahun ajaran 2016/2017
3.
Variable Y :
Adalah perilaku afektif siswa dalam pembelajaran PAI kelas XSMK
PGRI 2 Ponorogo tahun ajaran 2016/2017
B.
POPULASI
DAN SAMPEL
1.
Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri dari obyek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya.[17]
Dalam penelitian ini populasinya adalah s siswa kelas X SMK
PGRI 2 Ponorogo Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 70 siswa yang terdiri dari dua kelas dengan jurusan Teknik
Sepeda Motor yang masing-masing kelas terdiri dari 35 siswa.
2.
Sampel
Sampel adalah bagian jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan
peneliti tidak mungkin mempelajarinya semua yang ada pada populasi, misalnya
karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari
populasi.
Dalam pengambilan sampel ini, penelitian
menggunakan teknik probelity sampling, yaitu teknik sampling yang
memberikan peluang yang sama kepada anggota populasi untuk dipilih menjadi
sampel. Cara demikian disebut juga random sampling atau pengambilan
sampel secara acak.[18]
Untuk itu, ukuran sampel didasarkan
atas kesalah 5% dengan melihat tabel penentuan jumlah sampel dari populasi
tertentu yang dikembangkan Issac dan Michael. Jadi, sampel yang
diperoleh dengan tingkat kesalahan 5% dari jumlah populasi dalam penelitia 70.jumlah sampelnya adalah 60
. [19]
Untuk perhitungan sampel masing-masing kelas dapat dihitung menggunakan rumus:
Keterangan
:
n : Sample Keseluruhan
N : Populasi keseluruhan
C.
INSTRUMEN
PENGUMPULAN DATA
Tabel
Instrumen Pengumpulan Data
Judul Penelitian
|
Variabel
|
Indikator
|
Teknik
|
Pengaruh Persepsi Metode Active
Learning Dan Emosi Siswa Terhadap Perilaku Afektif Siswa dalam
pembelajaran PAI Kelas X
SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaran 2016/2017
|
Persepsi Metode Active Learning
|
1.
Guru menguasai materi pembelajaran
2.
Guru menggunakan strategi yang
beragam
3.
Siswa dilibatkan dalam pembelajaran
4.
Guru sebagai fasilitator dalam
pembelajaran
|
Angket
|
Emosi
Siswa
|
1. Siswa
menyukai pelajaran PAI
2. Siswa
membenci pelajaran PAI
3. Siswa bahagia
dalam pembelajaran
4. Siswa takut
saat pelajaran PAI
|
Angket
|
|
Perilaku
Afektif
|
1.
Siswa menunjukkan rasa ingin tahu
2.
Siswa antusias dalam pembelajaran
3.
Siswa aktif dalam pembelajaran
4.
Siswa terlibat langsung dalam
pembelajaran
5.
Siswa fokus dalam pembelajaran
|
Dokumentasi
|
D.
TEKNIK
PENGUMPULAN DATA
1.
Angket
Teknik yang digunakan untuk mengetahui bagaimana
persepsi siswa tentang metode active
learning dan emosi siswa adalah dengan menggunakan angket.Sedangkan skala
yang digunakan adalah skala Likert yang yaitu yang digunakan untuk mengukur
sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena
social. Dengan skala Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi
indikator, lalu dijadikan sebagai tolak ukur untuk menyusun item-item
instrument berupa pertanyaan atau pernyataan. Dan untuk keperluan analisis
kuantitatif, jawaban itu dapat diberi skor sebagai berikut:
Selalu (SL)
= 4
Sering (S) = 3
Kadang-kadang (KK)
= 2
Tidak Pernah (TP) =1[20]
2. Dokumentasi
Metode
ini digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa
catatan, transkrip, buku, notulen rapat dan sebagainya.[21]
Dalam
mengumpulkan data yang berkaitan dengan perilaku afektif siswa kami menggunakan
hasil belajar siswa dalam ranah afektif yang biasanya penilaian tersebut
terdapat dalam hasil belajar sekolah yang menerapkan kurikulum 2013.
E.
TEKNIK
ANALISIS DATA
1. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Merupakan suatu ukuran yang menunjukkan
alat ukur tersebut benar-benar mengukur indikator dari objek penelitian
(Santoso, 2015).Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah kuisioner yang
disusun tersebut itu valid atau sahih.Yang
diuji dalam penelitian ini adalah angket persepsi metode active learning.
Rumus yang
digunakan untuk mengukur instrumen tes dalam penelitian ini menggunakan rumus
korelasi product moment.
Dengan rumus:

Keterangan:
N : jumlah responden
X :nilai hasil uji coba
Y : nilai rata-rata harian
XY : jumlah hasil perkalian antara X dan Y
Sedangkan
alat pengumpulan data yang kedua adalah pengujian reliabilitas instrument yakni
dengan menggunakan rumus varian.
Dengan
rumus:
Rumus
varian masing-masing item (
)
Rumus
varian total (
)
Setelah itu untuk mendapatkan informasi
reliabilitasnnya, nilai koefesien alpha
cronbach (
) dibandingkan dengan
. Apabila nilai
≥
, maka instrument
penelitian dinyatakan reliabel. Berikut adalah rumus koefesien alpha cronbach.[22]
Keterangan:
K
=
banyaknya butir item
2. Uji Normalitas
Uji normalitas
disini digunakan untuk menjawab rumusan masalah nomor 1, 2 dan 3.Dalam analisis hasil penelitian ini menggunakan rumus uji
Lillifors. Dengan
menggunakan rumus sebagai berikut untuk rumusan maslah nomor 1 dan 2:
a.
Mencari Mean
b.
Mencari
Standar Deviasi:
Sedangkan
untuk menjawab rumusan masalah nomor 3 (variabel) adalah dengan menggunakan
rumus:
a.
Mencari Mean
b.
Mencari
Standar Deviasi
Keterangan:
dikuadratkan
dikuadratkan
Setelah
mengetahui hasil Mean dan SD yang digunakakan untuk menentukan tingkat persepsi
metode active learning, emosi siswa
dan perilaku afektif siswa apakah baik, cukup, kurang maka dibuat pengelompokkan
dengan rumus sebagai berikut:
a.
Skor lebih dari
mean + 1.SD adalah tingkat baik
b.
Skor kurang
dari Mean -1.SD adalah kurang
c.
Skor antara
Mean -1.SD sampai Mean +1.Sd adalah cukup[23]
Setelah dibuat
pengelompokan kemudian dicari frekuensinya dan hasilnya diprosentasikan dengan
rumus:
P =
x 100%
Keterangan :
P : Angka Prosentase
Fi : Frekuensi
n : Number Of Cases[24]
3. Uji Regresi Linier Berganda dengan 2 Variabel
Bebas
Sedangkan teknik analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan no 4
yaitu untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh persepsi metode active learning dan emosi siswa terhadap
perilaku afektif siswa dalam pembelajaran PAI, dalam penelitian ini menggunakan
teknik analis berupa analisis regresi linier berganda, dan rumusnya adalah
sebagai berikut:
Keterangan:
y : Variabel dependen
ȳ:Mean dari penjumlahan
variable y
n : Jumlah observasi
Untuk uji signifikan model dalam analisis
regresi linier berganda dapat dilakukan dengan menggunakan tabel Anova
(Analysis or Varians).
Hipotesis :
Ho :
0
(persepsi metode active learning dan
emosi siswa tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku afektif siswa
dalam pembelajaran PAI kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajara 2016/2017.
Ha :
(metode active
learning dan emosi siswa berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku
afektif siswa dalam pembelajaran PAI kelas X di SMK PGRI 2 Ponorogo tahun
pelajara 2016/2017.
Sumber Variasi
|
Degree
of Freedom (df)
|
Sum
of Square (SS)
|
Mean
Square (MS)
|
Regresi
|
P
|
SSR =
|
MSR=
|
Error
|
n-P-1
|
SSE=
|
MSR=
|
Total
|
n-1
|
Dari
perolehan hasil table anova, selanjutnya diujikan dengan rumus:
F hitung = 
F table = F α (P :
n-P-1)
Maka H0 ditola jika F
hitung ≥ F table
Sedangkan
untuk mengetahui tingkat pengaruh/koefesien determinasinya yaitu dihitung
dengan rumus:
Dimana
:
R²
Koefisien determinasi / proposi keragaman
/variabilitas total di sekitar nilai tenggah ȳ yang dapat dijelaskan oleh model
regresi (biasanya dinyatakan dalam persen).[25]
IX.
SISTEMATIKA
PEMBAHASAN
Sistematika
penyususnan laporan hasil penelitian kuantitatif ini nantinya akan dibagi
bagian utama, yaitu awal, inti dan akhir.Untuk memudahkan dalam penulisan, maka
pembahasan dalam laporan penelitian penulis kelompokkan menjadi lima bab yang
masing-masing bab terdiri dari sub bab yang berkaitan.
Sistematika
pembahasan ini adalah:
Bab
pertama, adalah pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, batasan
masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan
sistematika pembahasan.
Bab
dua, berisi landasan teori dan atau telaah penelitian terdahulu, kerangka
berfikir, dan pengajuan hipotesis.
Bab
ketiga adalah metode penelitian yang berisi rancangan penelitian, populasi,
sampel, intrumen pengumpulan data, teknik pengumpulan data, teknik analisis
data.
Bab
keempat adalah hasil penelitian yang berisi gambaran umum lokasi penelitian,
deskripsi data, analisis data ( pengajuan hipotesis), interprestasi dan
pembahasan.
Bab
kelima adalah penutupan yang berisi kesimpulan dan penelitian dan saran.
X.
OUTLNE DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
ABTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
PEDOMAN TRANSLITERASI
BAB I :
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
B.
Batasan
Masalah
C.
Masalah
D.
Tujuan
Penelitian
E.
Manfaat
Penelitian
F.
Sistematika
Pembahasan
BAB II : LANDASAN TEORI DAN ATAU TELAAH
HASIL PENELITIAN TERDAHULU, KERANGKA BERFIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A.
Landasan
Teori
B.
Telaah Hasil
Penelitian Terdahulu
C.
Kerangka
berfikir
D.
Pengajuan
Hipotesis
BAB III : METODE PENELITIAN
A.
Rancangan
Penelitian
B.
Populasi dan
Sampel
C.
Intrumen
Pengumpulan Data
D.
Teknik
Pengumpulan Data
E.
Teknik Analis
Data
BAB IV : HASIL PENELITIAN
A.
Gambaran Umum
Lokasi Penelitian
B.
Deskripsi
Data
C.
Analisi Data
( Pengujian Data)
D.
Interprestasi
dan Pembahasan
BAB V : PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Penutup
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN-
LAMPIRAN
RIWAYAT
HIDUP
SURAT
IZIN PENELITIAN
SURAT
TELAH MELKUKAN PENELITIAN
PERNYATAAN
KEASLIAN TULISAN
XI.
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur
penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Bachri Thalib,Syamsul. 2010. Psikologi Pendidikan Berbasis analisis
Empiris Aplikatif.Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Danim, Sudarwan dan Khairil. 2014. Psikologi Pendidikan Dalam Perspektif Baru.
Bandung: Alfabet.
Djamarah,Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hude, M. Darwis. 2006. Emosi. Jakarta: Erlangga.
Makmun, Abin Syamsuddin. 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Purwanto,M. Ngalim. 2007.Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi
Komunikasi. 2012. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Safaria, Trianto dan Eka Saputra,
Nofrans. 2009. Manajemen Emosi Sebuah
Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif Dalam Hidup Anda. Jakarta:
PT Bumi Aksara.
Sudijono, Anas. 2012. Pengantar
Statistik Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Sugiyono. 2015. Metode
Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Syah, Muhibin. 2009. Psikologi
Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Tohirin.2008.Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Uno, Hamzah B. 2008. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran.
Jakarta: PT Bumi aksara.
Wahab, Abdul Aziz . 2012. Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu
Pengetahuan SosialBandung: Alfabet.
Wahab,Abdul Aziz. 2012.Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu
Pengetahuan Sosial. Bandung: Alfabet.
Widyaningrum, Retno. 2013. Statistika.
Yogyakarta:Pustaka Felicha.
Wulansari, Andhita Dessy. 2012. Penelitian Pendidikan: Satuan Pendidikan
Praktik Dengan Menggunakan SPSS. Ponorogo: STAIN Ponorogo Press.
XII.
JADWAL
PENELITIAN
No
|
Kegiatan
|
November
|
Desember
|
Januari
|
Februari
|
Maret
|
April
|
1
|
Pembekalan Sripsi
|
ü
|
|||||
2
|
Pengajuan judul
|
ü
|
ü
|
||||
3
|
Penyusunan proposal
|
ü
|
|||||
4
|
Pengumpulan proposal
|
ü
|
|||||
5
|
Seminar proposal
|
ü
|
|||||
6
|
Ujian proposal
|
ü
|
|||||
7
|
Penulisan skripsi
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
8
|
Ujian munaqosah
|
ü
|
[2] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), 104-105.
[3]Abdul Aziz Wahab, Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial (Bandung:
Alfabet, 2012), 29.
[4] Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2008), 158-160.
[5]Muhibin Syah, Psikologi
Belajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), 125.
[6]Desmita, Psikologi Prkembangan Peserta Didik (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2012), 117-118.
[7]Jalaluddin
Rakhmat, psikologi Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), 50-57.
[8]Desmita, Psikologi Prkembangan Peserta Didik, 120.
[9] Trianto Safaria dan Nofrans Eka
Saputra, Manajemen Emosi Sebuah Panduan
Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif Dalam Hidup Anda (Jakarta: PT Bumi
Aksara, 2009), 12-13
[10] Syamsul Bachri Thalib, Psikologi Pendidikan Berbasis analisis
Empiris Aplikatif (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2010), 51-53.
[11] M. Darwis Hude, Emosi (Jakarta: Erlangga, 2006), 22
[12] Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran
(Jakarta: PT Bumi aksara, 2008), 51.
[13]Abdul Aziz Wahab, Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu
Pengetahuan Sosial (Bandung: Alfabet, 2012), 76-77.
[14] Muhibin Syah, Psikologi
Belajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), 125.
[15] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2007), 164-168.
[16] Sudarwan Danim dan Khairil, Psikologi
Pendidikan Dalam Perspektif Baru (Bandung: Alfabet, 2014), 120-121.
[17]
Sugiyono, Metode Penelitian, 117.
[18]Ibid.,
118-120.
[19]Ibid.,
128.
[20] Sugiyono, Metode Penelitian
Pendidikan ( Bandung: Alfabeta, 2015), 94.
[21]Suharsimi Arikunto, Prosedur
penelitian Suatu Pendekatan Praktik( Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 231.
[22]Andhita Dessy Wulansari, Penelitian Pendidikan: Satuan Pendidikan
Praktik Dengan Menggunakan SPSS (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press,2012), 90.
[23] Anas Sudijono, Pengantar
Statistik Pendidikan( Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), 175.
[24]Retno Widyaningrum, Statistika(
Yogyakarta:Pustaka Felicha, 3013), 20.
[25]Andhita Dessy Wulansari, Penelitian Pendidikan: Satuan Pendidikan
Praktik Dengan Menggunakan SPSS,125-130.
Komentar
Posting Komentar